
°°°~Happy Reading~°°°
David POV
Aku duduk dengan perasaan yang terombang-ambing, tiga jam lamanya operasi berlangsung, namun belum juga menunjukkan tanda-tanda seseorang akan keluar dari ruangan mengerikan itu, membuatku semakin di landa frustasi, ketakutan-ketakutan itu semakin menggunung.
Bagaimana jika perempuan itu tak sanggup melewati masa kritisnya? Bagaimana jika ibu dari putriku itu benar-benar kehilangan nyawanya?
Ahhh... Sial...
Aku memekik frustasi, tidak seharusnya seperti ini, tidak, ini salah, ini salah. Bagaimana nasib putriku jika sampai kehilangan ibunya di usia sekecil itu, bagaimana jika ia merengek mencari ibunya dan bersikukuh ingin bertemu dengannya, alasan apa yang bisa aku gunakan untuk membuatnya mengerti?
Ku hembuskan nafas kasar, berusaha berpikir tenang. Perempuan itu pasti akan selamat, benarkan? Bukankah dia perempuan yang kuat? Jadi dia akan selamat bukan?
Aku mengusap wajah tak tenang, rasa sesal itu semakin mendera, penyesalan kian membuncah dalam dada. Mengapa aku tak bisa bersikap, mengapa ego itu selalu mengalahkanku, menghancurkan ku hingga ke titik terendah.
__ADS_1
Jika kalian ingin bertanya siapa laki-laki yang paling bodoh di dunia ini, maka jawabannya adalah aku.
Akulah laki-laki paling brengs*k yang telah dengan tega merenggut kesucian sosok perempuan baik-baik tanpa permisi, menitipkan benihku dalam rahimnya tanpa tanggung jawab sedikitpun, karena aku memang benar-benar tak mengerti perihal kehamilannya, mengenalnya pun tidak, bagaimana aku tahu kediamannya.
Melacaknya tak sulit untukku, namun aku terlalu acuh atas hubungan semalam itu, yang ada dalam otakku hanyalah satu, dia hanya perempuan murahan yang akan dengan tangan terbuka menerima setiap laki-laki yang ingin bermalam dengan nya.
Membuatku jijik dan memandang rendah dirinya.
Sampai satu malam, saat perempuan itu dan putriku di usir dari kampungnya dengan penuh hina, membuat emosiku tersulut, hatiku yang telah mati kini perlahan tersentuh oleh lelehan air mata yang mengalir deras membasahi wajahnya yang sudah memucat.
Aku memutuskan membawa mereka ke mansion ku, kegugupan membuatku tak bisa berfikir hingga tanpa sadar aku meletakkan putriku yang sudah tak sadarkan diri itu di kamar pribadiku, sedang perempuan itu harus tetap menemani putriku yang sering mengigau memanggil namanya, membuatku harus menyingkir dari kamar pribadiku sendiri, tidak mungkin aku tidur di sana, berbagi ranjang dengan perempuan itu, aku tak segila itu, kami tak ada hubungan apapun.
Hingga malam pun tiba, aku memutuskan masuk ke dalam kamar pribadiku untuk mengambil baju ganti, dan disaat itu, aku tersentak saat perempuan itu mengigau memanggil putriku dengan lantangnya, wajahnya terlihat memucat, air mata bahkan mengalir di wajahnya, ku lihat dia merengkuh erat tubuh putriku yang masih terlelap dalam tidurnya dengan tangis yang kian dalam, bibirnya meracau tak jelas, apa yang sebenarnya terjadi, mimpi apa yang membuat perempuan itu begitu terisak dengan merengkuh tubuh putriku?
Entahlah
__ADS_1
Aku tetap diam di posisiku, mematung disana sampai perempuan itu kembali terlelap dengan merengkuh putriku tanpa ketahuan.
Aku mendekati ranjang, menatap lekat wajah perempuan itu yang terlihat sembab, entah mengapa ada rasa aneh yang kini menjalar dalam dada, mengapa aku tak tega menatap wajah sendu itu, isakan pilu yang keluar dari mulut perempuan itu menambah rasa tak tega ku kepada nya, namun aku masih menepisnya, ini hanya rasa kemanusiaan, inilah bentuk tanggung jawabku.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Kang David lagi curhat tuh chingu
Dengerin ya😂
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕
__ADS_1