Secret Baby Girl

Secret Baby Girl
Tente Dotell Dahat


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


Sesampainya di ruangan dokter, mereka langsung disambut hangat oleh dokter Erviani, salah satu dokter ortopedi yang selama ini menangani kasus cedera yang Hanna alami.


"Selamat siang tuan, nyonya..."


Mereka berbasa-basi sebentar, tak lupa dokter Erviani menanyakan beberapa hal mengenai perkembangan lengan Hanna, tentang keluhan-keluhan apa yang Hanna rasakan dan gejala apa yang Hanna alami sebelum datang kesana.


Hingga akhirnya, dokter Erviani pun mulai masuk kedalam topik yang lebih serius.


"Baiklah, kita coba lepas gips nya ya nyonya. Semoga saja ini sudah baik-baik saja..."


Dua orang perawat sudah selesai menyiapkan alat-alat yang diperlukan, Hanna digiring memasuki sebuah ruangan khusus meninggalkan suami dan putri kecilnya.


Dokter Erviani pun telah siap untuk memulai aksinya, di tangan kanannya telah bertengger sebuah mesin gergaji khusus yang akan digunakan untuk melepaskan gips dari lengan kanan sang pasien.


Hingga mesin itu akan segera melakukan tugasnya, tiba-tiba saja terdengar tangisan histeris dari sosok gadis kecil yang kini tengah berlari ke arah mereka, membuat dokter Erviani sontak menghentikan aksinya.


"Hwa... Mommyh... Dotell eundak bolleh shakiti mommy na Molla. Dotell eundak bolleh potong-potong tangan na mommy, Molla shayang mommy, hwa..." Gadis kecil itu terisak di rengkuhan sang mommy, bola matanya menatap takut pada alat yang tadi akan di gunakan dokter Erviani untuk menyakiti sang mommy. Membuat dokter itu sontak meletakkan sejenak alat itu di sisi kanannya.


"Tadi kan saya sudah bilang, jangan boleh masuk..." Dokter itu menatap kecewa pada perawat nya yang lalai dalam bekerja, bisa-bisanya gadis kecil itu nyelonong masuk begitu saja, untung tidak terjadi apa-apa, jika iya, habislah dia.


"Itu dok, saya tidak berani membantah tuan David..." Sahut sang perawat takut-takut, membuat dokter Erviani sontak menghela nafas dalam, benar-benar menyusahkan menghadapi tuan penguasaan itu.


"Iya, sudah sayang... Mommy tidak apa-apa kok, dokternya kan mau sembuhin mommy, kenapa Maura malah menangis..." Hanna berusaha menenangkan sang putri yang masih sesenggukan di rengkuhannya, gadis kecil itu benar-benar takut jika dokter itu benar-benar akan menyakiti sang mommy tercinta.

__ADS_1


"Tante dotell itu dahat myh, tante dotell itu mau potong-potong tangan na mommy. Molla eundak shuka, hiks..." Tangisnya semakin menjadi, tangan mungilnya pun kian erat merengkuh pada sang mommy.


"Tidak sayang, siapa bilang tante dokter mau potong tangannya mommy. Tante dokter tadi hanya bercanda sayang..."


"Beullcanda na eundak lutu, Molla eundak shuka..." Sungut gadis kecil itu menahan kesal.


"Shht... shht... Udah dong sayang... Ngga papa... putri cantik mommy jangan nangis lagi dong, yang penting kan mommy tidak apa-apa, hmmm..."


"Mau pullang aja. Molla eundak mau shini myh, hiks..." Pinta gadis kecil itu penuh harap.


Hingga sang pembuat onar akhirnya datang menampakkan diri di ruangan itu.


"Ohhh... come on girl, biarkan dokter menyembuhkan mommy. Maura ikut daddy, come on..."


David mengulurkan tangannya hendak mengambil Maura dari pangkuan sang mommy, namun usahanya itu sia-sia belaka, gadis kecil itu langsung menolaknya mentah-mentah, tangan kecilnya bahkan semakin erat merengkuh pada sang mommy.


"Girl, menurut sama daddy, oke..."


"Eundak mahu, hwa..." Tangis gadis kecil itu semakin memekakkan telinga, membuat Hanna menghela nafas kasar, gadis kecil itu tak akan bisa dibujuk apapun alasannya.


"Mas, kita pulang saja. Maura sudah ngga bisa di bujuk kalau seperti ini..." Sahut Hanna pasrah.


"Tidak. Kita harus melepaskan gipsnya sekarang juga..."


Mau tetap sekarang? Lihat tuan, putrimu saja masih tak ingin melepaskan sang mommy, bagaimana dokter itu bisa memberikan tindakan medis untuk istrimu? Jika saja kau tak mengacau, pasti semua akan berjalan lancar.

__ADS_1


"Tapi..."


"Biarkan aku membujuknya sebentar..." Sergah David tak ingin di bantah.


"Girl, lihat daddy..."


Gadis kecil itupun beralih menatap pada sang daddy dengan mata sembabnya.


"Daddy sudah belikan es krim yang enak untuk Maura, Maura mau mengambilnya bersama daddy?"


Gadis kecil itu menimbang, "shama mommy duga...".


"Maura sama daddy saja, biar mommy disini menunggu. Kan mommy lagi sakit, oke girl..."


Gadis kecil itu beralih menatap pada sang mommy, keraguan itu mulai menyelusup dalam dada, antara es krim yang menyejukkan dahaga atau tetap bersama sang mommy tanpa es krim kesukaannya.


"Maura sama daddy saja, mommy menunggu disini, ya sayang..."


Gadis kecil itupun menurut, ia akan membeli es krim lebih dulu, baru akan kembali menemui sang mommy dan menjaganya dari dokter jahat.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Jangan lupa like nya yahhh...

__ADS_1


Happy Reading


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2