
Selamat membaca!
Setelah mendapat penanganan dari dari team medis. Kini Dyra sudah terbaring di atas ranjang. Ruangan VVIP pun menjadi pilihan bagi Darren, sebagai tempat untuk istrinya melewati proses penyembuhannya selama di rumah sakit.
Darren kini sudah duduk dengan raut cemas yang masih belum sirna di wajah tampannya. Ia pun beberapa kali menghela napas dengan kasar, untuk membuang rasa cemas yang menghimpit dadanya.
"Sayang, sadarlah." Darren menggenggam tangan Dyra dengan erat dan sesekali mencium punggung tangan istrinya itu.
Tak lama kemudian, Dyra mulai mengerjapkan kedua matanya. Darren yang melihatnya dengan cepat bangkit dan mendekatkan wajahnya ke wajah Dyra yang sudah mulai membuka mata.
"Hubby, dimana ini?" tanya Dyra dengan parau sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Ini di rumah sakit, aku menemukanmu dalam keadaan pingsan di dalam mobil. Sebenarnya apa yang terjadi denganmu sayang?" tanya Darren sambil mengusap dahi istrinya itu, lalu memberi kecupan lembut pada kening Dyra, yang saat ini tengah memutar otak untuk mengingat hal yang dialaminya sebelum ia tak sadarkan diri.
Kening Dyra sudah mengerut dalam. Cuplikan-cuplikan ingatan mulai terbesit di dalam pikirannya, hingga ia akhirnya dapat mengingat jelas semua yang terjadi padanya sewaktu di dalam mobil.
"Aku ingat semuanya, tadi setelah mengisi materi di kelas kepalaku sakit sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk segera pulang ke rumah, tapi saat aku di dalam mobil, tubuhku seketika lemas dan sakit kepalaku semakin bertambah. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi, Hubby."
"Astaga, ternyata perkataan pria tadi benar adanya. Aku sudah salah, karena menuduh dia sembarangan," batin Darren menyesal dengan apa yang telah dilakukannya.
Darren menepikan semua penyesalannya, karena ia tak ingin Dyra mengetahui perkelahiannya dengan Bian. Darren pun kembali mengusap pucuk kepala istrinya, ada perasaan bersalah dalam hatinya, karena sudah memukul Bian yang sebenarnya hanya berniat untuk menolong istrinya, yang tadi sedang pingsan di dalam mobil.
"Ya sudah, kamu lanjut istirahat ya, jangan terlalu banyak berpikir nanti kepalamu semakin sakit."
__ADS_1
"Sakit kepalaku sudah hilang, Hubby. Memang tadi dokter bilang apa tentang aku?" tanya Dyra penasaran dengan kedua alis yang saling bertaut.
Darren menyunggingkan senyumannya, berusaha tetap terlihat tenang di hadapan Dyra. Namun, rasa cemas itu tak dapat disembunyikan dari sorot matanya yang terlihat sendu.
"Dokter bilang kamu sangat kelelahan, tekanan darahmu rendah karena kurang tidur. Maafkan aku ya, karena sering membuatmu bergadang sampai kamu jatuh sakit seperti ini," ucap Darren penuh rasa bersalah.
"Hubby, semua ini bukan salahmu. Kita kan memang sepakat untuk mempercepat kehamilanku, agar rumah kita ramai dengan suara tangisan bayi."
Darren menatap lekat wajah istrinya dengan tatapan sendu. "Ternyata permintaanku sangat berlebihan sampai membuatmu sakit seperti ini."
Dyra merasa sangat bahagia dengan semua perhatian Darren terhadapnya, walau sebenarnya ia merasa suaminya itu terlalu berlebihan dalam mengkhawatirkan kondisinya.
"Kamu sungguh pria terbaik dalam hidupku, Hubby. Semua perhatian darimu, membuatku merasa sangat beruntung karena telah memilikimu," batin Dyra sambil menatap wajah suaminya dengan penuh rasa kagum.
"Jangan, kamu tidak boleh pulang sebelum sembuh. Sementara waktu kamu perlu perawatan intensif di rumah sakit," protes Darren dengan raut cemas di wajahnya.
Tiba-tiba Dyra mengangkat kepalanya dan langsung mencium bibir suaminya itu. Hingga membuat Darren terhenyak dengan kedua bola mata yang membulat sempurna.
"Kamu ini bahkan saat lagi sakit seperti ini masih saja menggodaku," protes Darren tak percaya dengan tingkah istrinya saat ini.
"Habis kamu itu terlalu khawatir Hubby. Aku itu tidak perlu dirawat intensif, aku hanya butuh tidur yang panjang, satu dua hari juga aku pasti sudah sembuh."
Darren terdiam sejenak mencerna setiap perkataan yang terucap dari mulut Dyra. Hingga tiba-tiba saja, terlintas di dalam pikirannya sebuah permintaan yang sangat ingin ia sampaikan kepada Dyra. Daren pun berpikir keras untuk mempertimbangkan semua keinginannya, ia tak ingin Dyra sampai sedih atau kecewa dengan apa yang dikatakannya nanti. Selama beberapa menit Darren terus hanyut dalam keraguannya, hingga akhirnya ia pun coba memberanikan diri untuk mengatakan pada Dyra, walau mungkin permintaannya itu akan mendapat penolakan dari istrinya sekalipun.
__ADS_1
"Tapi aku ada satu permintaan sama kamu?" tanya Darren dengan kedua alisnya yang saling bertaut.
"Apa itu Hubby? Kenapa aku ingin pulang saja kamu harus mengajukan permintaan segala?" protes Dyra dengan mengerucutkan bibirnya tanda ia tak suka.
Darren terkekeh lucu melihat raut wajah Dyra, yang saat ini tampak semakin menggemaskan. "Permintaanku tidaklah sulit sayang. Aku hanya ingin kamu mengundurkan diri dan berhenti mengajar, apakah kamu tidak keberatan?" tanya pria itu dengan masih menggenggam erat tangan wanita yang saat ini terus ditatapnya.
Dyra terkesiap tak menyangka dengan permintaan Darren. Ia sejenak diam, namun otaknya terus berpikir keras untuk memutuskan apa yang saat ini harus dijawabnya.
"Aku tahu kamu bingung, tapi aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang sayang. Kamu pikirkan dulu dan aku akan mengurus kepulanganmu." Darren mengusap pucuk rambut istrinya itu, lalu kemudian melangkahkan kakinya menuju keluar kamar.
Dyra terus menatap kepergian Darren dengan rasa bingung yang masih bergelut di dalam pikirannya. "Aku mengerti maksudmu Hubby, sepertinya memang tidak ada salahnya aku pensiun dari kampusku. Lagipula Bian pasti tidak akan berhenti untuk terus mendekatiku," ucap Dyra mulai meyakini keputusannya.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Berikan komentar kalian ya?
Terima kasih banyak.
Mampir juga ke karya aku yang lain ya :
__ADS_1