Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
S2 : Petunjuk Pertama


__ADS_3

Selamat membaca!


Sudah 6 jam lamanya, Ansel masih terus menatap layar CCTV. Ia tak ingin menyerah dan terus memupuk harapan dalam dirinya bahwa lewat CCTV inilah ia dapat menemukan keberadaan Irene, wanita yang telah disia-siakannya.


"Aku tidak akan menyerah Irene, demi anak kita dan untuk janji suci yang aku ucapkan dulu, saat kita menikah," batin Ansel sambil mengembuskan napasnya dengan kasar.


Ansel kembali meneliti setiap layar yang memutarkan situasi bandara, di hari Irene pergi meninggalkan rumah. Namun, Ansel tidak sendiri, Lucas dan juga beberapa pegawai yang bekerja di sana dengan sukarela membantu Ansel.


"Tuan, sebaiknya Anda istirahat dulu. Saya tidak ingin Anda sakit. Sebaiknya kita tidak terburu-buru Tuan dalam melakukan pencarian ini. Walaupun saya mengerti perasaan Anda saat ini, tapi jika Anda memaksakan diri dan sampai membuat Anda jatuh sakit, itu malah akan memperlambat pencarian kita. Maaf jika saya lancang Tuan."


Perkataan Lucas membuat Ansel tersadar, bahwa memang apa yang dikatakannya itu sangatlah benar. Ansel pun memutuskan pergi ke sebuah ruangan yang memang tersedia untuk tempat beristirahat.


Setibanya di dalam ruangan, Ansel langsung menyandarkan tubuhnya di atas sebuah sofa. Ia terlihat sangat lelah dengan raut wajah yang memucat. Bagaimana tidak, sudah 6 jam ini, ia terus duduk di depan seluruh layar monitor dan mengamatinya dengan teliti.


"Sudah 6 jam ini aku masih belum dapat petunjuk tentang keberadaan Irene?" Ansel mengesah kasar sambil memijat dahinya dengan lembut, berharap pening yang mulai menjalar di kepalanya dapat berkurang.


Tak lama kemudian, Lucas datang menghampiri Ansel. Ia terlihat membawa dua buah box makanan cepat saji yang berada di dalam sebuah plastik transparan.


"Tuan, sebaiknya kita makan dulu. Jangan terlalu dipikirkan, karena hanya tinggal menunggu waktu sampai kita bisa menemukan keberadaan Nona Irene."

__ADS_1


Ansel pun tersenyum kecil dan mengangkat tubuhnya yang sejak tadi bersandar di sandaran sofa.


"Terima kasih Lucas atas bantuanmu. Owen memang tidak salah memilihmu untuk menemaniku!"


Lucas pun tersenyum dengan pujian yang terlontar dari mulut Ansel.


"Itu sudah tugas saya Tuan Ansel karena saya sudah menganggap Tuan Darren juga Owen sebagai keluarga saya. Kebetulan juga Anda saat ini berada di Birmingham. Jadi dengan senang hati saya akan membantu sampai Tuan berhasil menemukan Nona Irene."


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Lucas."


"Tidak masalah Tuan, silahkan makan dulu! Itu saya bawakan capuccino untuk Anda."


"Sebenarnya siapa pria ini? Kenapa dia tahu makanan kesukaanku juga cappucino ini?" batin Ansel mulai menatap Lucas dengan penuh selidik.


Sekali lagi Ansel coba mengingat hingga membawa pikirannya jauh ke masa lalu. Namun, saat ia hampir menemukan memori tentang Lucas di dalam pikirannya. Tiba-tiba seorang pegawai datang membuka pintu ruangan dengan tergesa-gesa.


"Maaf Tuan Ansel, saya mengganggu waktu Anda, tapi saya sudah berhasil mendapatkan visual Nona Irene."


Ingatan yang hampir terbawa ke pikiran Ansel seketika kembali sirna. Ansel pun langsung bangkit dan menunda aktivitas untuk mengisi perutnya.

__ADS_1


"Akhirnya kita akan segera bertemu Irene. Tunggu aku! Karena tidak akan lama lagi, aku pasti datang untuk menjemputnya," batin Ansel dengan langkah panjang menuju pusat ruang kontrol diikuti oleh Lucas yang mengekor tepat di belakangnya.


Setibanya di ruangan, Ansel langsung di arahkan untuk melihat ke sebuah layar monitor yang sedang memutar rekaman CCTV. Di sana terlihat jelas bahwa Irene tiba di bandara dengan dijemput oleh dua orang, satu wanita dan satunya lagi laki-laki.


"Jadi Irene memiliki dua orang teman di sini, tapi siapa mereka?" tanya Ansel dengan keningnya yang sudah tercetak kerutan sangat dalam.


Pertanyaan Ansel dijawab dengan sangat santai oleh Lucas yang juga melihat ke arah monitor tersebut.


"Jack, tolong kirimkan file CCTV itu ke ponsel saya!" titah Lucas pada salah seorang pegawai di tempat itu yang sudah ia kenal.


"Baik, Tuan Lucas."


"Tuan Ansel tak perlu khawatir, dalam dua jam saya akan berikan data kedua orang itu kepada Tuan."


Ansel begitu sumringah saat mendengar perkataan Lucas karena itu adalah sebuah pertanda bahwa usahanya untuk dapat menemukan di mana keberadaan Irene sudah semakin dekat.


...🌺🌺🌺...


Bersambung✍️

__ADS_1


__ADS_2