
Selamat membaca!
Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 19.00 yang artinya malam dengan cahaya bulan mulai terpampang indah di langit yang luas.
Seperti yang telah dibicarakan oleh keduanya, saat ini Ansel telah berada di taman belakang bersama Darren, setelah ia memanggil sang ayah yang berada di dalam kamar untuk membicarakan masalah Bella yang saat ini tengah mendekam di balik jeruji besi. Sementara itu Irene pun sudah berada di dalam kamar Darren bersama Dyra dan Cassandra yang saat ini sedang menonton drama Korea favorit mereka.
Percakapan yang belum di mulai antara keduanya, berubah menjadi ketegangan ketika Ansel mengawalinya dengan sebuah pernyataannya, yang bertolak belakang dengan pendapat sang ayah.
"Ayah, aku yakin Amma tidak bersalah!" Ansel memulai percakapan dengan sesuatu yang membuat amarah Darren seketika timbul di dalam dirinya. Terlebih saat ia mengingat kejadian di luar mall saat itu, hampir saja membuat nyawa Dyra melayang.
"Jadi kamu sudah tahu kalau Bella masih hidup." Darren tak menyangka jika Ansel sudah mengetahui tentang Bella, sebelum dirinya memberitahukannya.
__ADS_1
"Amma menghubungiku saat aku masih di Birmingham, Ayah. Awalnya aku tak mempercayai itu Amma, tapi suaranya saat memanggil namaku tidak akan bisa aku lupakan dan memang benar ternyata Amma masih hidup." Ansel sesekali melihat wajah sang ayah yang saat ini masih tampak menyimpan amarah dalam dirinya. Amarah yang memang sering timbul ketika nama Bella kembali terdengar olehnya.
"Dia hampir membunuh Dyra dan aku tidak bisa memaafkannya. Sebaiknya kita tidak usah bahas masalah Bella, Ansel! Dan untuk rencanamu pergi ke rumah orang tua Irene besok, jangan di tunda lagi karena kasihan Irene, dia pasti sangat merindukan kedua orang tuanya."
Perkataan Darren memang ada benarnya, ia juga merasa bahwa istrinya tidak sepenuhnya bahagia, ia masih sering mendapati sang istri yang sedang termenung dan ketika ditanya Irene pasti selalu mengatakan tidak ada hal apapun yang dipikirkannya.
"Sebaiknya aku turuti apa yang Ayah katakan? Masalah Amma, aku bisa datang setelahnya dari rumah Irene," batin Ansel memutuskan.
Perkataan Ansel membuat Darren tertegun dan mulai mencerna setiap kalimat yang terucap dari mulut putranya itu.
"Ansel ada benarnya juga, mau bagaimanapun Bella pernah menjadi bagian dari hidupku. Apa tidak sebaiknya aku menyelidiki terlebih dahulu, apa benar Bella bersalah atau tidak?" batin Darren yang tengah bergelut dengan keraguannya.
__ADS_1
"Ayah, bagaimana?" Ansel kembali bertanya hingga membuat lamunan Darren seketika buyar dan mulai kembali menatap wajah putranya yang saat ini tengah menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Baiklah, aku izinkan. Saat ini Ayah bangga denganmu Ansel karena kamu semakin dewasa dalam melihat suatu masalah, tidak hanya dari satu sisi saja. Mulai besok Ayah juga akan meminta Benjamin untuk menyelidiki kasus Bella dan Ayah berharap keyakinan kamu itu terbukti benar!"
Ansel begitu sumringah setelah mendengar perkataan Darren. "Makasih,.Ayah. Percaya padaku, aku yakin di balik semua ini ada sebuah permainan dari seseorang yang membuat Amma sampai harus menanggung hukuman dari kesalahan yang tidak dilakukannya." Ansel pun mulai dapat bernapas dengan lega karena usahanya untuk meyakinkan sang ayah tidak berakhir sia-sia.
Saat ketenangannya mulai kembali bertahta dalam dirinya. Tiba-tiba sebuah ingatan tentang pertanyaan pribadi yang sebenarnya malu untuk ditanyakan oleh Ansel, kembali menyeruak ke dalam pikirannya.
"Apa ini saatnya aku menanyakan tentang Irene ya? Tapi aku malu, apa pertanyaan itu pantas untuk aku tanyakan kepada Ayah?" batin Ansel yang tengah bimbang dengan keputusannya.
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
Bersambung✍️