Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Cassandra Lee


__ADS_3

Selamat membaca!


Setibanya di dalam kamar, Dyra langsung menghampiri Darren dan meninggalkan anak perempuan itu yang sedang tertidur lelap di atas ranjang.


"Hubby, jadi bagaimana? Sebenarnya apa yang terjadi? Tolong jelaskan padaku!"


Darren pun mengajak Dyra untuk duduk di atas sofa dan mulai menceritakan segala sesuatunya kepada Dyra.


"Jadi begini sayang, Bella yang sudah mengirim orang untuk membunuhmu."


Dyra tersentak kaget dengan perkataan Darren. Ia sungguh tak menyangka bila ternyata wanita yang dijumpainya di rumah sakit, tega melakukan semua itu kepadanya.


"Memangnya apa kesalahanku?" tanya Dyra masih penuh keraguan dengan kenyataan yang Darren sampaikan.


"Aku sendiri kurang mengerti. Mungkin dia ingin kembali kepadaku, tapi aku sudah mengatakan padanya, bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan kembali padanya."


"Tapi bukankah Nyonya Bella sudah menikah, Hubby?" tanya Dyra dengan menautkan kedua alisnya.


"Isco mengkhianati Bella, sayang. Mungkin karena itu hubungan mereka menjadi tidak baik."


Dyra tak menyangka bila kehidupan Bella pada akhirnya harus mengalami kesedihan yang mendalam. Padahal apa yang telah dikorbankan oleh Bella begitu besar, karena dia telah meninggalkan Darren dan Ansel demi seorang pria yang ternyata malah menyakitinya.


"Kasihan sekali Nyonya Bella, semoga saja dia bisa menemukan pria yang lebih baik untuk mendampingi hidupnya lagi."


Perkataan Dyra membuat Darren semakin kagum dengan sosok wanita yang saat ini terus ada di dalam pandangan matanya.


"Aku tidak salah memilihmu sebagai cinta terakhirku, hatimu benar-benar baik dan tulus," batin Darren penuh decak kagum akan sosok Dyra yang begitu sempurna.


"Ya sudah kita tidak perlu bahas masalah Bella lagi, karena aku sudah melaporkannya kepada pihak berwajib. Jadi biarkan mereka yang mengurusnya."

__ADS_1


Raut wajah Dyra menampilkan ketidaksetujuan akan keputusan Darren. "Kamu yakin akan melaporkannya, Hubby?" tanya Dyra yang ragu, karena mau bagaimanapun Bella adalah mantan istri dari suaminya dan merupakan ibu dari Ansel.


Tanpa berpikir panjang, pria berwajah tampan itu langsung menjawabnya dengan penuh keyakinan. "Iya aku yakin sayang, lagipula dia ingin menyakitimu bahkan hampir membuatmu terbunuh, karena itulah aku tidak bisa memaafkannya!"


Dyra masih membisu tak menanggapi jawaban yang terlontar dari mulut suaminya itu. Ada rasa kesal yang bercampur dengan iba di dalam hatinya, di satu sisi ia kesal karena Bella begitu jahat sampai memerintahkan orang untuk membunuhnya dan di sisi yang lain, ia tak menyangka, kenapa Bella bisa berpikir sejauh itu, bahkan ia sampai tak menggunakan akal sehatnya.


"Apa Nyonya Bella tidak tahu, bahwa apa yang dilakukannya pasti akan ada hukumannya, terbunuh atau tidaknya aku tadi, dia pasti tidak akan lepas dari jeratan hukum," ungkap Dyra dengan raut wajah yang penuh dilema.


Darren langsung meraih tubuh istrinya itu dan mendekapnya dengan erat. Pria berwajah teduh itu, kini memberi sebuah ciuman tepat di kening sang istri dan mengusap lembut pucuk rambut Dyra.


"Aku tidak akan membiarkan hal seperti tadi terulang lagi dan mulai besok akan ada bodyguard yang aku pekerjakan untuk menjagamu! Kebetulan Tuan Raymond sedang berada di sini dan aku meminta bantuan padanya untuk mencari bodyguard untukmu. Besok dia akan mengirim bodyguardnya itu."


"Tapi a-ku itu ti..." Jemari Darren seketika langsung menempel erat di bibir istrinya itu, sebagai sebuah isyarat agar Dyra tak menolak apa yang ia berikan padanya.


"Kamu tidak boleh menolak, karena aku tidak ingin hal seperti tadi terulang lagi! Kamu tenang saja, aku sudah meminta kepada Tuan Raymond agar mengirim bodyguard yang handal, maka itu aku berpikir jika satu orang saja sudah cukup untuk menjagamu."


"Oke baiklah aku akan menurutimu, tapi aku juga ada satu syarat."


Darren seketika langsung melepas pelukannya dan menatap dalam wajah istrinya dengan menautkan kedua alisnya.


"Memangnya apa syarat yang akan kamu ajukan padaku? Apapun itu, pasti akan aku kabulkan," tanya Darren mengangkat kedua alisnya diakhiri sebuah kepastian bahwa apapun permintaan Dyra pasti akan ia turuti.


Perkataan Darren membuat senyuman seketika mengembang dari kedua sudut bibir Dyra. Bahkan kedua matanya saat ini tampak penuh dengan binar kebahagiaan yang terpancar jelas dari sorot matanya.


"Sepertinya aku paham dengan permintaanmu." Darren menoleh ke arah anak perempuan yang saat ini masih lelap tertidur di atas ranjang.


"Iya betul, aku ingin Cassandra menjadi anak angkat kita, bila dalam 3 hari tidak ada yang menghubungiku. Bagaimana apa kamu setuju, Hubby?" tanya Dyra yang sudah bergelayut manja di lengan suaminya itu, agar permintaannya disetujui oleh Darren.


Tiba-tiba Darren melepaskan kedua tangan Dyra yang membuat wanita itu tersentak kaget, karena tak biasanya Darren melakukan semua itu padanya.

__ADS_1


"Kenapa Hubby? Apa kamu marah?" Seketika raut bahagia itu sirna dan berganti dengan rasa cemas yang tampak jelas di raut wajah Dyra.


Darren masih diam tanpa suara. Sorot matanya menajam, seolah kemarahan sedang menguasai dirinya saat ini, karena tak biasanya seorang Darren menatap Dyra dengan setegas itu. Terlebih di saat wanita itu sedang bermanja-manja padanya.


"Jika kamu marah ya sudah tidak usah. Maafkan aku Hubby." Dyra bangkit dan ingin beranjak dari sofa tempatnya duduk, pandangannya saat ini tampak kecewa dengan sorot mata yang redup. Namun, tiba-tiba tangan Darren meraih tangan Dyra dan langsung menggenggamnya dengan erat.


Dyra pun kembali menoleh untuk menatap wajah suaminya yang saat itu semakin terlihat tampan, dengan senyuman manis di wajahnya.


"Duduklah sayang! Aku setuju dan nanti anak itu kita berikan namaku di belakang namanya," ungkap Darren yang ternyata bersandiwara untuk mengejutkan Dyra yang saat ini sudah hampir menangis kecewa.


Mendengar perkataan Darren, seketika membuat kebahagiaan yang sejak tadi hampir hilang, kini kembali membuncah, hingga membuat raut wajahnya tampak berseri dengan sorot mata yang penuh kebahagiaan.


Dyra memeluk tubuh Darren, yang membuat tubuh pria itu terjatuh di atas sofa dengan posisi Dyra yang menindihnya.


"Sayang, ini masih sore. Tapi jika kamu memaksa aku tidak masalah jika kamu ingin melakukannya sekarang."


Raut wajah Dyra merona merah dengan perkataan suaminya, ia pun tanpa ampun mencubit perut Darren, sampai membuat pria itu mengaduh kesakitan. Namun, setelah itu apa yang didengarnya sungguh membuat Darren menjadi semangat dan begitu bahagia.


"Ayo Hubby, tidak masalah kan walaupun belum malam, tapi bagaimana kalau kita melakukannya di dalam bathroom sambil kita berendam di bathtub dengan air hangat." Usul yang Dyra ucapkan langsung disambut dengan penuh sukacita oleh Darren. Pria itu pun langsung berdiri dan merengkuh tubuh istrinya untuk menggendongnya menuju ke dalam bathroom.


"Hubby, lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri, Hubby," protes Dyra yang tak dihiraukan oleh Darren yang terus melangkah menuju bathroom.


Saat ini Dyra begitu bahagia, atas segala sikap dan kebaikan hati suaminya. Ia benar-benar bersyukur, bahwa takdir telah menuntunnya untuk memperoleh kebahagiaan dari arah yang tak pernah ia duga. Walau pada awalnya, rasa sakit di hatinya begitu meluluhlantahkannya, tapi semakin lama luka di hatinya berangsur terobati dan puing-puing kebahagiaan itu kini telah tersusun dengan rapi dan sangatlah kokoh, hingga tak mudah digoyahkan atau bahkan dihancurkan.


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️


▶️ Tokoh Raymond yang Darren maksud ada di Penjara Hati Sang CEO

__ADS_1


__ADS_2