
Selamat membaca!
Ansel tertunduk lemah di sebuah sofa yang berada di dalam lobi, ketika ia mendapati bahwa nama Irene tidak ada dalam daftar penghuni yang tinggal di apartemen ini.
Hatinya hancur seketika hingga membuat harapannya lenyap menjadi butiran debu yang langsung terhempas oleh sebuah kenyataan. Kenyataan bahwa ia masih harus menahan dirinya untuk dapat bertemu dengan Irene, wanita yang sangat ingin ditemuinya.
"Ya Tuhan, ke mana lagi aku harus mencari keberadaan Irene? Kenapa dia tidak ada di apartemen ini? Padahal jelas-jelas aku sudah melihatnya di CCTV itu." Ansel memutar otaknya dengan keras untuk memikirkan apa yang harus dilakukannya setelah ini.
Lucas hanya termangu dari tempatnya memandang kesedihan Ansel. Ia tak bisa berada lebih dekat karena Ansel melarangnya.
"Mungkin ini waktunya aku pergi sebentar untuk mencari tahu?" gumam Lucas memutuskan.
Lucas pun mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Kemudian ia mulai mengetik sebuah pesan dan langsung ia kirim kepada Ansel.
"Tuan, tunggulah sebentar karena saya ada keperluan, tapi jika Anda ingin kembali ke hotel tanpa menunggu saya, Anda bisa gunakan taksi yang ada di pelataran apartemen."
Setelah mengirim pesan tersebut, Lucas bergegas kembali ke mobil.
"Aku punya firasat jika wanita itu memang benar Nona Irene. Jadi aku harus memastikan apa yang aku lihat tadi." Lucas mulai melajukan mobilnya dan meninggalkan area apartemen.
Sementara itu Ansel, masih terus diselimuti rasa sedih dan kecewa di dalaman hatinya yang paling dalam. Ia merasa putus asa, karena usahanya saat ini harus gagal dan belum membuahkan hasil.
"Ya Tuhan, jika ini hukuman untukku, aku mohon sudahi semua ini. Tolong pertemukan aku dengan Irene." Ansel mengusap beberapa kali wajahnya yang tampak sendu.
Ansel mengambil ponsel dari saku celana. Ia mulai membuka ponselnya untuk melihat sosial media Irene. Ia berharap Irene meninggalkan sebuah petunjuk agar ia bisa menemukan keberadaannya.
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
Sementara itu, kini Irene sudah berada di meja resepsionis tempatnya mulai bekerja. Hari ini adalah hari pertamanya dan ia tampak sangat bersemangat menjalaninya. Bagi Irene sendiri, ini adalah sebuah awal untuknya memulai kehidupan yang baru tanpa Ansel.
"Aku bersyukur, karena pada akhirnya Tuhan memberikan aku pekerjaan dan sahabat yang baik seperti Nisa." Tiba-tiba timbul di dalam pikiran wanita itu untuk memposting apa yang telah dilewatinya saat ini. Irene pun mengambil ponsel yang tergeletak di meja resepsionis, lalu ia mulai berfoto selfie, semua Irene lakukan dengan cepat agar tidak terlihat oleh rekan kerjanya yang lain. Kebetulan juga saat itu suasana dan kegiatan di lobi hotel masih tampak sepi, hingga memungkinkannya untuk melakukan semua itu.
Setelah berfoto selfie, wanita itu mulai mengetik sebuah caption untuk menyertai foto yang akan dipostingnya.
"Start a new life with gratitude in Hotel Park Regis at Birmingham."
Namun, saat Irene hendak mempostingnya, tiba-tiba dering telepon hotel berbunyi, wanita berparas cantik itu pun menundanya dan memutuskan untuk mengangkat telepon terlebih dahulu.
"Iya halo dengan Hotel Park Regis, ada yang bisa kami bantu?" Irene memulai percakapan dengan sangat ramah.
"Iya Nona, saya Tania. Nanti sore saya akan datang ke hotel bersama kakak saya untuk melihat seberapa jauh persiapan di sana, terkait acara pernikahan yang akan di gelar pada hari Minggu ini."
"Baik Nona Tania, nanti saya akan konfirmasi kedatangan Anda pada manager hotel kami. Kami tunggu kedatangannya, apa ada yang lagi yang bisa kami bantu?" tanya Irene kembali dengan ramah.
"Baik Nona Tania, terima kasih kembali. Semoga hari Anda menyenangkan." Irene pun mengakhiri sambungan teleponnya dan kembali meletakkan gagang telepon pada tempatnya semula.
Setelah telepon terputus, Irene meraih ponselnya kembali. Wanita berparas cantik itu sejenak memandangi postingan yang akan ia share di akun instagramnya. Setelah dirasa cukup, Irene pun mulai mempostingnya.
Namun, tiba-tiba bayangan Ansel melintas di dalam pikirannya, membuat wanita cantik itu begitu memikirkan sosok suami yang telah ia tinggalkan. Ada perasaan khawatir dalam diri Irene, terlebih saat dirinya pergi, Ansel masih belum dapat melihat, karena kecelakaan yang membuat kornea matanya menjadi rusak.
"Apa saat ini Ansel sudah bisa melihat? Tapi bagaimana cara aku mengetahuinya? Jika aku menghubungi Dokter Evran, nanti dia salah mengira lagi." Irene sejenak berpikir, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk melihat kembali seluruh sosial media milik Ansel. "Mungkin instagram Ansel saat ini sudah ada postingan baru." Irene pun mulai mengetik nama Ansel pada kolom pencarian.
Proses loading berjalan lambat hingga membuat hasil pencarian terjeda. "Ya ampun sinyal di sini jelek, apa sebaiknya aku menggunakan WiFi hotel ini saja ya, tapi aku kan enggak tahu password-nya." Irene pun kembali meletakkan ponselnya di atas meja resepsionis dan melangkahkan kakinya untuk menghampiri rekan kerjanya yang berada beberapa langkah tidak jauh dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
Memang meja resepsionis pada hotel ini berukuran panjang dan berada di posisi central lobi. Jadi tidak hanya Irene seorang, tapi ada dua orang wanita lainnya yang menemaninya di balik meja resepsionis.
Setelah selesai menanyakan password Wi-Fi pada rekan kerjanya, Irene pun kembali pada posisinya dan meraih ponselnya yang masih tergelatak di atas meja.
"Nah, sekarang sinyalnya udah bagus nih." Irene kembali mengulangi dengan mengetik nama Ansel pada kolom pencarian.
Setelah memilih akun Ansel yang menjadi tujuan pencariannya, ia pun mulai membuka akun tersebut.
"Ada satu postingan nih!" Irene begitu antusias dan tidak sabar untuk mengetahui postingan apa yang di share oleh Ansel pada instagramnya.
Saat ia membuka postingan yang ada di dalam akun Instagram Ansel, kedua matanya membeliak, seolah tak percaya dengan apa yang saat ini telah dilihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Ansel, di Birmingham! Dia mencariku." Kedua kaki Irene seketika gemetar sampai menjalar ke seluruh tubuhnya, wanita itu pun langsung tak kuat berdiri hingga ia memutuskan untuk duduk di kursinya.
Melihat kondisi Irene, seorang rekan kerjanya yang bernama Maura Elina datang menghampirinya. "Irene apakah kau baik-baik saja?" tanya wanita itu dengan logat barat yang sangat kental. Wanita blasteran dengan rambut pirang dan berwajah bule itu menjadi teman baik Irene semenjak dirinya mulai bekerja di hotel ini.
"Iya aku baik, Maura, hanya sedikit pusing saja." Jawaban Irene membuat Maura menjadi lebih tenang.
"Ya sudah kamu istirahat aja, biar aku yang handle pekerjaan kamu." Maura memutar sebuah keterangan istirahat yang berada di atas meja Irene untuk memberikan waktu pada wanita itu agar beristirahat terlebih dulu.
"Iya terima kasih banyak, Maura." Irene mengulas senyum di wajahnya, ketika mendengar kebaikan Maura.
Saat ini ia masih menatap nanar, postingan pada akun instagram Ansel. Pria yang membuatnya selalu merasakan sakit atas semua penghinaan dan perlakuan kejamnya.
"Sebenarnya apa yang menjadi niat Ansel? Kenapa dia mencariku? Jika benar Ansel berada di Birmingham, itu artinya dia sudah dapat melihat lagi!" batin Irene menganalisa dengan masih memandangi caption yang terdapat pada postingan Ansel.
__ADS_1
...🌺🌺🌺...
Bersambung✍️