Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Chivana Arabella


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah bergelut dan melepas segala hasrat dengan keringat yang mengucur pada tubuh keduanya. Kini Dyra tertidur di atas dada Darren sambil memilin bulu-bulu kecil yang tumbuh di sana. Mereka masih tanpa mengenakan pakaian dan hanya ditutupi oleh selimut.


"Hubby, sekarang aku boleh bicara apa yang ingin aku sampaikan padamu?" tanya Dyra yang sebenarnya ragu karena ia tahu betapa benci suaminya itu terhadap Kimmy.


"Katakan sayang kamu tidak perlu sungkan!" titah Darren sembari membelai pucuk rambut Dyra dengan lembut.


"Begini Hubby, tadi itu Ibunya Kimmy datang ke rumah."


Belum juga Dyra menyelesaikan ucapannya, Darren seketika kaget dan beringsut dari posisi duduknya yang saat ini sedang bersandar pada sandaran sofa.


"Jangan kamu bilang, kamu mengiyakan permintaannya untuk melepaskan Kimmy dari penjara ya."


Mendengar ucapan Darren tak membuat Dyra terkejut. Ia sangat paham, bila suaminya memang sangatlah cerdas membaca segala hal yang ada di dalam pikirannya.


"Iya Hubby, aku minta maaf padamu. Aku yakin, kamu pasti setuju dengan keputusanku, karena aku percaya suamiku adalah laki-laki berhati mulia." Pujian dari Dyra membuat hati Darren seketika luluh, ia sampai tak bisa berkata apa-apa untuk menjawab semua yang dikatakan oleh Dyra.


Darren pun mengesah pelan.


"Baiklah, terserah padamu saja sayang. Walaupun aku sebenarnya sangat ingin, memberi pelajaran terhadap wanita itu. Aku sangat membenci wanita itu, karena dia tamak sekali akan harta!" geram Darren dengan rahang mengeras saat mengingat niat jahat yang Kimmy rencanakan.


Dyra mengelus dada suaminya dan kembali memeluk tubuh Darren. "Sabar sayang, lagipula tidak ada salahnya jika kita memaafkan kesalahannya, mungkin dengan kesempatan kedua yang kita berikan Kimmy menjadi lebih baik dan sadar akan semua kesalahan yang telah dilakukannya."


Darren memeluk erat tubuh istrinya itu yang masih polos tanpa sehelai pakaian pun di tubuhnya. "Aku bangga padamu sayang, semoga dia tak lagi memiliki niat untuk mengganggu hubungan kita."


"Pasti Hubby, itulah janji dari Ibunya. Kita sebaiknya lupakan dan maafkan saja kesalahannya, tapi walau hal ini terjadi lagi, aku percaya pada suamiku pasti akan selalu setia."


Darren menangkup kedua sisi wajah Dyra, lalu memberikan sebuah kecupan dalam pada kening istrinya itu. "Selama tidak akan ada wanita lain sayang."


Dyra pun tersenyum dengan perkataan yang terucap dari bibir suaminya.

__ADS_1


"Jagalah rumah tanggaku ini, agar selalu abadi selamanya Tuhan. Jangan hadirkan siapapun yang bisa merusak hubungan ini," batin Dyra menatap dalam wajah Darren, setelah mencium keningnya dengan penuh cinta.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Setelah tiba di lobi rumah sakit, Owen langsung menanyakan pada bagian resepsionis tentang wanita yang sedang dicarinya.


"Pasien korban kecelakaan itu, masih mendapat penanganan. Silahkan Tuan tunggu saja di depan ruang UGD itu." Petugas itu menunjukkan sebuah ruangan yang berada di ujung koridor yang terdapat sebuah tulisan UGD tertera di pintu.


"Baik, terima kasih." Owen melangkah maju untuk menuju ruangan yang petugas itu sampaikan padanya.


Setelah tiba di depan ruang UGD, Owen langsung duduk untuk menunggu, sembari menahan rasa penasaran di dalam pikirannya.


"Semoga wanita itu baik-baik saja, agar aku bisa segera menanyakan padanya, siapa dia?" gumam Owen penuh harap.


Tak berapa lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang UGD. Owen pun bergegas menghampirinya.


"Bagaimana dokter keadaan wanita itu?" tanya Owen dengan raut wajah yang menuntut.


Owen tercekat kaget. Rasa penasaran membuat Owen melupakan hal penting yang belum ia siapkan jawabannya.


"Saya adalah asisten suaminya Dokter, nama saya Owen. Suami beliau sedang dalam perjalanan, jadi saya diperintahkan untuk menanyakan pada Anda tentang kondisi istrinya," ujar Owen asal bicara, agar tak menimbulkan rasa curiga bahwa ia sebenarnya tak mengenal wanita yang saat ini terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit.


"Baiklah kalau begitu. Jadi begini Tuan, setelah menjalani operasi, kondisi pasien sudah mulai stabil, hanya saja masih belum juga sadar dari komanya. Kita akan lihat sejauh apa perkembangannya dalam beberapa hari ini. Setelah ini pasien akan dipindahkan ke ruang rawat, jadi Anda tolong urus administrasinya."


"Baik, Dokter," jawab Owen sambil tersenyum ramah ke arah Dokter itu yang langsung pergi meninggalkannya.


Owen masih termangu menatap kepergian Dokter itu, dengan segala pikiran yang berputar di dalam kepalanya. "Pasti wanita itu memiliki identitas, aku harus menemukannya, agar misteri ini bisa segera terungkap." Owen melangkahkan kakinya menuju bagian resepsionis.


Setelah tiba di sana, ia tak membuang waktu dengan langsung melontarkan pertanyaan pada petugas resepsionis, terkait barang-barang yang ada pada pasien sewaktu dibawa ke rumah sakit.


"Ada Tuan, sebentar saya ambilkan dulu." Petugas itu membuka sebuah nakas dan mengeluarkan sebuah tas dari dalamnya.

__ADS_1


"Akhirnya semua akan terungkap," gumam Owen ketika melihat petugas resepsionis membawakan tas tersebut, mendekat ke arahnya.


"Ini Tuan tas pasien." Petugas itu menyodorkan tas itu kepada Owen.


"Terima kasih banyak," ucap Owen mengambil tas itu, lalu ia melangkah untuk kembali menuju depan ruang UGD.


Namun, langkahnya terhenti ketika petugas resepsionis memanggilnya kembali. Owen pun membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah sumber suara.


"Maaf Tuan, Anda harus mengurus administrasi pasien terlebih dahulu sebelum, pasien dipindahkan ke ruang rawat."


"Baik, maaf saya melupakan hal itu tadi." Owen kembali mendekat ke meja resepsionis, masih dengan tas yang digenggamnya.


Owen disodorkan sebuah kertas untuk diisi olehnya. Kertas yang berisikan data diri dari pasien itu. Owen pun membuka tas itu untuk mencari identitas dari wanita yang saat ini telah berhasil, membuat pikirannya dipenuhi beribu tanda tanya yang berputar, memenuhi isi kepalanya.


Owen kini sudah menggenggam sebuah dompet yang telah dikeluarkannya dari dalam tas. Kemudian ia langsung membuka dompet itu yang di dalamnya tersusun rapi dengan beberapa kartu kredit dan ATM.


"Wanita ini tampaknya orang yang kaya raya, buktinya saja kartu kredit di dalam dompetnya tak hanya satu melainkan 5 buah, belum lagi ATM lebih dari dua bank," gumam Owen terus mencari kartu identitas wanita itu.


"Nah ini dia." Owen pun menemukan sebuah kartu identitas yang akan menjawab semua pertanyaannya.


Owen mulai mengeluarkannya dan saat ia menatap kartu itu, kedua matanya seketika membulat sempurna. Peluh dengan cepat membasahi dahinya yang kini sudah dibuat tercekat atas apa yang dilihatnya saat ini.


"Tidak mungkin! Ternyata firasatku benar, Chivana Arabella masih hidup," ucap Owen masih menatap tajam kartu identitas yang masih digenggamnya.


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️


Berikan komentar kalian ya.


Terima kasih atas dukungannya selama ini terhadap SCM, semoga tidak akan membuat kalian bosan dengan alur ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2