
°°°~Happy Reading~°°°
"Kenapa kamu menangis, heummm... ."
Seketika itu Hanna berhambur ke dalam rengkuhan sang suami. Tangis yang sedari tadi coba ditahannya pun seketika tumpah, Hanna terisak dalam rengkuhan David yang kini hanya bisa membisu tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan itu.
Perlahan tangis itu mulai mereda, membuat David akhirnya melepas rengkuhannya.
Di pandangnya wajah sang istri penuh kerinduan.
"Kenapa menangis, heummm..." jemari tangannya bergerak mengusap lembut wajah sang istri yang kini basah akan isaknya.
"Hanna salah, Hanna minta maaf udah diemin mas sampai buat mas sakit... ."
Tanpa sadar David menyunggingkan senyumnya. Apa ini berarti istrinya itu telah memaafkan dirinya?
"Tidak, kamu tidak salah sayang. Jika kamu tidak seperti ini, mungkin mas tidak akan sadar. Maafin mas ya, mas salah... ."
Kembali merengkuh sang istri dalam dekapannya, harum semerbak seketika itu menusuk indra penciumannya. David benar-benar merindukan sosok sang istri yang dua hari ini tak dapat direngkuhnya.
"Mas kenapa ngga bilang kalau sakit?" tanya Hanna begitu David melepaskan rengkuhannya.
"Ngga apa-apa. Mas hanya pusing."
"Hanya pusing gimana. Badan mas aja panas, mas demam!" kesal Hanna hampir-hampir kembali terisak.
__ADS_1
Membuat David seketika itu melebarkan senyumnya, istrinya itu benar-benar menggemaskan, apalagi saat menahan kesal.
"Iya iya, mas demam. Tapi mas ngga apa-apa kok, Sayang... ."
"Ayo ke kamar aja, biar Hanna kompres pakai air hangat."
Hanna mengulurkan tangannya membantu sang suami beranjak dari duduknya, memapah tubuh kekarnya tanpa sedikitpun mengeluh dengan perut buncitnya.
"Mas baring di sini, Hanna siapkan air hangatnya dulu."
David menurut, laki-laki itu pun berbaring tepat di sebelah sang putri yang terlelap nyenyak. Sedang Hanna, perempuan itu pergi menyiapkan air hangat dan selembar kain untuk mengompres panas tubuh sang suami.
"Mas pasti demam gara-gara terlalu banyak begadang, makan juga ngga teratur, padahal Hanna selalu siapin semuanya buat mas," rutuk Hanna kala meletakkan selembar kain yang sudah ia basahi di atas kening sang suami.
Perempuan benar-benar tak habis pikir, bagaimana suaminya itu begitu acuh akan kondisi tubuhnya.
Jika boleh jujur, sungguh ia begitu merindukan wajah cantik itu. David benar-benar merindukan sosok sang istri yang begitu perhatian dan penuh akan kasih sayang.
Hanna menunduk penuh sesal, "maafin Hanna, gara-gara Hanna--"
"Sudah dong, kan mas juga sudah tidak apa-apa... ."
"Sini, peluk mas. Mas kangen kamu loh sayang..." pintanya merentangkan sebelah tangannya.
"Mas masih demam, kalau ngga di kompres nanti ngga turun-turun demamnya." tolak Hanna.
__ADS_1
"Apa kamu tau? Pelukan kamu lebih mujarab dari pada kompresan itu, Sayang."
Membuat Hanna seketika itu merona. Suaminya itu benar-benar pandai menggoda.
"Sayang..." Rengek David. Mau tak mau menurut. Perempuan itupun merebahkan tubuhnya tepat di samping sang suami kemudian merengkuhnya erat.
"Kamu tahu ngga, mas kangen banget sama kamu loh sayang. Setiap mas kerja, mas ngga bisa fokus. Pengen di peluk kamu, tapi kamunya lagi marah sama mas..." keluh David semakin mengeratkan rengkuhannya.
"Kamu kok makin wangi sih Yang..." David menduselkan wajahnya di tengkuk sang istri, membuat Hanna seketika itu menggelinjang geli.
"Mas ihhh, mas masih demam..." tangannya bergerak menjauhkan wajah David dari tengkuknya, bisa bahaya kalau gini ceritanya.
"Terus kenapa kalau demam?"
Hanna mendelik, "ada Maura," cicitnya dengan pipinya yang bersemu merah.
"Kita bisa pindahin Maura sebentar, nanti di balikin lagi kesini."
Hanna menghela nafas dalam. Kalau sudah seperti ini akan susah membujuk sang suami yang memang tak sabaran.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Yok bim salabim, biar kakak Molla cepat keluar😂
__ADS_1
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕