
°°°~Happy Reading~°°°
"Are you okay? Kita ke dokter ya sayang?" Pinta David dengan raut wajah penuh akan kekhawatiran.
Hanna menggeleng, ia tahu benar, ini adalah bagian dari morning sickness yang harus ia lalui semasa kehamilan.
Dulu saat hamil Maura pun ia mengalami hal yang sama, bahkan mual yang dulu ia alami jauh lebih menjadi, membuatnya sampai tak bisa bekerja hingga berhari-hari dan akhirnya di pecat tanpa kompromi.
"Tidak usah mas, Hanna baik-baik aja kok..." Lirihnya.
"Baik-baik saja bagaimana sayang, tadi saja kamu hampir pingsan. Sebaiknya kita periksakan saja, heummm... Apa mas panggilkan dokter saja kesini, ya..."
"Mas... Tidak perlu, nanti juga baikan kalau Hanna buat tidur..." Tolak Hanna lagi, membuat David benar-benar frustasi, tidak Maura tidak Hanna, keduanya sama-sama susah jika di ajak memeriksakan diri ke rumah sakit.
"Sayang, please... Kita ke dokter saja ya, mas khawatir terjadi apa-apa sama kamu dan baby..." Pinta David sembari mengusap lembut perut sang istri. Siapa tau dengan membawa-bawa nama sang bayi, istrinya itu akan langsung menuruti.
__ADS_1
"Mas tidak usah khawatir, Hanna baik-baik saja kok mas. Lagi pula, ini normal untuk ibu hamil, hmmm... Jadi, kalau Hanna mual-mual lagi seperti tadi, mas bantu Hanna ya, mas temani Hanna walau itu terlihat sangat jijik..." Pintanya, sorot matanya sendu, ingatan itu kembali memutar bagai kaset rusak.
Dulu, saat hamil Maura, ia harus rela berjuang seorang diri tanpa seorang pun yang menemani, bahkan ibunya pun harus meninggalkannya saat ia tengah terpuruk akan musibah yang di alami-Hamil di luar nikah tanpa tahu siapa laki-laki yang telah merenggut kesuciannya.
Tidak mudah untuk dilalui, di saat perempuan lain mendapatkan kasih sayang berlimpah dari pasangannya masing-masing, Hanna hanya bisa gigit jari, ia tak seberuntung perempuan-perempuan lain, bahkan di kehamilan yang seharusnya penuh akan rasa bahagia yang membuncah, ia harus rela menderita akan caci maki yang harus ia hadapi.
David tak kuasa menatap wajah sendu sang istri, rasa bersalah itu kembali menyeruak tanpa permisi, David menyesal, jika saja dulu ia tak menganggap rendah sang istri, jika saja dulu ia mencoba mencari keberadaan sang istri, pasti semua tidak akan seperti ini.
Ini salahnya, semua ini memang salahnya, semua ini terjadi karena kecerobohan dan keangkuhannya.
"Apa dulu-- saat hamil Maura, kamu juga seperti ini?"
Dan seketika itu David langsung menghabur ke rengkuhan sang istri, rasa bersalah itu semakin menjadi, mengapa dulu ia begitu brengs*k tanpa hati nurani, meninggalkan perempuan yang tergeletak tak berdaya dengan segepok uang yang ia lemparkan tanpa empati.
"Maafkan mas sayang, maaf... Maaf atas semua yang telah mas lakukan padamu, maaf karena mas dulu memaksamu bahkan tak mendengar permohonan mu. Mas bahkan tidak ada di saat kamu harus berjuang sendirian mengandung Maura, mas telah banyak menyakitimu sayang, mas menyesal, mas menyesal karena telah membuat kamu menderita hingga seperti ini, maafkan mas sayang..." Sesalnya.
__ADS_1
Dalam haru, Hanna melingkarkan tangannya memeluk punggung itu dalam rengkuhannya, mengusapnya lembut, berusaha memberikan kekuatan untuk sang suami yang kini tengah terisak dalam rengkuhannya.
"Tidak mas, mas tidak bersalah. Lagi pula, itu sudah berlalu, dan sekarang mas di sini, bersama Hanna, selalu mendampingi Hanna dan menjadi pelipur lara untuk luka hati Hanna. Hanna sangat bersyukur karena Allah telah mengirimkan mas untuk Hanna, Hanna sangat bersyukur mas..."
David melepaskan rengkuhannya, di tatapnya manik mata indah itu dalam-dalam.
"Kamu istri terbaik mas sayang, perempuan sholehah yang Allah kirimkan untuk mas, sungguh tidak ada perempuan terbaik dalam hidup mas selain dirimu, istriku. I love you sayang, jangan pernah tinggalkan mas, karena ketika kamu meninggalkan mas, mas tidak akan lagi bisa melanjutkan hidup... ."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Ada yang kengen sama othor ngga😭
Mian mian, othor ada ujian jadi ngga bisa nulis dulu, kan harus belajar, biar dapat nilai 100😂
__ADS_1
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕