
°°°~Happy Reading~°°°
Di malam yang dingin itu, semua orang tengah digemparkan oleh hilangnya nona muda mereka, semua orang tampak was-was, ancaman pemecatan kini mulai menggaung jika satu jam ke depan gadis kecil itu tak dapat di temukan.
Semua bodyguard dan puluhan pelayan pun kini sibuk menyisir seluruh area mansion, dimulai dari bagian dalam mansion, halaman depan, area taman, area belakang, juga area golf, mereka menelusuri area-area itu sedetail mungkin tanpa meninggalkan sedikit celah.
Selain penyisiran langsung, sebagian yang lain tampak mengecek bagian CC TV, menelisik detik demi detik bagaimana gadis kecil itu bisa menghilang dari pandangan sang mommy dan daddy nya.
Hingga sepasang mata itupun berhasil menangkap pantulan sosok gadis kecil yang terlihat keluar dari kamarnya dengan mengendap-endap.
"Itu, itu nona muda..." Pekik sang pemantau CC TV, membuat David dan Hanna sontak menajamkan penglihatannya.
"Itu benar Maura mas..." Tunjuk Hanna pada layar CC TV, membuat David mendekat kemudian merengkuh tubuh istrinya itu untuk menenangkan.
"Iya, tenanglah. Semua akan baik-baik saja..." Lirihnya sembari mengusap lembut bahu Hanna.
Hanna menatap layar CC TV itu dengan perasaan tak karuan, terlihat gadis kecil itu tampak kebingungan, kepalanya menoleh kesana kemari dengan raut wajah ketakutan, hingga akhirnya langkah kakinya mulai mengalun menuju ruang kerja sang daddy.
"Maura, Maura ke ruang kerja mas..."
Pekik Hanna, perempuan itupun langsung berbalik hendak mengejar sang putri yang kemungkinan besar tengah bersembunyi dibalik ruang kerja sang daddy.
Baru selangkah kakinya berpindah, kaki kanannya malah tak sengaja menyandung kakinya yang lain, membuat tubuhnya akhirnya limbung.
"Hanna..."
__ADS_1
Dengan sigap, David menyaut tubuh istrinya itu dalam dekapannya, membuat Hanna urung jatuh terpelanting.
"Apa kau tidak bisa hati-hati Hanna..." Sentak David setengah menahan kesal, khawatir sebenarnya, namun karena kekhawatiran itulah membuat amarahnya tiba-tiba saja tersulut tanpa bisa dielakkan.
"M-maafkan Hanna mas..."
Hanna membenahi diri kemudian melanjutkan langkah kakinya, hingga akhirnya tibalah mereka di depan ruang kerja David, Hanna membuka pintu itu dengan tak sabar, melangkah masuk, manik matanya mulai menelisik ke sekeliling ruangan.
Dan seketika itu bola matanya membelalak sempurna saat didapatinya sosok mungil itu kini tengah meringkuk di atas sofa empuk milik sang daddy.
"Maura..."
Refleks kakinya melangkah cepat mendekati sang putri, direngkuhnya tubuh mungil itu dalam dekapan hangatnya, tangisannya semakin deras mengalir membasahi wajah cantiknya, sungguh Hanna tak akan sanggup jika ia benar-benar harus kehilangan putri tercintanya.
Tanpa sadar, tangisan Hanna kini berhasil membangunkan sang putri dari tidur nyenyak nya, Maura mengerjap, gadis kecil itu merasa terusik oleh rengkuhan sang mommy yang terasa begitu erat memeluknya.
Hanna menguarkan rengkuhannya, di usapnya wajah putri kecilnya itu dengan penuh sayang.
"Mommy Keunnapa nanit?" Sadar sang mommy tengah menumpahkan air matanya, Maura berubah sendu, gadis kecil itu terlihat akan ikut memuntahkan tangisannya.
"Maura kenapa tidur disini? Mommy khawatir sayang... Kenapa Maura tidak bilang-bilang sama mommy kalau Maura pindah kesini..." Sahut Hanna penuh khawatir, membuat Maura tersadar, mommy nya menangis karena kesalahannya.
"Mommy meunanit kalluna Molla? Kalluna Molla nakall? hiks..." Isak gadis kecil itu menatap penuh bersalah pada sang mommy, membuat Hanna sontak merengkuh tubuh mungil itu lagi, kekhawatirannya telah membuat ia egois dan melupakan bagaimana perasaan sang putri saat ini.
"Tidak sayang, maafkan mommy... Maura jangan menangis lagi, maafkan mommy sayang..."
__ADS_1
Kedua perempuan itupun saling merengkuh dalam isak tangis yang tak berkesudahan, membuat David mengusap tengkuknya, perempuan selalu saja seperti ini, selalu melebih-lebihkan hal yang seharusnya tak harus seperti ini.
"Oke girl, kita kembali ke kamar. Besok kamu harus berangkat sekolah kan..." Sahut David memecah situasi.
Maura menunduk lesu, kemudian menggeleng, menolak ajakan sang daddy, "Molla eundak mahu..."
"Tidak mau sekolah?"
"Eundak daddy. Molla mau shekull, tapi eundak mahu tidull kamall..."
Membuat David mengernyit, laki-laki itu lalu mendekat, ikut berjongkok di sebelah Hanna, berpikir jika situasinya tak semudah yang ia pikirkan.
"Kenapa girl?"
"Molla mau adek bayi oek oek..."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Yuk ngabuburit bareng si tomel Molla, hehehe
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕
__ADS_1