
°°°~Happy Reading~°°°
Malam semakin larut, dinginnya malam kini semakin memekik di tengah hawa dingin AC yang semakin mengepul, membuat Hanna semakin meringsek dalam dekapan itu.
Hangat dan nyaman, itulah yang kini ia rasakan, dekapan yang tak pernah ia rasakan itu terasa begitu asing namun membuatnya sulit untuk melepaskan, membuat Hanna terlena.
Lama bertahan dalam kenyamanan, Hanna merasa terusik saat rengkuhan itu semakin membelitnya, tubuhnya di rengkuh posesif, membuatnya merasa sesak.
Perlahan perempuan itupun mengerjapkan matanya, manik matanya mulai menatap pada sesuatu yang bidang yang kini tepat berada di depan wajahnya.
Pandangannya mulai menjalar naik, dan seketika itu Hanna tersentak, saat didapatinya wajah sang suami kini terpampang jelas terukir di atas sana, membuat Hanna membeliak.
"Apa aku sedang berhalusinasi? Benarkah mas David yang sedari tadi memelukku?"
Membuat hatinya berdebar, di dorongnya dada bidang suaminya itu dengan gerakan lembut, namun naas, bukannya terlepas, rengkuhan itu malah semakin mengerat, membuat Hanna semakin tak karuan, jantungnya sudah tak dapat di kondisikan.
Namun saat inipun tak ada yang dapat ia lakukan, memaksanya terlepas itu artinya ia akan membangunkan suaminya dari tidur pulasnya, situasi canggung pun tak akan dapat di elak, membuat perempuan itu menghela nafas dalam, Hanna pasrah, perempuan itu kini merelakan diri jatuh dalam rengkuhan sang suami yang tak pernah disentuhnya.
Perlahan, manik matanya kembali menatap pada wajah lelap suaminya, tidak bisa di pungkiri, laki-laki yang kini menjabat sebagai suaminya itu memanglah sosok laki-laki rupawan.
Bulu matanya yang tebal, hidungnya yang mancung, serta rahangnya yang terpahat dengan begitu indah.
Sejenak Hanna melupakan batasan yang selama ini ia bangun sendiri, tangannya mulai mengulur mengusap lembut wajah rupawan itu.
Mengapa Tuhan begitu tak adil, menciptakan sosok manusia dengan begitu sempurna, membuat hatinya berdebar setiap detiknya, sedang dirinya tak ada hak sepenuhnya pada sosok yang saat ini merengkuh posesif tubuhnya.
Pernikahan ini hanya sebuah pertanggungjawaban laki-laki itu terhadapnya, jika saja malam kelam itu tak pernah ada, dan Maura tak pernah hadir dalam hidupnya, mungkin pernikahan ini tak akan pernah terlaksana.
__ADS_1
Membuat Hanna tiba-tiba teringat.
Maura...
Hanna merutuk, bagaimana bisa ia melupakan keberadaan gadis kecilnya itu hanya karena ketampanan suaminya.
Bola matanya mulai menelisik ke sekitar ranjang, nihil, putri kecilnya itu bahkan tak terlihat di ruangan itu, membuat Hanna sontak kalang kabut.
"Mas, bangun..." Sahut Hanna sembari berusaha melepaskan rengkuhan suaminya.
"Hmmm..." David hanya berdeham, tangan kekarnya itu bahkan semakin erat merengkuh istrinya yang sudah panik bukan kepalang.
"Mas... Bangun dulu, Maura dimana..." Bola matanya sudah berair, Hanna benar-benar takut, ini adalah kali pertamanya tak mendapati sang putri berada di sisinya.
Hingga akhirnya David membuka perlahan kelopak matanya yang terpejam.
"Kenapa?" Refleks melepas rengkuhannya, tangannya kini beralih mengusap wajah sang istri yang terlihat tak baik-baik saja.
"Maura, dimana Maura mas? Kenapa Maura tidak ada di sini?"
David menelisik ke seluruh ruangan, membuat laki-laki itu terperangah, putrinya benar-benar tidak ada disana, lalu dimana gadis kecil itu berada sekarang?
"Tenanglah, kita cari sekarang..."
Kedua insan itupun bangkit dari ranjang king size nya, melajukan kakinya keluar kamar dengan hati gundah gulana.
"Apa kau melihat putriku?" Tanya David pada salah satu bodyguard yang tak sengaja melintas.
__ADS_1
"Nona muda? Tidak tuan..."
Membuat David berdecak.
"Kerahkan semua orang, cari dimana keberadaan putriku. Aku tak mau tau, kalian harus menemukannya dalam 1 jam..."
Membuat bodyguard itu sontak membungkuk kemudian lari terbirit mencari bala bantuan.
"Maura... Kamu dimana sayang..." Hanna tak mampu lagi membendungnya, perempuan itu terisak, air mata yang sedari tadi di tahannya, kini akhirnya tumpah membasahi wajah cantiknya, membuat David sontak luluh, direngkuhnya tubuh istrinya yang kini terasa bergetar akibat tangisnya.
"Tenanglah, kita akan menemukannya..."
"Bagaimana, bagaimana jika Maura terluka mas... Dia masih kecil, dia tidak tau apa-apa. Maura, hiks..." Tangisnya semakin menjadi, membuat David semakin mengeratkan rengkuhannya.
"Aku janji, kita pasti akan menemukannya...".
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Siapa yang sudah rindu sama si tomel Molla, hehehe
Maapken karena othor absen beberapa hari, Othor masih ada beberapa urusan di dunia nyata, peace...
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕
__ADS_1