
°°°~Happy Reading~°°°
Hanna menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya membuka kembali kisah masa lalunya.
"Mengandung Maura adalah hal terindah yang pernah Hanna alami, Mas. Hanna tidak pernah membayangkan sebelumnya jika ada sosok makhluk kecil yang mendiami perut Hanna." Hanna mengulas senyum saat mengingat masa-masa indah kehamilannya.
"Saat memasuki kehamilan 7 bulan, Maura semakin bergerak aktif. Menendang-nendang perut Hanna, bahkan sering membuat Hanna terjaga di tengah malam. Melelahkan sebenarnya, tapi Hanna menikmati masa-masa itu."
"Maura saat di kandungan dulu sebenarnya sangat pengertian mas, dia tidak rewel, bahkan cenderung mendengar setiap perkataan Hanna. Hanya Hanna saja yang kurang peduli dengan apa keinginannya."
"Terkadang Hanna merasa bersalah, saat dia menginginkan sesuatu, entah kenapa saat itu Hanna selalu saja tidak bisa mewujudkannya. Sampai suatu ketika, Hanna benar-benar ingin memakan buah stroberi di malam hari. Tapi Hanna benar-benar tidak memiliki uang, dan tidak ada seorang pun yang bisa Hanna andalkan untuk membantu Hanna membelikannya. Jadi Hanna hanya bisa menangis di kamar seperti anak kecil." Perempuan itu mengulas senyum. Merasa lucu dengan dirinya yang menangis sesenggukan hanya karena menginginkan stroberi di malam hari.
"Di saat menjelang kelahiran, Hanna masih bekerja. Hanna berkerja di toko roti. Saat itu, tiba-tiba perut Hanna sakit, membuat roti yang baru saja Hanna panggang terjatuh ke lantai. Nyonya Sania, pemilik toko roti itu marah besar pada Hanna." Hanna menghela nafas kasar, kejadian itu begitu membekas diingatnya. Kesakitan itu masih saja terasa menyesakkan dada.
__ADS_1
"Tapi saat itu, Hanna bahkan tidak sanggup meminta maaf. Perut Hanna terlalu sakit mas. Jadi nyonya Sania meminta Hanna keluar dari toko rotinya saat itu juga saking kesalnya. Bukan salah beliau. Karena Hanna memang sering membuat kesalahan hingga merugikan toko roti beliau."
"Untung saja saat itu ada teman Hanna yang mau mengantarkan Hanna ke rumah sakit dan menemani Hanna selama persalinan."
Hanna mengakhiri kisahnya, jemari tangannya kini mengusap lembut wajah sang suami yang terlihat berkabut.
"Mas sudah berjanji tidak akan kenapa-napa saat Hanna menceritakannya," peringat Hanna saat menatap pada wajah penuh penyesalan itu.
"Tapi Hanna bersyukur, Mas. Pada akhirnya, mas menjadi milik Hanna. Hanna bersyukur, akhirnya Allah membalas semua kesakitan itu dengan limpahan kebahagiaan. Mas, Maura, dan Lucien, adalah kebahagiaan terbesar Hanna. Hanna bersyukur Allah memberikan Hanna kesempatan untuk menjadi bagian dari keluarga kecil ini."
"Seharusnya mas yang berkata seperti itu, Sayang. Mas benar-benar beruntung karena Allah telah mengirimkan perempuan sehebat kamu untuk mas yang sangat brengs*k ini... ."
"Shhhht... Mas tidak boleh bicara seperti itu. Mas adalah anugerah terindah yang Allah kirimkan untuk Hanna. Suami terbaik yang selalu melimpahi Hanna dengan cinta yang tak ada habisnya."
__ADS_1
Sepasang suami istri itupun saling merengkuh menyalurkan setiap rasa cinta yang semakin nyata terasa.
"Dulu, siapa yang mengadzani Maura?" sahut David membuka kembali perbincangan.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Hari akan ada double up, di tunggu ya, hehehe
Happy reading
Saranghaja
__ADS_1