
Selamat membaca!
Sesampainya di pelataran rumah. Owen langsung membukakan pintu mobil untuk Darren dan Dyra. Darren keluar lebih dulu dari mobil, diikuti oleh Dyra yang menyusul di belakangnya.
Saat Darren hendak melangkah masuk ia melihat Dyra, masih diam mematung sambil memegangi kepalanya, wajahnya terlihat memucat.
"Apa kamu baik-baik saja, Dyra?" tanya Darren yang kembali ke hadapannya, memastikan kondisi wanita itu baik-baik saja.
"Kepalaku tiba-tiba pusing."
Darren akhirnya memutuskan untuk berdiri membelakangi Dyra dengan setengah membungkuk.
"Naiklah, biar aku gendong," tawar Darren kepada Dyra, walau sempat mendapat penolakan, namun akhirnya Dyra menuruti perintah Darren dengan naik ke tubuhnya.
Darren mulai berdiri tegak, dengan menahan kedua paha Dyra menggunakan kedua tangan yang mengait ke belakang tubuhnya. Wajah Dyra yang pucat, seketika merona merah menahan rasa malunya di depan Owen dan Erin yang sedang menyaksikan kemesraan mereka.
"Kenapa jantungku jadi berdegup tak beraturan seperti ini ya? Sepertinya hubungan ini bukan lagi antara anak dan ayah, tapi lebih dari itu. Aku mulai merasa perhatian yang diberikan Ayah lebih besar dari perhatian yang diberikan orangtua kepada anaknya, dia seperti menganggap aku benar-benar sebagai istrinya. Apa dia mencintaiku? Tapi jika memang benar, kenapa dia tak pernah mengatakannya padaku," batin Dyra menerka-nerka sambil terus mengingat semua perhatian yang telah diberikan oleh Darren kepadanya.
__ADS_1
Erin terlihat bergelayut manja di lengan Owen, membuat Owen tampak risih dan menjadi tak enak hati, jika sampai hubungannya dengan Erin yang sudah terjalin selama dua bulan diketahui oleh Darren.
"Lepasin Erin, nggak enak itu nanti Tuan Darren lihat," ucap Owen sambil berusaha melepaskan tangan Erin pada lengannya.
"Ih, emangnya kenapa harus malu sih? Biar saja Tuan.....," protes Erin yang tiba-tiba langsung menghentikan perkataannya, karena Owen tengah menutup mulut wanita itu dengan telapak tangannya.
Pertengkaran yang terjadi di antara mereka, ternyata masih dapat didengar oleh Darren.
"Owen, aku sudah tahu sejak sebulan lalu, lepaskan Erin dan bersikap baiklah terhadapnya," ucap Darren dengan suara yang keras, sebelum menaiki anak tangga menuju kamar Dyra.
Tingkah keduanya mengundang gelak tawa yang membuat Dyra kini dapat tersenyum dan tertawa kecil. Melihat akan hal itu, Darren menjadi jauh lebih tenang dari sebelumnya, ia sungguh bahagia melihat senyum manis yang mulai terlukis di wajah cantik Dyra.
"Semoga senyuman itu awal dari kebahagiannya, karena kebahagiaan Dyra Anastasya adalah kebahagiaanku, dan kesedihannya adalah kehancuranku," batin Darren mengingat kenangan masa lalunya saat melihat kesedihan Dyra.
Suatu sore saat Dyra begitu bersedih karena kehilangan hewan peliharaannya yang mati karena tertabrak sepeda motor. Dyra tak melakukan aktivitasnya seperti biasa, ia lebih sering mengurung diri di rumahnya, karena rasa kehilangan yang begitu mendalam.
Saat itu Darren mencarinya di seluruh kampus, hingga akhirnya Darren datang ke rumahnya secara diam-diam tanpa Dyra ketahui, dan saat itu akhirnya Darren mengetahui alasan yang membuat Dyra begitu bersedih, setelah temannya memberitahukan pada Darren.
__ADS_1
"Jadi karena itu Dyra bersedih," ucap Darren jadi memiliki sebuah ide yang terbesit dalam pikirannya.
Keesokan harinya Dyra kembali tersenyum ketika menerima sebuah paket yang berisikan seekor kucing berwarna putih, persis dengan kucing kesayangannya yang telah mati tertabrak sepeda motor.
Sejak saat itu Dyra kembali tersenyum, raut wajahnya yang sendu seketika sirna, berganti kebahagiaan. Sementara itu Darren yang terus memperhatikan dari dalam mobil, ikut merasa bahagia dengan kebahagiaan Dyra.
"Jangan menangis lagi ya Dyra, karena air matamu adalah siksaan untukku," gumam Darren yang langsung memerintahkan kepada Owen untuk melajukan mobilnya kembali.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Terima kasih atas dukungannya ya..
Terus dukung karyaku ini dengan like, komentar dan vote kalian ya.
__ADS_1