
°°°~Happy Reading~°°°
"Molla mau daddy meunnikah shama Molla shama mommy, Molla eundak mau pishah-pishah ladi shama daddy, Molla mau tidull shama mommy shama daddy, beultiga, hiks..." Rengek Maura di gendongan sang daddy, gadis kecil itu tidak tahu saja, menikah tidak semudah yang ia bayangkan, tidak hanya tinggal bersama dan tidur di ranjang yang sama, pernikahan tidak sesederhana yang ada di otak polosnya.
"Iya girl, nanti kalau Maura kangen daddy, Maura bisa tinggal sama daddy, oke..." Timpal David seadanya, ia tahu, Hanna masih butuh waktu untuk memikirkan tawarannya, dan ia harus bersiap dengan kemungkinan terburuk jika perempuan itu benar-benar menolak lamarannya.
"Eundak mahu, Molla mau beulltiga, Molla mau daddy shama mommy duga, hiks..." Bukannya mereda, tangis gadis kecil itu malah semakin menjadi, membuat Hanna semakin dilanda rasa bersalah, gadis kecil itu menangis karena penolakan darinya.
"Sayang, Maura, sudah dong sayang... Sini sama mommy..." Hanna melambai berharap sang putri bersedia untuk direngkuhnya, sungguh ia tak sanggup menatap pada sang putri yang kini mulai sesenggukan.
"Eundak mahu, Molla eundak mahu shama mommy, mommy eundak mahu meunnikah shama daddy, hiks..."
Gadis kecil itu mengeratkan rengkuhnya pada sang daddy, ia kesal, kesal karena sang mommy tak mampu menuruti permintaannya.
Dulu ia sering mengalah saat mommy nya itu sering melarangnya ini itu, melarangnya bermain hujan, melarangnya memakan es krim kesukaannya, melarangnya untuk tidak berlari hanya karena takut ia kelelahan.
Namun sekarang tidak lagi, ia benar-benar tidak ingin kehilangan daddy yang paling disayanginya.
Membuat Hanna dilema, di satu sisi ia tak siap untuk menikah dengan laki-laki yang telah dengan tega menghancurkan kehidupannya, merenggut semua kebahagiaannya, merampas kesuciannya. Namun di sisi lain, ia juga tak ingin egois terhadap sang putri, putri kecilnya itu juga butuh keluarga yang utuh yang mampu memberikannya kasih sayang tanpa batas.
"Iya, nanti mommy menikah sama daddy, tapi Maura tidak boleh ngambek lagi sama mommy ya sayang..." Putusnya, bola matanya mulai mengembun, hampir-hampir Hanna akan terisak, namun berusaha ditahannya kuat-kuat. Mungkin inilah pilihan terbaik yang bisa dipilihnya, tak apa jika ia akan tersakiti nantinya, namun tidak dengan putri kecilnya.
"Mommy beulbohong, nanti mommy peulgi-peulgi lagi dalli lumah na daddy?" Sanggah Maura tak percaya.
__ADS_1
"Tidak sayang, mommy janji, mommy akan menikah sama daddy, hmmm... Maura percayakan sama mommy..." Air mata itu akhirnya luruh juga, tak dipercaya sang putri menjadi kesakitan yang amat perih dibanding luka yang selama ini menancap dalam lubuk hatinya.
"Mommy beunnellan eundak bohong-bohong?"
Hanna mengangguk, "iya, nanti mommy menikah sama daddy. Maura senang kan?" Putusnya, tak tahu bagaimana ia akan menjalankan kehidupan pernikahan bersama laki-laki itu nantinya, yang terpenting untuk saat ini, sang putri bisa tersenyum bahagia, tak ada lagi tangis yang luruh dari wajah menggemaskan itu hanya karena ketidakberdayaannya.
Gadis kecil itu sontak turun dari gendongan sang daddy, langsung menghamburkan tubuh mungilnya dalam rengkuhan sang mommy.
"Molla sheunang, Molla sheunang shekalli, Molla shayang mommy banak-banak..." Ungkap gadis kecil itu tanpa melepas rengkuhannya, bahagia tak terkira melingkupi dalam hatinya, sebentar lagi ia akan benar-benar memiliki mommy dan daddy yang selama ini ia idam-idamkan.
"Mommy juga sayang Maura, putri mommy tidak boleh nangis lagi ya sayang..." Pinta Hanna, sungguh perempuan itu begitu rapuh hanya dengan menatap wajah sembab sang putri yang basah akan isaknya.
"Huum, Molla dandi, Molla eundak nanit-nanit ladi, Molla shayang mommyh..."
"Terimakasih Hanna, terimakasih karena sudah mau menerima pernikahan ini..."
"Tidak nyonya, saya yang harusnya berterimakasih karena mau menerima saya dan putri saya..." Hanna merasa begitu rendah, perempuan itu cukup tahu bagaimana kaya nya keluarga David, dan dengan itu ia merasa cukup tak percaya diri.
"Mulai sekarang jangan panggil aku nyonya lagi, panggil mama, kamu akan menjadi putriku juga Hanna, hmmm..."
"B-baik ma..." Timpal Hanna kikuk.
"Baiklah, mama akan segera menyiapkan pernikahan kalian, setelah Hanna keluar dari rumah sakit kita bisa laksanakan ijab kabul dulu, hanya sebatas keluarga, yang penting sah lalu kalian bisa tinggal bersama. Baru setelah Hanna sembuh total kita lakukan resepsinya..." Cerocos mama Agatha tanpa jeda.
__ADS_1
Hanna tercengang, secepat itu? Apa pernikahan itu harus dilakukan begitu terburu-buru?
"Nyonya, ehmmm ma... Apa itu tidak terlalu terburu-buru?"
Mama Agatha menarik bibirnya tersenyum.
"Tidak Hanna, semakin cepat semakin baik. Setelah kalian sah menjadi suami istri, kalian kan bisa langsung tinggal bersama, benarkan sayang..." Sahut mama Agatha sembari menjembel pipi chubby Maura.
"Apa na yang beunnal glanny?" Otak polos Maura masih sibuk bekerja, belum mampu memproses semua perkataan sang granny yang melebihi kapasitas otak kecilnya.
"Maura mau tidak tidur sama mommy sama daddy?"
"Mau mau, Molla mau tidull shama mommy shama daddy, pashti nanti shellu sheukalli, hihihi..."
"Ya, begitu lebih baik. Aku setuju..." Sahut David di akhir pembicaraan, tanpa menyangga, tanpa menuangkan pemikirannya, laki-laki itu hanya terima beres saja.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Like nya dong
Happy Reading
__ADS_1
Saranghaja 💕💕💕