
Selamat membaca!
Dinginnya malam yang terasa mulai menusuk di kulit, membuat Darren mengajak putranya untuk melanjutkan percakapan mereka yang belum terselesaikan di ruang keluarga. Kala itu pikiran Ansel masih menyimpan sebuah pertanyaan yang begitu bimbang untuk ia tanyakan kepada sang ayah. Namun, setelah Ansel mempertimbangkan dengan seksama pria itu pun akhirnya memutuskan untuk tetap bertanya pada sang ayah, walau mungkin dirinya harus menahan malu.
"Tapi lebih baik aku menahan malu daripada harus menahan hasrat yang malah membuat kepalaku pening," batin Ansel yang kini mulai duduk di sebuah sofa, mengikuti Darren yang terlebih dulu menempati sofa yang berada di seberangnya.
"Jadi bagaimana Ansel? Selama di Birmingham apa saja yang kamu alami dan bagaimana kamu bisa menemukan Irene?" tanya Darren mengawali percakapan mereka.
"Ceritanya panjang Ayah, tapi secara singkat, aku merasa sangat beruntung dan seolah semua ini memang sudah menjadi takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan. Ayah tahu tidak, aku itu sudah mencari Irene kemana-mana, tapi ternyata Irene bekerja sebagai resepsionis di hotel yang aku tempati. Bahkan waktu pertama kali aku tiba di hotel, saat itu aku seperti melihat Irene, tapi waktu itu aku menampiknya karena aku pikir aku baru saja tiba di Birmingham masa usahaku yang belum di mulai sudah berakhir begitu saja dengan pertemuanku."
Darren pun tersenyum dengan pengalaman yang Ansel ceritakan padanya. "Kalian memang jodoh, jadi takdir pasti mempertemukan kalian dengan mudah. Berbeda jika kalian tidak berjodoh, kamu mau mencari Irene sampai keliling dunia pun pasti tidak akan ketemu." Darren ikut bahagia dengan kebahagiaan yang saat ini terlihat jelas dari raut wajah Ansel, ketika pria itu begitu antusias dalam menceritakan pengalamannya di Birmingham.
Kini rasa bimbang kembali menguasai dirinya. Bahkan lebih besar dari yang sebelumnya ada di pikirannya. Kebimbangan itu akhirnya membuat Ansel mengurungkan niatnya untuk bertanya masalah pribadinya kepada Darren.
"Ya sudah Ayah, kalau begitu aku mau kembali ke kamarku ya" ucap Ansel mengurungkan niatnya dengan raut wajahnya yang serba salah.
Saat Ansel hendak pergi, bersamaan dengan itu, Dyra dan Irene tiba-tiba datang ke ruangan keluarga. "Irene kok kamu ke sini? Baru saja aku ingin ke atas," tanya Ansel dengan kedua alis yang saling bertaut.
__ADS_1
"Amma yang menyuruh aku ke sini Ansel." Jawaban Irene semakin membuat pria itu penasaran dan memilih untuk kembali duduk di posisinya semula.
"Memang ada apa sayang?" timpal Darren dengan pertanyaan karena ikut penasaran atas alasan Dyra sampai menyusulnya ke bawah.
"Begini Hubby, Irene itu sewaktu di Birmingham pernah mengalami kontraksi dini dan waktu itu Ansel sampai harus menggendong Irene dan membawanya ke rumah sakit. Nah, sejak saat itu sampai tadi saat mereka ingin berhubungan, Ansel selalu mengurungkan niatnya untuk melakukan itu karena trauma kejadian di Birmingham akan terulang lagi. Ansel berniat akan kembali melakukannya, setelah Irene melahirkan."
Irene menatap Ansel dengan rasa bersalahnya karena ia harus menceritakan kepada Dyra, agar Dyra bisa memberitahukan kepada Ansel apa yang sebenarnya diperbolehkan atau tidak di saat dirinya mengandung saat ini, tentunya melalui Darren suaminya.
"Betul begitu Ansel, jadi kamu trauma dengan semua itu? Dan ingin melakukan hubungan suami-istri setelah Irene melahirkan anak pertamamu," tanya Darren yang saat ini sedang menahan rapat-rapat mulutnya agar tidak tertawa.
Namun, semampu apapun dirinya menahannya, tetap aja pada akhirnya suara tawa renyah itu terdengar keras memenuhi seisi ruangan. Raut wajah Ansel seketika memerah karena menahan rasa malu yang tengah menyelimuti dirinya saat ini.
"Aku percaya padamu, Ayah."
"Baiklah Ansel, jadi untuk berhubungan suami-istri selama trimester pertama itu kamu harus melakukannya dengan perlahan dan jangan samakan saat Irene sebelum hamil. Intinya kamu tidak perlu menggebu-gebu melakukannya, santai saja oke! Ingat di dalam kandungan istrimu ada anak yang harus kalian jaga. Oh ya, satu lagi! Masalah posisi, sebaiknya women on top, jangan digunakan dulu ya, Ansel!"
Ansel menggaruk kulit kepalanya yang tak terasa gatal sama sekali ketika mendengar kalimat yang ayahnya ucapkan.
__ADS_1
"Iya Ayah, aku mengerti. Ya sudah kalau begitu aku dan Irene istirahat dulu ya, Ayah. Terima kasih juga Amma karena sudah membantuku." Pandangan Ansel mulai beralih dengan menatap sang istri yang sejak tadi terus saja memandanginya karena ia merasa takut, keputusannya untuk bercerita kepada Dyra akan membuat Ansel marah padanya.
"Iya Ansel, selamat istirahat ya. Oh ya, ingat besok jangan terlalu siang ke rumah Irene karena Ayah juga akan ikut kamu untuk menjenguk Bella di penjara."
"Baiklah Ayah, jam 9 saja ya." Setelah menjawabnya Ansel pun langsung menggenggam tangan sang istri, kemudian mulai melangkah untuk berlalu dari kedua orang tuanya.
Sementara itu Darren masih terus memandangi kepergian anak dan juga menantunya menaiki anak tangga.
"Sayang, tadi maksudmu Bella? Memang ada apa dengan Bella?" tanya Dyra yang mulai terbiasa menyebut nama Bella, sesuai perintah suaminya.
"Ya tadi itu Ansel mengatakan, bahwa dia percaya jika Bella tidak bersalah. Maka itu, besok aku akan meminta bantuan Benjamin untuk mencari bukti, apakah memang benar Bella tidak bersalah? Dan jika benar, lantas penyerangan itu atas perintah siapa? Setelah aku pikir-pikir kalaupun ada yang patut dicurigai, hanya ada satu orang, yaitu Isco."
Perkataan Darren sontak membuat Dyra terkejut. Ada rasa takut dalam hatinya yang tiba-tiba timbul, terlebih Bella adalah mantan istri Darren yang pernah ada di dalam kehidupannya dan mereka terpisah bukan karena bercerai, melainkan kematian palsu yang dibuat oleh Bella.
"Aku tidak boleh berpikir yang aneh-aneh. Hubby tidak mungkin menduakan aku dan kembali dengan Bella. Aku harus percaya akan hal itu," batin Dyra yang terlihat gamang, setelah mendengar perkataan suaminya.
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
Bersambung✍️