
Selamat membaca!
"Ansel, bangunlah! Aku mohon jangan pergi secepat ini. Jangan tinggalkan aku di sini!" Irene terus memohon di tengah isak tangisnya. Wanita itu kini mulai mengguncangkan tubuh suaminya agar terbangun dari ketidakberdayaannya. Namun, usaha Irene masih belum membuahkan hasil apa pun hingga detik ini, Ansel masih bergeming tak bergerak sedikit pun.
"Ya Tuhan aku mohon, tolong selamatkan Ansel. Jangan ambil dia dari hidupku, Tuhan. Aku mohon berikan kesempatan untuknya hidup, jika KAU mengabulkan doaku, aku berjanji akan memberikan kesempatan kedua pada Ansel untuk memulai hubungan kami dari awal lagi. Aku tidak akan memisahkan Ansel dengan anak yang tengah aku kandung saat ini, aku mohon Tuhan, tolong sadarkan Ansel, aku baru menyadari bahwa ternyata aku sangat takut kehilangannya." Irene terus berharap dalam hatinya dengan berdoa agar Ansel baik-baik saja.
Entah berapa banyak bulir kesedihan yang menetes dari kedua sudut mata Irene. Bulir-bulir itu tidak hanya membasahi wajahnya, tapi wajah Ansel yang masih berada di atas pangkuannya.
"Irene, kamu yang sabar ya! Semoga saja nyawa Ansel masih bisa terselamatkan, sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit!" ucap Steve mencoba menenangkan Irene yang tengah kalang kabut, sungguh ia tidak tega melihat kondisi Irene saat ini.
"Iya, Irene. Teruslah berdoa agar Tuhan menyelamatkan nyawa suamimu karena suamimu itu orang baik. Dia pernah menolong Oma saat di bandara. Aku doakan semoga setelah kejadian ini kalian bisa hidup bersama ya." Tania tak tinggal diam, ia juga coba menguatkan Irene yang saat ini terlihat hancur tak berdaya.
"Aku sungguh-sungguh minta maaf, Irene. Aku sendiri tidak menyangka jika kondisi Ansel akan jadi seperti ini setelah tertabrak mobilku, padahal saat kejadian itu aku sudah menginjak rem mobilku dengan begitu dalam saat hendak menabraknya. Lagi pula memang mobil yang aku kendarai sudah berkurang kecepatannya saat aku memasuki area hotel. Aku memang bodoh, maafkan aku ya Irene," ucap Steve yang terus menyalahkan dirinya sendiri karena telah membuat Irene menangis. Bahkan berulang kali ia menjambak rambutnya sendiri karena begitu kesalnya.
"Tidak Steve, ini semua bukan kesalahanmu. Aku yang salah karena menghindar saat Ansel terus berusaha mengajakku kembali pulang ke Korea. Aku terlalu egois, tidak memikirkan perasaan Ansel sedikit pun. Padahal dia sudah berubah, tapi entah kenapa aku malah tidak bisa mempercayainya dan memilih pergi meninggalkannya di lobi begitu saja. Hingga akhirnya Ansel tertabrak mobil saat mengejarku yang sudah menyebrang jalan lebih dulu. Ini semua salahku, Steve ...." Suara Irene terdengar bergetar, ia begitu menyesal atas segala perbuatannya terhadap Ansel yang membuat kondisi suaminya saat ini masih tak sadarkan diri.
Irene kembali menatap wajah Ansel yang berada dalam pangkuannya. Namun, apa yang dilihatnya membuat kedua matanya membeliak tak percaya karena Ansel ternyata telah sadarkan diri. Pria itu bahkan sedang mengembangkan senyum manisnya saat wanita yang dicintainya menatapnya dengan sangat dalam.
Irene masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ia sampai mengucek matanya berulang kali, walau pada akhirnya pandangan matanya masih sama. Ia masih melihat Ansel dengan senyuman sedang menatap wajahnya. Bahkan kedua tangan pria itu kini mulai menangkup kedua sisi wajahnya yang terlihat masih terperangah tak percaya.
__ADS_1
"Ansel, apakah ini mimpi?" tanya Irene yang masih ragu dengan apa yang saat ini dilihatnya.
Kedua mata Irene membulat sempurna saat Ansel menggigit dagunya untuk memberitahu wanita itu, bahwa ini bukanlah mimpi.
"Ansel ...." ucap Irene seraya mengembangkan senyuman bahagianya karena melihat Ansel baik-baik saja. Wanita itu pun segera menunduk dan memeluk erat tubuh suaminya.
"Ansel, syukurlah Tuhan masih memberimu kesempatan untuk hidup. Aku bahagia banget ternyata kamu baik-baik saja. Maafin aku ya karena sempat tidak mempercayaimu."
Jantung Ansel berdetak tak beraturan. Ia tak menyangka bila Irene akan menangis karena takut kehilangannya. Pria itu sangat bahagia saat Irene memeluknya dengan begitu erat.
"Irene, apa kamu sudah benar-benar memaafkanku dan apa kamu mau kembali lagi bersamaku? Kita mulai semuanya dari awal lagi ya, sayang."
"Aku mau! Aku mau kita kembali bersama untuk memperbaiki semuanya, tapi kamu harus cepat sembuh agar kita bisa pulang ke Korea secepatnya."
"Ansel, kamu kenapa sih ketawa? Memangnya ada yang lucu?" tanya Irene yang merasa heran.
Tania dan Steve ikut bahagia setelah mendengar kabar baik bahwa Ansel dan Irene akan kembali bersama. Keduanya ingin memberikan waktu agar pasangan suami - istri itu bisa saling bicara dari hati ke hati.
"Kamu lucu, aku tidak kuat berpura-pura terlalu lama setelah melihat wajahmu yang begitu panik karena takut kehilanganku."
__ADS_1
Dahi Irene mengerut dalam mendengar ucapan Ansel, ia memutar otaknya untuk mencerna perkataan suaminya itu. "Maksudnya bagaimana sih, Ansel?" tanyanya yang masih bingung.
"Sebelumnya aku minta maaf karena aku hanya pura-pura pingsan untuk mengetahui perasaan kamu yang sebenarnya. Sekarang aku tahu bahwa kamu juga masih mencintaiku dan sangat takut kehilangan aku, kan?" tanya Ansel dengan santainya. Membuat Irene berteriak sekencang-kencangnya karena telah tertipu permainan Ansel yang ternyata hanyalah sebuah dusta.
"Oh my God! Ternyata kamu mengerjai kita bertiga, Ansel? Ya ampun, kamu kok tega banget sih lihat istrimu sudah sesenggukan seperti tadi? Kamu memang gila, Ansel?" tanya Tania yang langsung memutar tubuhnya untuk menatap tajam wajah Ansel yang kini sudah mulai duduk dan mendekap tubuh Irene yang tengah merajuk.
"Maaf ya, Tania. Aku harus melakukan semua ini, tapi tujuanku hanya satu karena aku ingin mempertahankan rumah tanggaku, itu saja tidak ada hal lain. Aku tidak ingin lagi kehilangan Irene untuk kedua kalinya. Sekarang aku baru sadar bahwa ternyata aku begitu kehilangannya setelah Irene pergi meninggalkan rumah karena sudah tidak tahan lagi dengan semua sikapku yang kasar. Ups, sorry! Jadi curhat sama kalian." Ansel menjadi tidak enak hati karena harus mengutarakan isi hatinya.
Tania dan Steve begitu terhenyak tak percaya setelah mengetahui permasalahan pelik yang menimpa Irene juga Ansel.
"Ansel, tapi bercanda kamu enggak lucu! Aku kesel deh, enggak suka! Pokoknya aku mau marah sama kamu selama 30 hari!" ketus Irene memberikan ancaman yang membuat Ansel tertawa kecil, lalu pria itu mengecup mesra pipi Irene yang langsung terlihat merona merah.
Percakapan yang terjadi di antara keduanya, membuat Steve hanya dapat menggelengkan kepalanya. Namun, di sisi lain ia merasa lega karena akhirnya Irene bisa kembali lagi bersama suaminya dan dapat membesarkan anak yang tengah dikandung wanita itu bersama-sama setelah lahir ke dunia nanti.
"Permisi Tuan Ansel dan Nona Irene, kalian jadi mau saya antar ke rumah sakit atau ke hotel ya agar kalian berdua bisa melepas rindu satu sama lain dan tidak di depan mata kami yang masih polos ini? Lebih kasihan lagi adikku yang cantik ini karena belum pernah memiliki hubungan spesial dengan seorang pria mana pun!" tanya Steve sekaligus meledek langsung ketiga orang yang berada di mobilnya.
Tania memukul bahu sang Kakak dengan kasar karena telah berani meledeknya di hadapan Ansel dan Irene. Sedangkan Ansel hanya terkekeh lucu karena merasa senang bila kakak beradik saling berdebat di hadapannya.
Irene masih menampilkan ekspresinya yang datar. Saat ini, rasa malu tengah menyelimuti dirinya karena secara tidak langsung Ansel telah mengetahui perasaan Irene selama ini yang memang masih sangat mencintainya.
__ADS_1
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️