
°°°~Happy Reading~°°°
"Kamu harus segera membawa Maura ke Psikolog Dave, trauma itu harus segera di sembuhkan, kalau tidak nanti bisa berakibat buruk untuk kedepannya." cecar Mama Agatha kala mengetahui kondisi sang cucu yang sempat histeris akan trauma masa lalunya. Jauh-jauh beliau terbang dari Singapura hanya untuk mengetahui keadaan sang cucu yang di kabarkan memburuk usai bertemu dengan sosok dari masa lalunya.
"Iya, Ma. Setelah Maura sembuh, segera akan David bawa ke Psikolog," ujar David mengusap wajah kasar. Tidak dapat dipungkiri, David benar-benar frustasi, pikirannya kalut saat mengetahui kondisi sang putri yang ternyata seburuk itu tanpa disadari.
"Nanti coba Papa kenalkan Psikolog kenalan Papa, semoga saja dia bisa membantu memulihkan trauma nya,"
"Aamiin. Terimakasih, Pa..." Ucap Hanna menimpali.
Jangan di tanya bagaimana perasaannya saat ini. Hancur sudah pasti, berharap sang putri pulih setelah bangun dari tidurnya, namun trauma sang putri malah semakin menjadi. Gadis itu bahkan berteriak histeris.
Hati ibu mana yang tak teriris melihat anaknya sendiri tersiksa akan trauma yang dulu pernah terjadi.
"Kamu yang sabar ya Han, Mama yakin Maura pasti akan sembuh," tutur mama Agatha mengusap lembut punggung Hanna yang kini bergetar menahan isak tangis. Kenyataan pahit akan keadaan sang putri terlalu menyakitkan.
Hanna benar-benar terpukul.
"Sudah. Kamu jangan terlalu banyak pikiran. Kamu juga harus memikirkan janin yang ada di dalam perut kamu. Mama dengar tadi malam sempat kram perutnya. Baby nya ngga apa-apa kan?" sahut mama Agatha penuh kekhawatiran.
Kesakitan yang dulu pernah ia rasakan sewaktu mengandung sang putra kembali terbayang. Sakitnya begitu luar biasa, membuatnya memutuskan tak lagi mengandung untuk kedua kalinya.
__ADS_1
"Iya Ma, Alhamdulillah sekarang sudah tidak apa-apa. Perutnya udah baikan, hanya masih terasa sedikit kencang... ."
"Perutnya terasa kencang itu karena kamu terlalu stress, Hanna. Jadi mulai sekarang jangan terlalu banyak pikiran. Meskipun Maura sedang sakit, kamu juga harus perhatikan kesehatan kamu dan janin kamu... ."
Membuat Hanna merasa terenyuh, kasih sayang yang di berikan ibu mertuanya itu tak ubahnya kasih sayang seorang ibu terhadap putri kandungnya.
Hanna merasakan kehangatan seorang ibu dari setiap perhatian yang mama Agatha berikan.
Direngkuhnya tubuh sang mertua.
"Iya ma, makasih mama udah peduli sama Hanna... ."
Mama Agatha benar-benar menyayangi menantunya bahkan mungkin melebihi sang putra.
Hanna benar-benar menantu idaman, hanya perempuan itu yang mampu meluluhkan hati keras sang putra, membuat putra dinginnya itu menjadi sedikit melunak.
Dalam dekapan mama Agatha, Hanna mengangguk. "Iya ma... ."
Dan aksi kedua perempuan itupun sontak mendapat tatapan iri dari dua sosok yang mungkin tengah dengki akan rengkuhan itu.
Keduanya saling menatap.
__ADS_1
"Apa kita juga perlu pelukan Dav?" Ajak tuan Sebastian.
"David sudah besar, Pa." Jengah David.
"Lagi pula, lebih enakan di peluk istri dari pada di peluk Papa." sambungnya.
Membuat tuan Sebastian sontak berdecih.
"Cih, kamu harus belajar menahan diri mulai saat ini. Sebentar lagi ujian berat akan menimpamu. Waspadalah." peringat tuan Sebastian.
David mengernyit, "maksud Papa?"
"Sudahlah... Nanti juga kamu tau sendiri." Tersenyum smirk. Rupanya sang putra masih belum mengerti akan kesengsaraan yang akan segera dihadapi.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕
__ADS_1