
Selamat membaca!
Setibanya di rumah, Darren memapah tubuh Owen untuk masuk ke dalam rumah.
"Ayo Owen, pelan-pelan!"
"Maaf ya Tuan, saya merepotkanmu," ucap Owen yang tak enak hati karena Darren harus susah payah memapah tubuhnya yang lemah.
"Tidak masalah Owen, ini tidak sebanding dengan apa yang kau lakukan. Kau bukan hanya menyelamatkan Dyra tapi juga hidup dan kebahagiaanku, Owen," ungkap Darren menerbitkan senyuman di wajah tampannya.
Tak lama kemudian, Will yang kebetulan keluar dari rumah, langsung menghampiri Owen dan Darren untuk membantu mereka.
"Biarkan saya saja Tuan!"
"Oke Will, tolong ya! Owen, beristirahat dalam tiga hari ini." Darren melepaskan tangan Owen yang melingkar di atas bahunya dan kemudian Will mengambil alih dari arah sebaliknya.
"Terima kasih, Tuan," ucap Owen melihat ke arah Darren.
Darren pun tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah terlebih dulu. Sementara itu Owen dan Will mulai melangkah dengan perlahan menuju ke arah kamar yang sering Owen gunakan, saat menginap di rumah kediaman Darren.
"Kau hebat Owen, kau menyelamatkan Nyonya Dyra."
"Kebetulan saja aku datang tepat waktu, tapi seandainya terlambat satu detik saja, Nyonya Dyra bisa tertabrak, itu nyaris Will," ungkap Owen mengingat semua yang telah dihadapinya. Detik-detik saat ia melihat sebuah mobil melaju cepat ke arah Dyra dan anak kecil yang bersamanya.
"Iya maka itu aku bilang kau hebat, Owen. Nah, sekarang kita sudah sampai di kamar, jadi beristirahatlah." Will mulai merebahkan tubuh Owen di atas ranjang dengan perlahan.
"Terima kasih banyak Will," ucap Owen sambil meletakkan kepalanya di sebuah bantal dan menyamankan tubuhnya di atas ranjang.
"Sama-sama brother. Sekarang yang terpenting kau sembuh dulu, oke!" Will menutup keluar dari kamar dan menutup pintu kamar dengan perlahan.
Namun, baru saja Will menutup pintu itu tiba-tiba ia dikejutkan dengan keberadaan Erin yang sudah berdiri tepat di belakang tubuhnya.
"Ya ampun Erin, kau mengejutkanku."
"Bagaimana keadaan Owen?" tanya Erin dengan raut cemas di wajahnya.
"Lumayan parah sepertinya, dia sangat lemah. Mungkin benturan keras berakibat buruk untuk sekujur tubuhnya," jawab Will sesuai dengan apa yang dilihatnya.
Erin semakin cemas setelah mendengar apa yang Will katakan tentang kondisi Owen saat ini, wanita yang memiliki senyuman manis di wajahnya itu, sebenarnya ingin sekali masuk ke dalam kamar. Namun, perkataan Owen yang dengan sepihak memutuskan hubungan mereka, membuat Erin mengurungkan niatnya.
"Ya sudah Erin, aku ingin kembali ke depan untuk membersihkan mobil. Jika kau ingin masuk, cepatlah masuk! Tak usah malu-malu," ucap Will yang tiba-tiba membuka pintu dan mendorong tubuh Erin, hingga akhirnya Owen yang sedang termenung di atas ranjang menoleh ke arah mereka.
Erin sempat melancarkan protes kepada Will. Namun, apa daya saat ini Owen telah melihat kedatangannya, hingga ia pun tak punya pilihan lain dan mulai melangkah untuk mendekati Owen.
__ADS_1
"Hai, Owen," ucap Erin terlihat canggung.
"Ya Erin," jawab Owen singkat, namun sorot matanya begitu dalam menatap Erin.
Will yang tak sabar dengan apa yang dilihatnya, langsung memotong percakapan mereka dan berdiri di antara keduanya.
"Kalian itu seperti dua orang yang baru saja saling mengenal, "Hai, Owen," "Ya, Erin," ucap Will yang merasa kesal sendiri sambil memperagakan gestur dan ucapan kedua sahabatnya itu.
Owen terkekeh dengan sikap Will, yang terlihat gemulai waktu memperagakan gestur Erin sambil menggoyangkan tubuhnya dengan kedua tangan yang terkait di depan kedua pahanya.
"Sudahlah Will jangan melucu! Aku sakit jika tertawa keras."
Sementara itu raut wajah Erin, kini sudah terlihat merona menahan malunya. Ia tak bisa pungkiri, bahwa saat ini perasaan cinta masih ia rasakan untuk Owen. Pria yang selalu hadir di dalam ingatannya, ketika rindu itu datang menyapa.
"Sudah Erin, duduklah di sini!" Will menarik satu kursi dan meletakkannya tepat di samping ranjang dan menepuk-nepuk alas kursi itu sebagai isyarat agar Erin segera duduk.
"Terima kasih Will." Erin mulai mendekati kursi itu dan menuruti apa yang Will perintahkan padanya.
Sadar dengan keberadaannya yang mengganggu, Will pun mulai beranjak untuk keluar dari kamar dan meninggalkan Erin bersama Owen.
"Will, kau mau kemana?" tanya Owen mencoba menahan langkah Will saat hendak keluar dari kamar
"Bicarakan saja masalah hati kalian brother! Jangan ada yang sembunyikan!" ungkap Will yang meminta pada sahabatnya itu untuk jujur kepada Erin.
"Erin, maafkan aku ya," ucap Owen memulai percakapannya terlebih dulu untuk mencairkan suasana yang terasa begitu canggung.
"Maaf apa? Kau tidak salah, Owen!" jawab Erin dengan suaranya yang lembut.
Owen masih menatap wajah Erin dengan begitu dalam. "Maafkan aku karena telah mengakhiri hubungan kita tanpa berpikir bahwa sebenarnya hubungan yang selama ini kita jalani itu sangat berharga."
Erin yang sejak tadi tak berani membalas tatapan mata Owen, kini seketika langsung menoleh hingga tatapan mereka saling bertaut dalam.
"Apa maksud perkataanmu?" tanya Erin coba mencari tahu maksud dari perkataan yang Owen katakan padanya.
"Maksudnya, bolehkah aku kembali padamu! Aku benar-benar minta maaf, karena ternyata aku salah. Jika boleh aku jujur padamu, perasaan dalam hatiku ini sempat bercabang dan membuatku gegabah dalam memutuskan sesuatu, sampai akhirnya aku mengerti bahwa ternyata aku mencintaimu dan bukan wanita itu!"
Ungkapan hati Owen membuat Erin terhenyak. Sekarang terjawab sudah apa yang menjadi alasan Owen mengakhiri hubungan mereka, yaitu karena kehadiran wanita lain dalam kehidupannya.
"Semudah itu kau berpikir untuk memilih wanita lain dan sekarang apa yang membuatmu memutuskan kembali padaku, apa wanita itu ternyata tak mencintaimu atau dia ternyata tidak baik untukmu?" tanya Erin mengungkapkan perasaan yang mengganjal di dalam hatinya.
"Bukan itu Erin. Hanya saja sekarang aku sadar bahwa hatiku ternyata begitu mencintaimu dan aku ingin hubungan kita lebih dari ini." Owen mulai merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak dari dalamnya.
Kedua mata Erin langsung membulat sempurna dengan sebuah kotak yang saat ini telah Owen sodorkan di hadapannya.
__ADS_1
"Apa ini Owen?" tanya Erin dengan mata yang saat ini sudah berkaca-kaca.
"Ambil dan bukalah!" titah Owen dengan masih menatap dalam wajah wanita yang dicintainya.
Tangan Erin pun gemetar saat mengambil kotak yang Owen sodorkan, terlebih saat ia membukanya.
Sebuah cincin dengan kemilau yang indah, membuat Erin tak mampu lagi menahan air matanya untuk menetes dan seketika membasahi kedua pipinya yang saat ini merona merah.
"Apa ini Owen?" tanya Erin sambil mengusap air mata pada wajahnya.
"Itu sendok, Erin, buat makan," canda Owen menjawab pertanyaan Erin.
"Kamu ini masih saja bercanda, maksud aku untuk apa cincin ini?" tanya wanita itu yang masih sibuk mengusap air mata yang terus berlinang dari kedua sudut matanya.
"Aku ingin menikahimu! Apa kau mau menjadi istriku?" tanya Owen sungguh-sungguh.
Erin tak mampu lagi menahan dirinya saat perkataan Owen berhasil membuat binar di matanya semakin berkilau dan kebahagiaan itu kini sudah membuncah di dalam dirinya. Wanita itu langsung mendekati Owen dan memeluk tubuh pria yang sangat ia cintai itu.
"Aku mau Owen, aku mau! Aku juga mencintaimu!"
Keduanya terlihat berpelukan, hingga pelukan erat dari Erin yang berlebihan membuat Owen mengaduh karena rasa nyeri mulai terasa di tubuhnya.
"Au, sakit Erin pelan-pelan."
"Maafkan aku Owen, aku hanya terlalu bahagia," ucap Erin sambil kembali duduk di kursinya
Owen tersenyum manis dan menyibakkan tangan agar wajah Erin mendekat ke arahnya, karena saat ini sekujur tubuh Owen sangat sulit untuk digerakkan.
Saat wajah Erin sudah semakin dekat, Owen mengusap air mata di kedua pipinya dengan sebelah tangan, lalu kemudian ia mengangkat kepala dan memberi sebuah kecupan pada kening Erin yang saat ini semakin bersemu merah.
"Semoga ini adalah awal dari kebahagiaan kita Owen. Aku harap tidak ada wanita lain lagi yang dapat menggoyahkan cintamu padaku."
"Tidak akan Erin, karena saat ini aku sudah yakin! Bahwa aku mencintaimu dan hanya kamu."
Will ternyata tidaklah pergi, ia masih berdiri di depan pintu kamar untuk memastikan apakah sahabatnya itu benar-benar berkata jujur kepada Erin.
"Semoga kalian bahagia sahabat, aku ikut bahagia bila melihat kalian bahagia," gumam Will yang masih mengintip.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
__ADS_1