
°°°~Happy Reading~°°°
Hingga suatu hari, perempuan itu meminta berbicara empat mata denganku, aku menangkap gelagat aneh pada wajah itu yang terlihat sembab, langsung saja ku ajak dia berbicara di ruang kerjaku, sepertinya dia ingin berbicara serius denganku, pikirku.
Aku lebih memilih menatap pada pemandangan di luar kaca jendela, memunggunginya tanpa harus menatap wajahnya, bukan karena jijik atau muak menatap wajah itu, namun aku merasa tak tahan menatap wajah penuh isak itu lebih lama lagi, sungguh, itu yang ada di pikiranku.
Perempuan itu mulai mengutarakan maksudnya, aku tersentak saat mendengar jika ia akan meninggalkan kediaman ku, menyerahkan putrinya dalam pengasuhan ku, bahkan berjanji tak akan menemui putrinya hanya agar aku memberikan pengobatan terbaik untuk putri kandungku.
Isakannya terdengar lirih, namun aku masih diam mematung, tak menyahut atau menyangga sekalipun, ini terlalu mendadak, otakku seakan tak mampu berpikir, di depannya, membuatku sulit mengumpulkan pikiran jernih ku.
Hingga isakan itu terdengar semakin dalam, aku merasa tak tega, hatiku semakin gamang, tak tahu harus apa, membuatku hanya diam mematung dengan pikiran penuh kemelut tebal, hingga akhirnya perempuan itu memilih meninggalkanku dalam derai tangis yang tak berkesudahan.
Ku tuang wine dalam gelas kosong di depanku, perkataan perempuan itu begitu mengusik hatiku, membuatku semakin muak memikirkan sikap apa yang harus ku ambil, ku lampiaskan saja semua kegamangan ku itu dengan menenggak habis sebotol alkohol di depanku, hingga akhirnya kesadaran ku mulai menguap.
__ADS_1
Malam pun tiba, di saat itu aku terbangun dari tidur nyenyak ku, aku mendesis kesal, aku terlalu mabuk hingga membuat kepalaku terasa pusing. Ku tatap jam dinding di atas nakas, sudah pukul 10 malam, dan di saat itu pula aku tersadar, malam ini perempuan itu berjanji akan pergi dari kediaman ku.
Kaki ku refleks melangkah menuju kamar pribadiku dengan langkah terburu, aku berharap perempuan itu mengingkari janjinya sendiri dan memilih tidur nyenyak di atas ranjang empuk ku. Namun harapan tinggal harapan, saat ku dapati ranjang itu telah kosong menyisakan putri kecilku yang terlelap seorang diri.
Shhht...
Aku memekik frustasi, langsung ku turun ke lantai satu, menanyakannya pada pak Yi, dan benar saja, perempuan itu telah pergi setengah jam yang lalu, membuatku merutuk kesal, menyalahkan diriku yang tak pandai bersikap.
Ku lajukan mobil untuk mencarinya, dan benar saja, akhirnya aku berhasil menemukannya, namun bola mataku seketika memanas saat mendapati sekelompok preman jalanan datang mengganggunya, refleks aku turun dari mobil ku, belum sempat aku menolongnya, seorang perempuan sudah datang menolongnya dan membawanya pergi.
Hari-hari berlalu tanpa ada perempuan itu di kediaman ku, membuat Maura semakin rewel mencari ibunya, keadaannya kembali memburuk, gadis kecil itu kembali demam, membuatku tak punya pilihan lain, aku harus segera mempertemukan keduanya, secepatnya, setelah keadaan Maura benar-benar stabil dan siap bertemu dengan ibunya.
Hingga hari ini datang, ku lihat wajah putriku berbinar, senyum tak henti menghiasi bibir kecil nya, ada rasa lega yang menyelusup dalam dada, setidaknya ini yang bisa kulakukan untuk putri kecilku dan perempuan itu, aku tak ingin memisahkan keduanya untuk yang kedua kalinya, sudah cukup aku menancapkan luka yang begitu dalam di hati perempuan itu.
__ADS_1
Bayangan akan senyum indah kedua perempuan itu sudah terukir dalam benakku, tak sabar rasanya ingin mempertemukan sepasang ibu dan anak yang tengah merindu itu, pasti situasi nanti akan sangat mengharu biru, kedua insan yang saling merindu itu akan saling merengkuh erat melepas segala rindu yang membuncah.
Namun, harapan tinggal harapan, mimpi untuk menciptakan tawa di kedua bibir indah itu seketika lenyap saat sebuah mobil box melaju dengan kencangnya menyambar sepasang ibu dan anak itu.
Membuat keduanya terhempas dengan bersimbah darah, aku sontak tersentak, dunia seakan runtuh saat itu juga, dengan tangan gemetar aku merengkuh kedua perempuan yang telah berhasil mengobrak-abrik isi hatiku itu, bagaimana aku bisa hidup tanpa keduanya?
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Dah puas belum nih
Happy Reading
__ADS_1
Saranghaja 💕💕💕