Secret Baby Girl

Secret Baby Girl
Hanna Tidak Sebaik itu


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


"Sebenarnya-- mas yang gusur rumah warga, Sayang... ."


Membuat Hanna seketika itu tersentak, "Apa!! Mas serius?!"


"Tadi udah janji ngga boleh marah loh Yang..." seru David mengingatkan. Bentakan Hanna nyatanya cukup membuat laki-laki itu ketar-ketir jika saja istrinya itu akan marah besar.


Hanna menghela nafas dalam. Pengakuan suaminya itu terlalu mengejutkan hingga membuatnya mengeraskan suara tanpa sadar.


Hanna khilaf.


"Jadi bener mas yang gusur rumah warga?" seru Hanna melirihkan suaranya.


"Iya... ."


"Kenapa?"


"Kamu tanya kenapa? Karena mereka sudah nyakitin kamu, Sayang. Mereka bahkan ngusir kamu di tengah malam padahal kamu ada Maura yang masih kecil. Mereka nggak punya hati, mereka semua sampah masyarakat yang harus di singkirkan."


"Mas benci saat mereka menertawakan kamu yang sedang menangis kesakitan. Mas benci saat melihat Maura menangis karena mengkhawatirkan kamu yang terluka. Mas ngga terima, Sayang... Mas ngga terima... ."


Mendengar hal itu, membuat Hanna seketika itu merengkuh tubuh kekar sang suami yang tengah terbakar api amarah.

__ADS_1


Kebencian yang sudah mendarah daging itu membuat laki-laki itu akhirnya meledak. David mengeluarkan semua amarah yang selama ini di pendamnya.


David benar-benar murka.


"Makasih mas udah peduli sama Hanna dan Maura. Mas ngga usah khawatir lagi, sekarang kami berdua sudah baik-baik aja. Sekarang udah ada mas yang lindungin kami. Mas tidak perlu melakukan apapun lagi untuk membahagiakan kami. Asalkan mas bersama kami, kami bahagia mas... ." ungkap Hanna tak dapat menahan haru saat suaminya itu mengungkapkan isi hatinya.


Membuat David seketika itu terperangah. Apa istrinya itu tidak marah dengan perbuatan kejinya?


"Jadi-- kamu nggak marah kan, Sayang?"


Dalam dekapan David, Hanna menggeleng. "Nggak, Hanna nggak marah, mas."


Membuat David akhirnya bisa bernafas lega.


"Bisakah mas mengembalikan rumah warga yang dulu mas gusur?".


"Maksudnya?"


Perlahan Hanna melepaskan rengkuhannya, di tatapnya manik itu penuh permohonan.


"Maksud Hanna, rumah warga yang dulu mas gusur itu, apa mas bisa membangunkannya kembali? Atau-- setidaknya mas memberikan mereka kompensasi?"


David masih bungkam, sejujurnya ia tak mengerti jalan pikiran sang istri. Bukannya bagus jika orang-orang yang dulu pernah menghinanya itu kini hidup dalam kesengsaraan?

__ADS_1


"Sebenarnya ini bukan sepenuhnya salah mereka, mas. Hanna juga bersalah. Saat itu Hanna memiliki seorang putri di luar nikah. Wajar jika mereka berpikir negatif tentang Hanna. Apalagi, saat Hanna membawa mas ke rumah, wajar jika mereka marah. Mereka hanya ingin melindungi kampung mereka, hanya cara mereka yang salah... ."


David menghembuskan nafas kasar, selembut inikah jalan pikiran sang istri? Merasa bersalah padahal ia yang selama ini disakiti?


"Sungguh kamu perempuan baik sayang... Bagaimana bisa kamu memaafkan orang-orang yang telah menyakitimu, heummm..." Tangannya mengulur mengusap lembut wajah sang istri yang berubah sendu. Sungguh beruntung dirinya bisa mendapatkan perempuan setulus itu.


"Hanna-- Hanna tidak sebaik itu, mas..." Perempuan itu menundukkan kepala, manik matanya yang mengembun kini menatap jemari-jemarinya yang saling bertaut.


"Hanna hanya tidak bisa membayangkan saat mereka kebingungan mencari tempat tinggal."


"Hanna pernah mengalami masa-masa sulit itu, mas. Berhari-hari mencari tempat tinggal, tapi tidak ada yang mau menerima. Hanya disana Hanna bisa sedikit diterima. Meski akhirnya tetap menjadi bahan pembicaraan, tapi setidaknya mereka memiliki sedikit hati nurani untuk memberikan sedikit ruang untuk Hanna bisa berteduh... ."


"Sungguh mas tidak sanggup membayangkannya, Sayang. Kamu perempuan kuat, mas benar-benar beruntung karena memiliki kamu di hidup mas. Maaf atas semua rasa sakit yang dulu pernah mas berikan. Mas janji, mas akan membahagiakan kamu dan anak-anak kita."


"Eungh... ."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy Reading semua


Saranghaja 💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2