Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Pemberian Evran


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah mengantar Irene sampai masuk ke dalam kamar. Tibalah saatnya untuk Evran pergi meninggalkan wanita itu sendiri di apartemennya.


"Sekarang saya pergi dulu ya. Jika perlu sesuatu kamu bisa menghubungi saya!" titah Evran dengan senyum ramahnya.


"Tapi maaf Dokter saya tidak memiliki ponsel lagi sekarang, karena saya sudah menjualnya," jawab Irene dengan raut sendu di wajahnya, ia tak menceritakan dengan detail untuk menutupi aib suaminya.


Evran seketika diam, perkataan yang terlontar dari mulut Irene, membuatnya semakin iba atas keadaan yang dialami oleh wanita yang saat ini masih terus dipandanginya.


"Padahal mertuanya itu orang terkaya di Korea, tapi ternyata wanita ini sampai menjual ponselnya. Ya ampun, ternyata nasibnya berbanding terbalik dengan statusnya sebagai menantu dari anak konglomerat," batin Evran yang lalu terbesit sebuah ide di dalam pikirannya.


Evran pun mengambil sebuah ponsel pada saku jasnya. Kebetulan pria itu memiliki dua buah ponsel yang selalu dibawanya.


"Ini untukmu, ambillah. Hanya saja untuk sementara gunakan nomor yang ada pada ponsel itu, tidak perlu diganti!" titah Evran dengan menyodorkan ponsel kehadapan Irene.


"Tapi ini terlalu merepotkan Dokter." Dengan cepat Irene mengembalikan ponsel itu ke tangan Evran.


"Tidak apa Nona, ambillah! Jika kamu tidak memiliki ponsel saya akan sangat sulit menghubungimu nanti. Kalau memang kamu tidak mau mengambilnya, lebih baik aku menginap saja di sini ya!" Evran mengangkat kedua alisnya untuk menggoda Irene, dengan maksud, agar wanita itu mau mengambil ponsel yang diberikannya.

__ADS_1


Perkataan yang dilontarkan oleh Evran sontak membuat Irene begitu terkejut dan dengan cepat wanita itu langsung menyambar ponsel dari tangan Evran.


"Baiklah saya terima."


Evran menahan gelak tawanya, ketika ancaman sandiwaranya berhasil membuat Irene mau untuk mengambil ponsel yang ia berikan.


"Kalau begini aku sekarang bisa tenang, karena ponsel itu sudah memiliki GPS yang terhubung dengan ponselku yang satunya, jadi aku bisa melacak keberadaan Irene, bila dia pergi dari apartemen ini," gumam Evran tersenyum tipis saat rencananya berhasil.


Evran pun kembali melanjutkan langkah kakinya untuk keluar dari apartemen.


"Ya sudah kalau begitu saya pergi ya. Jaga dirimu Nona dan anggap apartemen ini seperti milikmu sendiri, jadi kau tak perlu sungkan, oke!"


"Saling membantu itu memang sudah tugas saja. Oh ya, tolong pikirkan nasihat saya ya!" ucap Evran menghentikan langkahnya diambang pintu.


"Apa itu Dokter?" tanya Irene yang memang tidak mendengar sama sekali, apa yang Evran katakan saat pertama kali mereka masuk ke dalam lobi.


Evran yang teringat akan hal itu, langsung geleng-geleng dibuatnya. "Iya ya, bagaimana kamu bisa dengar? Orang saya bicara sendiri ya." Pria itu kini tertawa renyah, ia tak mampu lagi menahannya di depan Irene.


"Semakin lama Dokter ini seperti bukan orang asing untukku, dia sangat baik dan aku beruntung bisa mendapatkan pertolongan darinya," batin Irena yang hanya diam dengan pikirannya, saat melihat Evran tertawa.

__ADS_1


Setelah mengulangi nasihatnya yang ditujukan untuk Irene. Kini Evran pun pergi meninggalkan apartemen. Sementara itu Irene masih terdiam dan hanya mematung dengan pikirannya untuk mencerna setiap nasihat yang dokter itu sampaikan padanya.


"Ansel memang sedang mengalami kebutaan, betul apa yang Dokter itu katakan, tapi sepertinya aku tidak bisa kembali," batin Irene sambil menghela napasnya.


"Andai saja Ansel mencintaiku, pasti semua tidak akan serumit ini. Walau memang betul apa yang Dokter itu katakan padaku, jika saat ini bukanlah waktu yang tepat untukku pergi di saat Ansel masih belum dapat melihat. Jadi apa sebaiknya aku kembali pulang saja?"


Terjadi pergolakan hebat dalam pikiran Irene yang membuatnya bimbang untuk memutuskan. Namun, setelah menimang-nimang segala sesuatunya dan mengingat semua perlakuan Ansel terhadapnya. Wanita itu pun dengan mantap memutuskan, bawah ia akan tetap pergi meninggalkan Ansel.


"Yang terbaik adalah tetap pergi, karena aku percaya, jika cinta pasti akan menemukan jalannya sendiri untuk pulang, bila memang itu takdirnya," batin Irene menatap ke arah pintu yang sudah tertutup.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Berikan komentar kalian ya.


Terima kasih banyak.


Maaf bila akhir-akhir sering update hanya satu episode. Maklum penulisnya laki-laki jadi membagi waktu antara bekerja dan menulis benar-benar sangat sulit.

__ADS_1


Tetap berikan semangat kalian ya dengan vote dan like di setiap episodenya.


__ADS_2