
Selamat membaca!
Pada akhirnya Darren memutuskan untuk mengabulkan permintaan Ansel. Ia pun memerintahkan kepada Owen untuk mengurus kepulangan Ansel hari ini. Saat ini di luar kamar Ansel, Darren terlihat sedang bersama Irene duduk di kursi panjang. Kala itu suasana begitu haru untuk Irene, karena kesabarannya berbuah hasil yang manis.
"Saya sudah tahu semua tentang pemerkosaan yang Ansel lakukan padamu. Maafkan saya ya, Irene."
"Ayah tidak perlu minta maaf, karena tidak ada yang harus disalahkan dalam hal ini kecuali Ansel. Aku memang diancam olehnya untuk tidak menceritakan semua kenyataan itu padamu Ayah, jadi aku yang minta maaf."
Darren terlihat sangat geram kepada Ansel, setelah mendengar semua perkataan yang terlontar dari mulut Irene.
"Oh ya kamu tidak perlu bekerja lagi di bar itu! Ini ambilah uang untuk membayar kuliahmu dan juga keperluan harianmu." Darren mengeluarkan amplop coklat berisi uang dari saku jasnya dan langsung memberikannya pada Irene, isi amplop itu terlihat padat dan berat.
Irene terhenyak dengan kebaikan hati mertuanya itu. Ia tak sanggup lagi menutupi rasa bahagianya, hingga membuat kedua manik matanya saat ini menjadi berkabut.
"Terima kasih Ayah, tapi jumlah itu terlalu banyak." Irene masih ragu untuk mengambil uang itu, namun akhirnya Darren meraih sebelah tangan Irene, lalu meletakkan uang itu digenggaman tangannya.
"Kamu pantas mendapatkannya, dulu saya telah salah menilaimu. Saat ini biarkan saya menebus semua itu dengan berbuat hal yang baik untukmu, Irene. Kamu itu sekarang sudah saya anggap seperti anak saya sendiri, jadi terimalah uang ini."
__ADS_1
Bulir kesedihan yang semakin menganak di kelopak mata Irene, akhirnya jatuh menetes di kedua pipinya. "Terima kasih, Ayah. Aku selalu percaya kepada Tuhan, suatu saat Ayah akan mengetahui semua kebenaran yang selama ini selalu Ansel tutupi dari Ayah, dan hari ini semua kebenaran itu telah Ayah ketahui, aku sangat bahagia."
Darren pun meraih tubuh menantunya itu, ia memberikan sebuah dekapan layaknya seorang ayah menguatkan anak gadisnya yang saat ini terlihat lemah.
Irene pun meluapkan semua kesedihannya dalam pelukan Darren. Ia menangis terisak, hingga membuat napasnya terdengar tak beraturan.
"Menangislah anakku, tapi setelah ini kamu harus kembali kuat dan jalani hidupmu untuk buah hati dalam kandunganmu yang harus selalu kamu jaga."
Rasa canggung akhirnya membuat Irene menyudahi lebih cepat luapan air matanya. Ia pun melepas pelukan erat dari tubuh Darren, sambil mengusap air mata pada wajahnya dengan kedua tangan.
Darren mengusap pucuk rambut Irene dengan mengulas senyum di wajah tampannya. "Tidak apa Irene, anggap saya ini sebagai orangtuamu juga. Ingat! Jangan sungkan lagi kepadaku, jika Ansel menyakitimu katakan pada Ayah dan jangan kamu tutup-tutupi lagi!" titah Darren yang tak ingin Irene harus hidup dalam kesedihan terus menerus.
"Terima kasih sekali lagi, Ayah." Irene mulai menerbitkan sebuah senyuman yang manis dari kedua sudut bibirnya, membuat Darren sudah lebih tenang dari sebelumnya, saat melihat Irene kini sudah berangsur tegar dan tak lagi rapuh.
"Baiklah Irene. Pegang uang itu dan satu lagi ambil kartu kredit ini untuk membeli semua keperluan anakmu dan semua yang kamu inginkan, saya sudah merubah pin-nya sesuai dengan tanggal pernikahanmu dan Ansel." Darren menyodorkan kartu itu kehadapan Irene, membuat wanita berparas sendu itu kembali terhenyak dengan kebaikan Darren.
"Maaf Ayah, aku tidak bisa menerimanya," tolak Irene dengan nada tak enak.
__ADS_1
"Kamu tidak bisa menolak pemberian ini. Jadi lebih baik kamu ambil kartu ini dan gunakan sebaik-baiknya!" titah Darren yang saat ini sudah berdiri dengan masih menyodorkan sebuah kartu.
Akhirnya Irene pun mengambil kartu kredit itu, walau dengan perasaan yang sangat ragu. Namun ia tak punya pilihan karena Darren terus memaksanya. Darren pun berlalu dari hadapan Irene, setelah menyampaikan bahwa Ansel hari ini sudah bisa pulang dan masalah kepulangannya saat ini sedang diurus oleh Owen.
"Terima kasih Tuhan atas semua anugerah ini. Akhirnya semua kebenaran menemukan jalannya untuk menang. Aku selalu percaya itu dari dulu." Irene menatap nanar ke arah Darren yang saat ini sudah semakin menjauhinya.
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
Berikan komentar kalian ya?
Terima kasih banyak.
Mampir juga ke karyaku yang ini ya :
__ADS_1