
°°°~Happy Reading~°°°
" Saya serahkan Maura pada anda tuan... Tolong anda rawat dia dengan baik. Tolong anda obati penyakitnya, buat dia sembuh dan hidup normal seperti teman sebayanya... " Dengan tangan gemetar, Hanna mengusap wajah cantik putri kecilnya.
" Maura gadis yang ceria, namun selalu terkekang karena selalu saya larang ini dan itu. Bukan saya tidak ingin dia bahagia, saya hanya tidak ingin dia sakit setiap waktu. Namun, secara tidak langsung... saya merenggut kebebasannya, saya juga merenggut kebahagiaannya... Saya sadar itu... "
" Jadi, lebih baik... Maura bersama anda saja tuan... Saya yakin, jika Maura bersama anda, Maura... Akan jauh lebih bahagia... "
Hanna menarik nafas dalam, sesak yang hanya di rasa, meski hati begitu tak rela, namun apa daya, inilah yang terbaik untuk sang putri tercinta.
Hidup dengannya hanya menciptakan derita, tak ada kebahagiaan yang tercipta.
Hidup dengannya hanya membuat gadis kecil itu tak bisa menerbangkan sayap indahnya, mematahkan impiannya, membelenggunya dalam hidup serba kekurangan.
Membiarkan gadis kecil itu bersama sang daddy adalah pilihan satu-satunya. Laki-laki itu memiliki segalanya, uang, jabatan, juga kekuasaan. Dan dengan itu putri kecilnya yang rapuh itu akan bisa sembuh dari penyakitnya, hidup penuh kecukupan, tidak ada lagi hidup serba kekurangan, semua kebutuhannya akan terpenuhi tanpa harus berpeluh keringat.
Air mata itu semakin mengalir deras, membayangkan hidup terpisah dengan sang putri, membuat hatinya terasa begitu sesak, sakit yang hanya di rasa.
Mengapa ini begitu sulit ya Allah...
Hanna merintih dalam kebisuan, berkali-kali perempuan itu berusaha menguatkan hatinya yang rapuh dan butuh sandaran.
__ADS_1
Ini semua untuk putri kecilnya.
Kuatlah Hanna...
Tak apa jika ia akan hidup penuh derita, penuh rasa sepi yang menjalar dalam dada, tak apa jika ia harus menderita sendiri, tapi tidak dengan putri kecilnya.
" Tolong jaga Maura tuan... Tebuslah dosa-dosa anda dengan membuatnya bahagia, jangan sedikitpun menyakitinya, sudah cukup... sudah cukup selama ini dia hidup menderita dengan saya... sudah cukup... " Pinta Hanna dalam isak tangis yang teramat dalam, meski berusaha setegar apapun, namun nyatanya, air mata itu masih saja mengalir deras, menunjukkan betapa diri perempuan itu begitu lemah tak berdaya.
" Mommyh... " Lirih suara Maura mulai menyeruak, membuat Hanna bergerak cepat menghempaskan sisa isak yang masih menggenang di wajahnya, raut wajah sendu itu pun seketika berganti dengan senyum lebar seolah tak ada lagi kesakitan yang terpatri dalam benaknya.
" Ya sayang... Mommy di sini... " Di usapnya wajah sang putri dengan lembut penuh kasih sayang.
" Maura sudah bangun? Maura tidurnya lama sekali, sampai mommy kangen sama Maura... " Suara Hanna tersendat, bahkan rasa rindunya sudah berkubang dalam dada, menyeruak hebat meski perpisahan belum juga terlaksana.
" Mommyh... Kita di shullga ya myh... "
Ucapan sang putri itu sontak meluruhkan air mata Hanna, perempuan itu bangkit dari duduknya dengan penuh kesakitan, merengkuh tubuh mungil itu seolah tak rela jika harus melepaskan sang putri untuk selamanya.
" Tidak sayang... Jangan bicara seperti itu... Mengapa Maura bicara seperti itu, hmmn... " Isak Hanna dalam dekapan sang putri.
" Kata mommy, kalau di shullga... kita bisa puna llumah badus shepeulti lumah na Bobby, ada mainan banak-banak... " Sahut Maura dengan wajah polosnya, membuat Hanna sontak melepaskan rengkuhannya, menatap lekat-lekat wajah sang putri dengan mata sembab nya, di kec*pnya kening itu lamat-lamat.
__ADS_1
" Mommy meunnangish? "
" Tup tup tup... Mommy eundak bolleh nanit-nanit... Shiapa yang nakallin mommy, biall Molla mallahin, biall tau llasa... " Jemari mungil itu mengulur mengusap wajah sang mommy yang basah akan isak.
Di rangkum nya jemari tangan Maura yang menangkup wajahnya, mengusapnya lembut penuh kasih sayang.
" Mommy eundak bolleh nanit-nanit ladi, Molla eundak shuka... "
Hanna mengangguk dalam linang air mata yang mengalir deras tak bertepi.
" Maura janji tidak akan sakit-sakit lagi ya sayang... Mommy sayang sama Maura... " Rintih Hanna menahan isaknya, ia tak ingin menampilkan sisi rapuhnya di hadapan sang putri.
" Maafin Molla ya myh... Molla nakal, jadi tatit-tatit ladi... "
" Tidak... Ini bukan salah Maura... Ini salah Mommy sayang, maafin mommy sayang, maafin mommy... "
David hanya membisu di tempatnya, tak tahu apa yang harus dilakukannya, ia seolah lumpuh untuk sekedar mendekat pada dua sosok yang saling merengkuh dalam tangis haru itu.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
__ADS_1
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕