Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
S2 : Sebuah Harapan


__ADS_3

Selamat membaca!


Irene masih tampak ragu dengan jawaban yang akan ia berikan pada Ansel. Terlebih saat luka lama di hatinya kembali terkuak, hingga menimbulkan bayangan-bayangan di dalam pikirannya, sewaktu Ansel menyakitinya dengan sangat kejam.


"Jangan terlalu cepat memaafkannya Irene! Walau anak di dalam kandunganmu membutuhkan Ansel sekalipun, tapi masih terlalu cepat untukmu mempercayainya," batin Irene berbicara dengan dirinya sendiri.


Setelah melihat Irene hanya termangu, Ansel pun coba meraih tangan Irene. Namun, wanita itu dengan cepat menghempaskannya.


"Aku tidak bisa memaafkanmu sekarang, Ansel. Sebaiknya kamu pergi! Lagipula tidak enak dilihatnya, karena saat ini aku masih bekerja."


Ansel memang kecewa mendengar jawaban Irene yang terdengar ketus, tapi itu tak membuatnya menyerah, karena ia tahu semua yang pernah dilakukan sangatlah kejam terhadap Irene. Bahkan dahulu itu, Ansel sampai tega membuat Irene berlari mengejar mobil yang dikendarainya, hingga membuat wanita itu hampir saja keguguran.


"Maafkan aku kalau aku mengganggu waktu kerjamu, tapi aku akan menunggumu sampai pekerjaanmu selesai." Ansel melepas pandangan matanya tak lagi menatap wajah Irene, pria itu berbalik dan melangkah kakinya menuju sebuah kursi yang terletak di tengah lobi.



Setelah duduk di kursi itu, pandangan mata Ansel kembali melihat ke arah Irene yang masih sesekali menatapnya. Tak lama kemudian, Lucas duduk di sebelahnya dengan raut wajah yang penuh keseriusan.


"Tuan, sekarang bagaimana langkah Anda selanjutnya? Jika Anda gagal membujuk Nona Irene sekarang, nanti saya bisa mengikutinya agar kita bisa mengetahui di mana tempat tinggal barunya. Bagaimana Tuan?"

__ADS_1


Ansel mulai mencerna apa yang Lucas katakan padanya. Hingga akhirnya ia pun menyetujui ide yang diutarakan oleh pria itu.


"Baik Lucas, bersiaplah di mobil untuk mengikuti Irene! Jika aku tidak berhasil membujuknya sekarang, ikuti Irene dan jangan sampai lolos!"


Lucas mengembangkan senyumnya tanda ia mengiyakan perintah yang Ansel berikan. Pria itu pun beranjak keluar dari lobi untuk bersiap di dalam mobilnya.


Ansel yang terus mengamati dengan seksama apa yang Irene lakukan, masih berharap jika Irene mau memaafkan dan memberikannya kesempatan untuk membuktikan bahwa saat ini Ansel telah berubah.


"Irene, aku tahu tidak mudah mempercayaiku setelah semua hal buruk yang aku lakukan padamu, tapi aku mohon satu kali saja izinkan aku membuktikan jika aku bisa membuatmu bahagia," gumam Ansel sambil mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari saku jasnya.


Sementara itu Irene dari tempatnya bekerja, sesekali mengamati Ansel yang masih setia menunggunya.


Lamunan Irene buyar seketika saat panggilan dari seorang pengunjung hotel berdiri di hadapannya. Irene pun dengan ramah menjawab semua pertanyaan dari pengunjung hotel itu.


Tak terasa waktu sudah menggiring mentari ke arah barat, tempat dimana bagian terhebat dari tata surya itu akan membenamkan dirinya. Tugasnya akan segera digantikan oleh sang bulan yang sudah mengintip dari balik langit yang hampir kelam.


Irene tengah bersiap untuk pulang, setelah waktu kerjanya telah usai. Ada rasa gugup yang bertahta dalam dirinya saat ini karena ia harus memberikan jawaban atas pertanyaan dari Ansel. Jawaban yang sangat mempengaruhi kelangsungan pernikahan mereka.


"Jadi bagaimana ini? Apa yang harus aku jawab? Aku bingung Tuhan," batin Irene masih sangat kalut untuk memutuskan.

__ADS_1


Tak berapa lama, dering ponselnya berbunyi. Wanita itu langsung mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya dan saat menatap layar pada ponsel, sebuah senyuman mulai mengembang dari kedua sudut bibirnya, saat nama sahabatnya tertera di sana.


"Iya halo Nisa," ucap Irene mengawali percakapannya.


"Irene, apa kamu sudah pulang?" tanya sahabatnya itu dari seberang sana.


"Ini aku baru saja selesai, kenapa Nisa?"


"Aku hanya ingin memberitahumu, jika supir Tuan Ryan yang bernama Thomas sudah menunggumu di parkiran hotel ya."


Irene seketika teringat perkataan Nisa katakan padanya pagi tadi.


"Ternyata benar, Tuan Ryan mengirim supirnya untuk menjemputku pulang. Nisa sangat beruntung memiliki calon suami yang baik seperti Tuan Ryan. Seandainya Ansel seperti itu ...." Irene tak menyelesaikan perkataan di dalam hatinya, ia langsung menampik semua itu karena merasa semua harapannya akan sangat mustahil untuk terwujud.


Setelah mengakhiri panggilan telepon dari sahabatnya itu. Pandangan Irene kembali tertuju pada sosok pria yang masih tak beranjak dari tempatnya menunggu.


...🌺🌺🌺...


Bersambung✍️

__ADS_1


__ADS_2