Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
S2 : Tidur Siang Bersama


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah menyelesaikan aktivitas mandinya di dalam bathroom, Ansel dan Irene sudah sama-sama mengenakan bathrobe untuk menutupi wajah polos mereka. Saat itu wajah Irene masih merona merah karena pengalaman mandinya bersama Ansel membuatnya menjadi salah tingkah atas apa yang dilakukannya, sewaktu ia menggosok seluruh tubuh sang suami.


Namun, Irene dengan cepat menampik semua perasaan yang terus membuat wajahnya bersemu merah. Ia mencoba bersikap biasa agar tak menjadi bahan ledekan oleh Ansel, suaminya.


Keduanya kini mulai melangkah keluar dari bathroom dan langsung menuju walking closet untuk mengambil baju tidur yang akan mereka kenakan saat ini.


"Sayang, kamu tunggu saja di sofa. Aku akan mengambilkan baju untukmu!" titah Ansel dengan suaranya yang terdengar halus, perkataanya langsung diindahkan oleh Irene yang segera duduk di sofa yang berada di tengah-tengah walking closet.



Tak berapa lama kemudian, Ansel menyerahkan satu setel piyama pada istrinya yang masih setia menunggu. "Ini bajumu sayang!"


Irene menerimanya dan mulai bangkit dari posisi duduknya. "Terima kasih sayang," ucap Irene dengan senyum yang mengembang dari kedua sudut bibirnya.


Setelah menggenggam stelan piyama yang diberikan oleh Ansel, Irene pun langsung mengenakannya di hadapan sang suami yang saat ini masih terus memperhatikannya.


Sungguh berat bagi Ansel menahan hasrat dalam dirinya, ketika ia melihat di hadapannya sebuah panorama indah dari gunung kembar milik Irene yang begitu seksi, ditambah lagi lekuk tubuh indah sang istri benar-benar membuat junior Ansel yang sedang tertidur, mulai kembali bangkit seakan minta untuk dimanjakan.

__ADS_1


Namun, bila teringat kejadian di Birmingham saat Irene harus mengerang kesakitan karena kontraksi, nafsu yang sempat merayap naik itu perlahan-lahan mulai mereda dan berganti dengan rasa takut.


"Sabar, Ansel! Walau ini cobaan yang sangat berat, tapi kamu harus tetap kuat demi keselamatan anakmu yang berada dalam kandungan Irene. Oh sang waktu, cepatlah berlalu! Cepat antarkan aku menuju hari kelahiran yang begitu aku nantikan, agar setelah itu aku bisa kapan saja bercinta dengan Irene, tapi setelah aku pikir-pikir lagi, rasanya menunggu selama itu bisa membuatku mati berdiri," keluh Ansel di dalam hatinya yang meringis karena hasratnya selalu berakhir dengan kegagalan untuk dilampiaskan.


Begitu selesai mengenakan piyamanya, Irene pun menoleh ke arah Ansel yang ternyata masih diam mematung dengan baju tidur yang masih berada digenggaman tangannya. "Sayang, kok belum pakai baju? Memangnya kamu mau tidur pakai bathrobe yang basah itu?" tanyanya seraya melangkah untuk merapatkan jaraknya dengan posisi Ansel saat ini.


Setelah berada didekat suaminya, Irene tanpa aba-aba langsung menarik tali bathrobe yang melilit pada tubuh Ansel, hingga kain handuk berbentuk baju itu pun terlepas begitu saja dan menampilkan tubuh polos milik Ansel yang terlihat cukup seksi dengan roti sobek pada bagian perutnya.


"Cepat pakai bajumu ya sayang, nanti kamu masuk angin!" titah Irene dengan berbisik di telinga suaminya yang membuat Ansel kesulitan untuk menelan salivanya sendiri.


"I-iya. Kamu ke kamar duluan ya, nanti aku akan menyusul!" titah Ansel yang berusaha lebih keras untuk menahan dirinya. Namun, kali ini apa yang dilakukannya sungguh benar-benar membuat kepalanya terasa pening.


"Damn! Lama-lama aku bisa gila bila terus seperti ini! Sepertinya aku harus sharing dengan Ayah, apakah Ayah juga pernah mengalami apa yang aku rasakan saat ini? Sekarang 'kan Amma Dyra sedang hamil, apa Ayah juga menahan hasratnya demi janin yang berada dalam kandungan Amma ya?" batin Ansel bertanya-tanya dengan pikiran yang telah dipenuhi rasa penasarannya.


Setelah menimang-nimang cukup lama, Ansel pun memutuskan dengan penuh keyakinan.


"Ah, iya deh, aku tidak boleh memendam masalah ini sendirian, lebih baik aku sharing dengan orang yang sudah berpengalaman! Aku harap Ayah bisa menjawab segala pertanyaan yang sudah membuat kepalaku pusing memikirkannya," batin Ansel meyakinkan dirinya, kemudian ia mulai bergegas untuk mengenakan pakaian tidurnya.


Selesai dengan semua itu, kini Ansel mulai melangkah untuk keluar dari walking closet dan menuju ke arah ranjang dimana sang istri telah menunggunya di sana. Saat ini pandangan mata pria itu langsung tertuju kepada Irene yang sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Hai sayang, sini tidur dekat aku!" pinta Irene seraya mematikan ponselnya sebelum diletakkan di atas nakas yang berada di samping ranjang tidurnya.


Walau harus menelan salivanya berkali-kali. Namun, Ansel memutuskan untuk segera naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya tepat didekat Irene. Pria itu pun langsung mendekap tubuh sang istri sesuai dengan apa yang tadi diinginkannya.


"Sayang, aku bahagia sekali karena kita bisa melewati semua ini sama-sama," ucap Ansel dengan penuh senyuman dan sesekali tangannya mengusap perut Irene dengan perlahan.


"Iya sayang, aku nyaman sekali berada dalam dekapanmu. Bolehkan aku tidur?" tanya Irene meminta izin terlebih dulu kepada suaminya.


"Boleh sayang, tidurlah!" Ansel begitu lembut mengusap pucuk kepala istrinya yang semakin terbuai dengan kenyamanan yang saat ini diberikan olehnya.


Tanpa terasa Irene kini mulai terlelap dengan napasnya yang terdengar sangat beraturan.


"Irene itu cantik banget ya kalau sedang tertidur seperti ini." Ansel semakin kagum dengan apa yang dilihatnya saat ini, hingga pria itu pun mendaratkan sebuah kecupan mesra di atas permukaan bibir istrinya sebelum menyusul Irene ke alam mimpi.


Bahkan bukan hanya Irene, Ansel juga tidak lupa menyempatkan dirinya untuk mencium perut Irene sambil berbisik pelan dengan menempelkan bibirnya pada perut Irene. "Sayang, Mama dan Papa bobo dulu ya, kamu juga bobo yang nyenyak di dalam sana ya. Semoga kamu mimpi indah. I love you so much!'


Ansel kini mulai mengambil posisi nyamannya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah karena terlalu banyak menahan hasrat dalam dirinya untuk bercinta. Hingga tak butuh waktu lama, kedua mata pria itu pun sudah mulai terpejam yang menandakan bahwa ia telah lelap dalam tidurnya.


...🌺🌺🌺...

__ADS_1


Bersambung✍️


__ADS_2