Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
S2 : Sebuah Bayangan


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah melakukan pencarian ke mana-mana, Ansel masih belum juga menemukan keberadaan Irene. Sampai akhirnya, suara announcement mulai terdengar di seluruh bandara.


Your attention please, passengers of Birmingham Airlines on flight number 567B to Seoul. Please boarding from door A12. Thank you.


"Ya Tuhan, aku harus segera masuk ke dalam pesawat, tapi Irene ke mana ya?" Ansel masih terus mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Namun, tetap saja sosok Irene tak juga berhasil ditemukan olehnya hingga pria itu kini tertunduk lesu di sebuah kursi dengan raut wajahnya yang sendu.


"Apa ini karena aku membohongi Ayah? Jadi sekarang aku benar-benar akan pulang sendiri ke Korea?" tanya Ansel pada dirinya sendiri sambil menghela napasnya yang terasa berat. Bahkan saat ini kedua matanya sudah tampak berkaca-kaca. Di saat keputusasaannya sudah benar-benar menenggelamkan dirinya dalam kesedihan, tiba-tiba sentuhan tangan seseorang pada pundaknya membuat pria itu menengadahkan kepala dengan perlahan untuk melihat siapa gerangan yang tengah berada di sampingnya saat ini.


"Irene." Seketika senyuman itu mulai mengembang dari kedua sudut bibirnya saat sosok yang sejak tadi membuatnya resah, kini sudah ada di dalam manik matanya. Ansel pun langsung bangkit dari posisi duduknya dan terus menatap istrinya dengan raut wajah yang menampilkan kesedihan yang begitu mendalam.


"Lho, kamu kenapa Ansel? Kok kamu nangis?" tanya Irene dengan menangkup kedua sisi wajah suaminya yang telah basah oleh air mata.


Tanpa menjawab pertanyaan Irene, pria itu langsung menarik tubuh istrinya untuk masuk ke dalam dekapannya. "Aku takut kehilanganmu, Irene," ucap Ansel sambil terus memeluk istrinya dengan erat.

__ADS_1


Irene pun tersenyum dengan apa yang didengarnya. Ia merasa tersentuh atas kesedihan suaminya yang saat ini menampilkan raut penuh kesedihan saat kehilangannya, walau wanita itu sebenarnya hanya meninggalkannya untuk sejenak ke bathroom.


"Aku tidak mungkin meninggalkanmu, Ansel. Kamu tidak usah takut lagi karena kita tidak akan pernah terpisah, kecuali kematian yang memisahkan kita." Irene melepas pelukan suaminya yang begitu erat mendekapnya. Ia kemudian menatap manik mata Ansel yang saat ini tengah memerah dengan buliran air mata yang masih basah di sana.


"Maafkan aku ya, aku begitu lemah kalau itu menyangkut kamu. Aku itu takut kehilangan kamu untuk kedua kalinya." Ansel mulai mengusap air matanya dan kini raut wajahnya tampak lebih tenang dari sebelumnya.


"Iya enggak apa-apa, aku malah bahagia karena sekarang aku jadi tahu, kalau ternyata aku itu sangat berharga untuk kamu." Irene pun tersenyum manis sembari membantu Ansel dengan mengusap wajah suaminya dari sisa-sisa air mata yang masih tertinggal di sana.


"Ya sudah yuk, sekarang kita pulang! Nanti setelah kita tiba di Korea, aku akan mengantarmu untuk pergi tempat orang tuamu."


"Terima kasih ya,.sayang. Aku itu memang sangat merindukan keluargaku, walau aku tidak tahu apa mereka sudah memaafkan aku atas kehamilanku ini, tapi sesungguhnya aku tidak ingin mereka ikut membenci anak dalam kandungku yang merupakan cucu untuk mereka."


Ansel langsung menyentuh sebelah pipi istrinya setelah mereka melepas pelukannya.


"Kamu tenang saja, tidak ada orang tua yang bisa lama-lama marah terhadap anaknya, aku yakin mereka pasti menunggu kamu untuk datang ke rumah. Maafkan aku ya karena kebodohan, rencana kita untuk datang ke sana, malah gagal dan kamu jadi masuk rumah sakit. Aku itu memang suami yang tidak bergu--"

__ADS_1


Irene langsung menempelkan jari telunjuknya pada bibir suaminya hingga membuat Ansel tak dapat melanjutkan perkataannya. "Sudah, sayang! Aku sudah bilang jangan bahas masa lalu lagi. Sekarang lupakan masa lalu dan kita jalani masa depan kita dengan sebaik-baiknya."


"Iya, sayang. Maaf ya terkadang aku sangat sulit untuk melupakan semua kesalahan yang pernah aku lakukan padamu. Semua itu seperti mimpi buruk, malah aku sering berpikir andai waktu bisa aku putar ulang, aku ingin sekali memperbaiki saat pertama kali kita berkenalan di bar itu."


"Apa yang terjadi itu sudah takdir, sayang? Mungkin jika waktu itu kamu tidak melakukan hal seperti itu, aku sudah menikah dengan Suga dan pastinya tidak akan bersamamu."


Tiba-tiba sebuah bayangan muncul melekat erat dalam mata Ansel yang membuatnya beringsut beberapa langkah ke belakang ketika mendengar nama itu terucap dari mulut Irene.


Bayangan di mana ada seorang pria tengah dihajar oleh 4 orang laki-laki di sebuah danau hingga tak sadarkan diri. Bukan hanya dengan tangan kosong, tapi juga menggunakan sebuah balok yang dihantamkan ke seluruh tubuhnya.


"Ansel kamu kenapa?" tanya Irene yang cemas dengan apa yang terjadi pada suaminya yang saat ini hampir terjatuh ke lantai.


"Bayangan apa itu? Apa itu yang di maksud Owen? Jika Suga meninggal karena dianiaya," batin Ansel penuh tanda tanya.


...🌺🌺🌺...

__ADS_1


Bersambung✍️


__ADS_2