
°°°~Happy Reading~°°°
"Loh kok malah pada main berdua. Katanya mau pergi sekarang, ini daddy udah siap loh..." tegur David yang baru saja keluar dari ruang closet dengan setelan kemeja putihnya.
"Daddy... Shini Daddy, kamming-kamming..." seru Maura melambai-lambai meminta sang daddy untuk mendekat.
*kamming : coming.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, laki-laki itu pun turut bergabung dengan istri dan juga putrinya yang masih terduduk di tepi ranjang.
"What happened, girl?"
"Daddy, tadi dedek bayi oek-oek na tendang-tendang pullut na mommy loh... Hihihi, Lutu..." kekeh Maura.
"Benarkah?"
"Iyyes, bunnall daddy. Molla no lai lai... ."
*Lai : lie/berbohong.
"Kalau gitu coba daddy yang usap ya..." pinta David menatap Hanna penuh dengan smirk yang menyungging di bibirnya.
Bilang saja jika laki-laki itu mencari kesempatan dalam kesempitan. Padahal jelas jika laki-laki itu sudah tau, bahkan sangat tau jika calon bayinya itu akan selalu aktif jika di usap-usap seperti itu.
"Woahhh, benar girl. Baby nya nendang-nendang... ."
"Bunnall kan daddy apa Molla kata... ."
__ADS_1
"Yes girl, you're right," seru David sembari terus mengusap perut buncit Hanna, membuat Maura lama-kelamaan menjadi kesal. Sekarang adalah gilirannya.
"Shudah-shudah... Daddy shana, gantian Molla dong, Daddy llakus..." seru Maura merebut tempat dimana tangan besar David tadi bertengger di atas perut sang mommy.
"Kan daddy baru sebentar girl," Tak ingin kalah, David kini menumpukan tangan besarnya di atas tangan mungil sang putri, membuat gadis kecil itupun semakin geram.
"Daddy minggill dong, ini gilillan na Molla daddy... ."
Dan keduanya pun kini saling berebut satu sama lain, membuat Hanna sontak menghela nafas dalam-dalam. Tidak anak tidak bapak, keduanya sama saja, tidak mau mengalah untuk urusan dedek bayi.
"Ini ngga jadi berangkat berarti?" Ancaman Hanna menggaung, membuat si kecil Maura sontak menghentikan aksinya, " jadi myh... Jadi jadi... ."
"Kalau jadi berangkat makannya jangan rebutan lagi, kan mommy jadi ngga bisa ganti baju... ."
"Itu daddy myh... shuka llebut-llebut... Kan tadi gilillan na Molla main shama dedek bayi oek-oek," sungut Maura tak terima.
"Kan daddy juga baru sebentar girl..." balas David sama tak terima.
"Sebentar girl."
"Lamma."
"Sebentar."
"Ngga jadi berangkat nih berarti?" Membuat Maura dan David sontak bungkam.
"Mommyh, jadi ya myh. Janji eundak llibut-llibut..." Bola matanya mulai berkaca-kaca, gadis kecil itu tak rela jika rencana hari ini akan gagal begitu saja.
__ADS_1
"Kalau gitu Maura sama daddy tidak boleh rebutan lagi, biar mommy ganti baju dulu... ."
"Iya deh iya, mommy ganti baju dullu shanna..." seru Maura memilih mengalah.
Namun sang daddy? Laki-laki itu malah makin mengusapkan telapak tangannya di atas perut buncit Hanna. Membuat Maura sontak murka.
"Ihhh... Daddy awash minggill... Mommy mau ganti baju dullu... ."
🍁🍁🍁
Hanna bersama dengan keluarga kecilnya kini tengah berjalan-jalan di area supermarket yang tak lain adalah salah satu cabang usaha milik sang suami.
Perempuan itu dengan perut buncitnya kini setia mengikuti langkah kaki sang putri yang tengah asik memilih barang-barang belanjaannya. Sedang David, sang bos besar yang biasanya tinggal memberikan perintah pada bawahannya, kini merelakan diri menjadi pendorong troli yang sudah dipenuhi oleh bahan-bahan sehari-hari.
Kenapa tidak menyuruh pelayannya saja untuk berbelanja? Tidak, David enggan melakukan itu kali ini. Karena dengan inilah mereka bisa menghabiskan waktu bersama di akhir pekan dengan cara berbeda sesuai kemauan sang istri. Berbelanja bersama.
Sepanjang mereka berbelanja, tak sedikit perempuan-perempuan yang melirik aksi David yang dengan setia membuntuti kedua bidadari nya. Bahkan tak jarang ada yang nekat mendekat atau sampai meminta nomor ponselnya. Membuat Hanna sontak merapatkan tubuhnya pada sang suami. Tangannya yang bebas kini melingkar posesif di lengan David seolah mempertegas kepemilikannya.
David diam-diam terpekik bahagia, tak biasanya istrinya itu bersikap posesif seperti ini. Hanna bukan tipikal yang agresif, perempuan itu bahkan sangat pemalu dan tak jarang tersipu hanya karena digoda olehnya.
"Kenapa sayang?" tanya David seolah buta akan kecemburuan yang tengah berkobar di mata bulat sang istri.
"Biar mas ngga tebar-tebar pesona lagi. Udah jadi bapak-bapak juga masih ganjen sama cewek." Sungut Hanna berapi-api.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
__ADS_1
Happy reading all
saranghaja 💕💕💕