
Selamat membaca!
Darren mengesah kasar untuk membuang rasa kesal yang sempat hinggap di hatinya. Mau bagaimanapun Ansel adalah anaknya dan tidak sepatutnya ia marah. Terlebih Darren saat ini benar-benar menaruh titik kesalahan pada Irene, yang dianggapnya sebagai wanita rendahan yang mau saja diajak mabuk oleh pria yang statusnya sudah hampir menikah.
Lagipula Ansel juga sudah sempat mengatakan keinginannya, jika ia ingin bicara berdua dengan Dyra, sebelum pergi untuk pindah dari rumah yang sudah sejak kecil ditempatinya.
Kini Darren menatap wajah Dyra, menunggu jawaban darinya yang entah setuju atau tidak atas permintaan Ansel.
Namun tanpa mereka duga, Dyra mengangguk untuk menyetujui keinginan Ansel. "Jika itu keinginanmu, Ansel. Aku tidak keberatan," jawab Dyra menatap wajah Ansel penuh keyakinan.
Ansel tersenyum puas, lalu ia bangkit dari duduknya untuk meninggalkan ruang makan menuju taman. Namun Irene meraih tangan Ansel dan menahannya langkahnya.
Ansel menatap dengan sorot mata yang tajam. Rahangnya ikut mengeras, menampilkan ketidaksukaannya pada Irene yang sama sekali tidak berhak atas dirinya. Ia pun menyibakkan tangannya dari genggaman Irene dengan kasar, hingga tangan wanita itu terbentur bibir meja begitu keras.
Irene mengaduh sambil menahan rasa sakitnya, bukan hanya pada tangan yang seketika meninggalkan memar, melainkan juga hatinya yang merasa sama sekali tak dianggap keberadaannya oleh siapapun di rumah ini.
"Ansel!" bentak Dyra seketika, saat melihat perlakuan kasar Ansel pada istrinya sendiri.
"Maaf, aku tidak sengaja," jawab Ansel dengan begitu entengnya.
Ia kemudian berlalu meninggalkan Dyra, yang masih menatapnya penuh rasa tidak percaya atas sikap Ansel terhadap Irene.
Dyra seketika bangkit dari kursinya dan berjalan memutari meja untuk mendekati Irene. Lalu diraihnya lengan mungil Irene yang terlihat lebih kurus dari hari pertama kedatangannya di rumah ini. Dyra melihat tangan Irene yang memar, menunjukkan warna biru keungu-unguan dan sedikit bengkak.
"Ini harus segera diobati, biar tidak semakin bengkak," ucap Dyra dengan begitu lembutnya.
Dyra meminta salah seorang pelayan untuk membawakan satu baskom air dingin dan handuk kecil, juga kotak P3K untuk mengobati dan meredakan rasa sakit yang Irene rasakan saat ini.
__ADS_1
Darren tak menggubrisnya. Ia pun tak menyalahkan Ansel atas perlakuan kasarnya terhadap Irene. Darren hanya menatap dengan wajah datar, tanpa menunjukkan rasa empati sedikit pun atas apa yang terjadi dengan Irene.
Irene merasa gugup saat Dyra menyentuh tangannya dengan lembut, wanita itu sama sekali tidak ingin mencengkram lengan Irene untuk melampiaskan rasa sakitnya, karena telah merebut Ansel dari hidupnya.
"Ternyata wanita yang bernama Dyra ini sungguh baik, pantas saja Ansel begitu mencintainya. Sekarang aku tahu alasannya," batin Irene menatap dalam wajah Dyra yang saat ini begitu peduli padanya.
"Amma, tidak perlu seperti ini. Tanganku tidak terlalu sakit, mungkin sebentar lagi memarnya akan hilang." Irene mencoba menarik tangannya dari genggaman Dyra, walau agak canggung memanggilnya dengan sebutan Amma, namun ia memang harus terbiasa dengan semua itu, karena Dyra saat ini adalah ibu sambung dari Ansel suaminya.
"Apanya yang tidak sakit, Irene. Tanganmu sangat memar, kalau tidak diobati dengan segera maka ini bisa lama hilangnya dan akan terasa nyeri. Sudah, biarkan aku mengobatinya!" titah Dyra bersikekeh.
Irene pun tidak berani membantahnya. Ia menurut saja dengan apa yang ingin dilakukan oleh Dyra.
Tak lama kemudian seorang pelayan datang menghampiri mereka, ia berdiri di samping Dyra dan meletakkan baskom kecil yang berisi air dingin, satu buah handuk kecil dan kotak P3K di atas meja makan.
Dyra segera merendam sapu tangan di dalam air dingin, lalu memerasnya dengan perlahan, agar tidak terlalu kering. Setelah itu Dyra mulai mengompres memar di tangan Irene untuk meredakan rasa sakitnya.
Selesai mengompresnya, Dyra segera mencari salep khusus untuk luka memar di dalam kotak P3K. Setelah berhasil menemukannya, ia segera mengoleskan salep yang berbentuk gel itu pada permukaan kulit Irene yang terlihat memar. Bahkan Dyra meniup-niupkannya, agar salep cepat mengering dan meresap.
Namun seketika wajahnya berubah sendu dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Ia merasa terharu sampai membuat air mata mulai menganak pada kelopak matanya. Hatinya kini begitu terenyuh, mendapat perhatian dari Dyra yang membuatnya sedikit bahagia, karena setidaknya ada satu orang di rumah ini yang menganggap keberadaannya.
"Apa Ansel sering bersikap kasar padamu, Irene?" tanya Dyra mencoba untuk berhati-hati dalam bertanya.
Irene menatap kedalaman mata Dyra, yang seolah mengerti akan perasaannya. "Ti-tidak Amma, tadi Ansel pasti tidak sengaja melakukannya, karena terlalu bersemangat untuk pergi ke taman." Irene menutupi keburukan Ansel di depan Dyra dan Darren.
Dyra tersenyum, walau terkesan dipaksakan. Ia dapat melihat sorot mata Irene yang sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Dyra terus berupaya untuk menguatkan Irene, hatinya kini begitu yakin dan merasakan bahwa batin Irene saat ini begitu tersiksa. Saat ini Dyra mencoba untuk pura-pura percaya dengan perkataan Irene.
"Apa kamu keberatan, jika aku menemuinya di taman?" tanya Dyra lagi, mencoba menyelami kedalaman hati Irene untuk lebih mengenalnya.
__ADS_1
Irene menggeleng. "Sama sekali tidak, Amma. Hanya saja aku kecewa dengan Ansel, karena dia sama sekali tak pernah menghiraukan keinginanku sebagai istrinya."
"Itu yang akan aku bicarakan padanya, kamu tenang saja semua akan baik-baik saja. Kalau begitu aku pergi dulu ya," ucap Dyra sambil mengusap punggung tangan Irene.
Dyra bangkit dari duduknya, lalu ia menatap Darren yang tengah termangu menyaksikan adegan penuh haru di hadapannya.
"Hubby, apa boleh aku menemui Ansel sekarang di taman?"
"Tentu boleh, sayang. Pergilah, tapi jangan lama-lama ya."
"Baik, Hubby."
Dyra pun melangkah pergi, menuju taman dan meninggalkan Darren berdua Irene di ruang makan. Darren menatap kepergian Dyra dengan senyum yang terbentuk di wajahnya. Ia percaya bahwa Dyra mampu membuat Ansel sadar tentang kesalahannya.
"Sepertinya semakin lama aku melihat wanita ini tampak baik, mungkin sebaiknya aku tidak percaya begitu saja dengan cerita yang Ansel katakan. Aku akan menyuruh Owen untuk menyelidiki asal-usul wanita ini," gumam Darren yang sesekali menatap Irene sambil terus menikmati sup yang kini sedang dicicipinya.
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
NB : Amma adalah panggilan ibu di Korea
Berikan komentar kalian ya?
Terima kasih banyak atas dukungan kalian selama ini.
Jangan lupa terus berikan like di setiap episode dan vote kalian ya.
__ADS_1
Baca juga karyaku dengan judul ini ya untuk yang suka genre action romantis :