Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Ungkapan Hati


__ADS_3

Selamat membaca!


"Sudahlah, sekarang bantu aku kembali ke ranjang dan ambilkan aku segelas air, karena aku haus!" titah Ansel dengan angkuh.


Irene pun patuh dan segera memapah tubuh Ansel untuk berdiri. Setelah berupaya dengan sangat keras, Irene akhirnya berhasil membuat Ansel duduk tepi ranjang. Ia lalu bergegas ke arah nakas yang posisinya berada agak jauh tempatnya saat ini, untuk mengambil air putih sesuai yang Ansel perintahkan. Setelah menuangkan air putih dari teko kaca ke dalam gelas, Irene pun kembali menghampiri Ansel.


"Ini airnya, minumlah sampai habis." Irene menyodorkan gelas itu di hadapan Ansel, namun ia baru teringat bahwa suaminya saat ini tak dapat melihat.


Irene menempelkan mulut gelas pada bibir Ansel dan lelaki itu segera meneguk segelas air, hingga tandas tak tersisa. Irene kembali meletakkan gelas kosong tersebut di atas nakas.


"Ansel, kamu butuh apa lagi? Biar aku bantu untuk mengambilkannya," tanya Irene dengan baik menawarkan sesuatu pada lelaki yang selalu berbuat semena-mena padanya.


"Aku ingin makan, perutku sangat lapar!" jawab Ansel dengan ketus.


"Baiklah, tunggu sebentar ya. Aku tanya sama suster dulu soal makanan untukmu."


"Aku tidak ingin makan makanan dari rumah sakit, kamu harus membelikan sarapan yang enak untukku di restoran."


Irene tampak mengerutkan keningnya dalam, setelah mendengar permintaan Ansel. "Ta-tapi... Aku tidak punya uang, Ansel. Aku minta uang kamu ya buat beli sarapan di restoran."


"Aku tidak pegang uang, bahkan aku tidak tahu dimana dompetku setelah kecelakaan."


"Lalu bagaimana aku bisa pergi ke restoran untuk membelikan kamu sarapan enak? Sudah ya, kamu makan yang disediakan rumah sakit saja ya."


Ansel menggeleng. "Aku tidak mau! Makanan dari rumah sakit rasanya hambar dan tidak enak. Pakai otakmu dong, untuk mencari cara agar bisa mendapatkan uang."


"Apa yang harus lakukan?" tanya Irene dengan wajah memelas.


"Pikir dong sendiri, gunakan otakmu yang bodoh itu agar berguna! Cepat, sana pergi belikan aku sarapan, perutku sudah sangat lapar!"


Irene pun hanya dapat pasrah, pergi keluar dari ruang rawat Ansel dengan membawa tas yang tak berisikan uang.

__ADS_1


"Aku harus cari uang ke mana? Sedangkan aku tidak punya kenalan yang tinggal di dekat rumah sakit ini untuk bisa aku pinjam uangnya." Irene memutar otaknya untuk terus berpikir.


Tangan Irene merogoh tas untuk mencari barang yang bisa ia jual, agar dapat menghasilkan uang. Ia mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas.


"Apa aku jual saja ponsel ini untuk membelikan Ansel makan? Ah iya, aku tidak punya cara lain, lebih baik aku ikhlaskan ponsel ini daripada kembali ke ruang rawat Ansel, tapi tidak membawa makanan yang dia mau."


Irene pun melanjutkan langkah kakinya yang tadi sempat terhenti, sebelum pergi ke restoran ia harus mencari tempat untuk menjual ponselnya terlebih dahulu.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Di rumah kediaman Darren, setelah selesai sarapan pagi. Darren dan Dyra sudah bersiap untuk sama-sama berangkat menuju ke tempat kerjanya masing-masing.


Dyra hendak pergi ke kampus untuk kembali mengajar, sedangkan Darren hendak pergi ke kantor, namun sebelum pergi bekerja, ia akan mampir ke rumah sakit terlebih dahulu, untuk melihat keadaan Ansel dan Irene.


Dyra kini sudah terlihat cantik dengan tampilan make up yang natural. Hari ini Dyra mengenakan stelan dress kantor ala Korea dengan heels hitam, yang membuat kaki jenjangnya melangkah semakin indah.



Dyra menghentikan langkahnya, mengikuti langkah Darren yang terhenti. Wanita berparas cantik itu kini mendekat ke arah Darren sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya itu.


"Tidak perlu Hubby, lagipula aku sudah terbiasa mengendarai mobil sendiri, sejak kamu memberikan mobil itu padaku."


"Tapi saat ini statusmu berbeda dengan yang dulu, aku ingin mereka semua yang berada di kampus mengetahui bahwa saat ini kamu adalah istriku."


Dyra tersenyum lebar mendengar perkataan suaminya yang terlihat khawatir dengannya. Namun rasa khawatir Darren saat ini, lebih ke arah cemburu, jika laki-laki lain sampai ada yang menggoda Dyra, terlebih di kampus istrinya itu memiliki seorang mantan yang berprofesi sama dengannya yaitu sebagai dosen.


"Cinta itu harus saling percaya, Hubby. Kamu harus percaya sama aku ya." Dyra langsung mengecup bibir suaminya, hingga membuat Darren seketika langsung luluh dan menuruti semua yang Dyra katakan padanya.


"Ya sudah kamu hati-hati di jalan, kabari aku jika sudah sampai kampus."


Darren memberi kecupan dalam pada kening istrinya, lalu kecupan itu beralih ke arah bibir merah Dyra yang sangat menggoda untuk Darren. Beberapa saat kemudian keduanya saling memagut mesra, sebelum Owen datang membuat mereka terhenyak dan seketika melepas pagutannya.

__ADS_1


"Maaf Tuan, saya hanya ingin memberitahu, jika kedua mobil sudah siap." Owen menatap keduanya dengan rasa tak enak, karena ia sempat menyaksikan kemesraan yang terjadi di antara kedua majikannya itu


"Iya Owen, baiklah. Terima kasih ya, kau duluan saja ke mobil nanti aku akan menyusul."


"Baik Tuan." Owen pun berlalu kembali melangkah ke arah pelataran rumah, meninggalkan keduanya yang masih tak rela berpisah, walau sebenarnya hanya untuk beberapa saat.


"Ya sudah Hubby, ingat kamu juga di kantor jangan macam-macam ya," ucap Dyra sambil melepas tangan yang sejak tadi melingkar pada leher suaminya.


"Tenang saja sayang, hatiku sudah sepenuhnya menjadi milikmu. Jadi tidak akan ada yang bisa menyelinap masuk, apalagi sampai menggantikanmu untuk bertahta di hatiku, karena cintaku satu hanya untukmu selamanya."


Rona merah seketika terlukis jelas di paras cantik Dyra, setelah mendengar ungkapan romantis dari suaminya. Hatinya kian membuncah bahagia dengan semburat di wajahnya yang tampak begitu berseri.


"Terima kasih Hubby, kamu itu adalah hadiah dari Tuhan yang sangat luar biasa untukku. Hadiah di saat hatiku begitu sakit dengan kegagalan dan pengkhianatan yang Ansel lakukan kepadaku," ucap Dyra dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tidak perlu kamu ingat lagi tentang semua itu, sayang. Sekarang kamu harus bahagia, karena aku tidak akan pernah membuatmu terluka ataupun menangis. Aku akan selalu memberikanmu kebahagiaan."


Tanpa aba-aba, Dyra mendekap tubuh suaminya itu dengan erat. "Terima kasih sekali lagi, Hubby. Aku sangat beruntung memilikimu."


"Aku pun beruntung sayang, karena pada akhirnya aku bisa mendapatkan cinta dari seorang Dyra Anastasya." Darren mengusap surai hitam istrinya itu dengan lembut dan penuh cinta.


Setelah beberapa menit, mereka pun melanjutkan langkahnya menuju pelataran rumah, dimana Owen sudah menunggu kedatangan mereka.


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️


Berikan komentar kalian ya.


Terima kasih atas dukungan kalian ya.


Jangan lupa untuk like dan vote ya, ayo bersama jadikan karya ini maju, agar masuk top 20 ranking vote.

__ADS_1


__ADS_2