
°°°~Happy Reading~°°°
Sesampainya di rumah sakit, ketiganya langsung di arahkan ke sebuah ruangan dokter obgym terbaik di rumah sakit itu, tak perlu repot-repot menunggu, tak perlu bersusah-payah mengantre, ketiganya langsung bisa menemui dokter Stephanie setelah melakukan janji temu.
"Selamat siang tuan David, nona Hanna..." Sapa dokter Stephanie membungkuk hormat pada sang pemilik saham tertinggi di rumah sakit itu.
"Siang juga dokter..." Timpal Hanna tak kalah ramah, membuat dokter Stephanie seketika terperangah, ternyata istri sosok arogan itu tak seperti kaum sosialita pada umumnya, perempuan muda itu bahkan terlihat begitu ramah meski telah menjadi sosok istri sang konglomerat.
"Apa kau hanya akan memandangi istriku saja?" Sergah David memutus lamunan dokter Stephanie.
"Eummm, mohon maaf tuan David..."
"Mari, silahkan..."
Dokter Stephanie kemudian menggiring keluarga kecil itu untuk duduk di kursinya.
"Mommy, nanti onty dotell itu cush-cush mommy shama dedek bayi oek-oek?" Tanya Maura takut-takut, tubuh kecilnya semakin meringsek dalam rengkuhan sang mommy, bayang-bayang dokter itu akan menyakiti mommy dan adiknya seketika berkelana dalam bayangannya, takut seketika menjalar dalam dada.
*Cush-cush : suntik
Membuat David kemudian mengambil alih gadis kecil itu, memangkunya, memberikannya kenyamanan juga rasa aman.
"Don't worry girl, mommy hanya akan di periksa, heummm..."
__ADS_1
"Mau mommyh..." Pintanya dengan wajah hampir menangis. Gadis kecil itu benar-benar takut jika dokter itu akan menyakiti mommy dan adiknya.
"Tidak apa mas, biar Maura sama Hanna saja..." Tau jika sang putri kini tengah dilanda ketakutan, Hanna kembali mengambil alih putri kecilnya, memangkunya, membuat David sontak saja takut jika itu akan menyakiti istri dan calon buah hatinya.
"Itu akan menyakitimu sayang..."
"Tidak apa mas..." Jemari tangannya mengusap lembut lengan kekar suaminya, itu adalah kelemahan David, jika sudah begini, laki-laki itu akan luluh dan akan langsung menurutinya.
Dokter Stephanie mengembangkan senyum samarnya, iri seketika menjalar dalam relung hatinya, image arogan yang selama ini melekat pada laki-laki itu, rupanya tak berlaku jika tengah bersama istri tercinta nya.
"Baiklah kalau begitu, boleh saya tau keluhan apa yang anda alami selama kehamilan anda nona Hanna..."
"Saya sering merasa mual setiap bangun tidur di pagi hari dok, dan akhir-akhir ini entah kenapa saya sering sekali mengantuk dan mudah tertidur..." Papar Hanna.
"Wajar? Kau bilang wajar? Setiap pagi istriku muntah-muntah bahkan sampai hampir pingsan dan kau bilang itu wajar? Apa kau tidak punya otak, hah..." Sergah David memotong penjelasan dokter Stephanie begitu saja, membuat Hanna sontak menghela nafas dalam, suaminya memang suka keterlaluan.
"Mas tenang dulu..."
"Tapi sayang--"
"Mas... Hanna ngga apa-apa kok. Kita dengerin dokter Stephanie dulu ya..." Perempuan itu kembali mengusap lengan suaminya.
David kembali terduduk, laki-laki itu mencebik gemas, selalu saja dirinya tak bisa berkutik saat istrinya itu melancarkan aksinya.
__ADS_1
"Jadi, apa bisa saya lanjutkan?"
"Ahhh, iya dokter, silahkan..." Timpal Hanna menahan tawa akan tingkah menggemaskan dari suami posesifnya.
"Jadi untuk gejala mual yang nona Hanna alami adalah hal yang wajar, hal ini karena tubuh nona Hanna masih menyesuaikan diri dengan kehamilannya. Nanti saya akan bantu resepkan obat pereda mual untuk mengurangi efek mualnya"
"Dan untuk masalah nona Hanna yang sering mengantuk itu juga hal yang wajar, ini karena perubahan hormon yang terjadi semasa kehamilan"
"Nah sekarang kita coba lihat gimana kabar calon baby nya ya..."
Hanna kemudian membaringkan tubuh di atas ranjang yang sudah disiapkan, dokter Stephanie pun sudah siap dengan semua peralatan medisnya.
Disingkapnya sedikit ujung baju Hanna hingga terlihatlah perut putih mulusnya, membuat Maura sontak memekik.
"Shuttop, onty dotell eundak bolleh opun-opun baju na mommy..."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy Reading guys
Saranghaja 💕💕💕
__ADS_1