
Selamat membaca!
Setelah tiba di rumah, kini Ansel sudah berada di dalam kamarnya. "Menyusahkan sekali wanita itu," gerutu Ansel sambil menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Ia bangkit kembali dan duduk di tepi ranjang, dengan raut wajah yang kesal.
"Masuk! Ada apa?" tanya Ansel dengan nada yang terdengar keras.
Irene mulai melangkah masuk, walau penuh ketakutan. Namun malam ini ia hanya ingin mengajukan permohonan untuk dapat tidur bersama Ansel. Entah kenapa keinginan itu begitu besar di dalam dirinya, ia tak bisa menahan dan hanya berusaha untuk membuat semuanya menjadi nyata.
Apa ini termasuk ngidam yang Irene rasakan?
Entahlah, Irene sendiri tidak bisa membedakan antara keinginan dan rasa ngidamnya.
"Ansel, bolehkah aku tidur bersamamu malam ini?" tanya Ansel dengan raut wajah yang ragu.
Ansel mencetak sebuah kerutan dalam pada keningnya. "Memang kenapa?" tanya pria itu tampak bingung.
"Entahlah, tapi sepertinya anak dalam kandunganku ini yang menginginkannya," ucap Irene walau sedikit terbata.
"Jangan ada-ada saja kamu. Sudah keluar sana, kamu ini ganggu waktu tidurku saja." Ansel bangkit dan mendekat ke arah Irene, ia langsung mendorong tubuh wanita itu untuk memaksanya keluar dari dalam kamar.
"Ansel, tolonglah aku mohon! Aku juga sebenarnya tidak mau, tapi keinginan ini begitu besar, sampai membuatku gelisah dan tidak bisa memejamkan kedua mataku," tutur Irene mengungkapkan apa yang dirasakannya.
Namun apapun yang Irene katakan, tak ada artinya untuk Ansel, karena pria itu semakin mendorongnya, hingga membuat tubuh Irene sudah berada di luar kamar.
"Sudahlah, kembali ke kamarmu! Lagipula sampai kapanpun aku tidak akan menganggap bayi itu adalah anakku, kehadirannya hanya membuat hidup dan kisah cintaku bersama Dyra menjadi hancur berantakan!" Ansel menutup pintu dengan keras, lalu menguncinya.
__ADS_1
"Dasar bodoh! Darimana dia bisa berpikir aku akan mengizinkannya untuk tidur bersamaku," gerutu Ansel masih dengan raut wajahnya yang kesal, sambil melangkah menuju ranjang besarnya.
Ansel kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mulai memejamkan kedua matanya, untuk melepas segala penat yang sudah sejak siang membelenggunya.
Irene tak berani mengetuk atau memaksa kehendak Ansel yang sudah terang-terangan menolaknya, ia hanya bisa menerima dengan lapang sambil mengelus perutnya.
"Nak, sabar ya. Suatu saat Ayahmu pasti bisa menerimamu, kamu jangan dengarkan apa yang Ayahmu katakan tadi ya." Kedua kaki Irene yang berusaha tegar, kini mulai tumbang dan terduduk di depan pintu kamar, sembari menyandarkan tubuhnya di badan pintu.
Saat ini air mata sudah terlihat membasahi kedua pipi Irene. Ia tak sanggup menahan rasa sakit atas semua perkataan yang telah Ansel ucapkan padanya. Semua kalimat itu benar-benar menghujam kedalaman hatinya.
"Aku akan pendam semua ini, sampai aku benar-benar tak mampu lagi menahan semuanya." Irene terisak dengan rasa sesak yang kini sudah terasa mencengkram dadanya.
Tengah malam saat Ansel terbangun. Kerongkongannya terasa sangat kering, hingga membuatnya beranjak dari posisi tidurnya.
Ansel melangkah ke sebuah nakas untuk mengambil air, namun saat itu persediaan air di dalam kamarnya ternyata sudah habis. Ansel pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar.
Ansel memutar kunci dan langsung membuka pintu kamarnya, namun apa yang terjadi saat pintu itu terbuka, membuat Ansel terhenyak begitu kaget.
"Irene, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Ansel dengan rasa kesal, yang seketika kembali muncul di raut wajahnya.
Ansel beberapa kali mengguncangkan tubuh Irene dengan kaki untuk membangunkannya, namun guncangan yang dihasilkannya, masih membuat Irene tak bergeming.
"Sebenarnya dia tidur atau pingsan sih?" tanya Ansel yang kini mulai merasa cemas.
Ansel langsung berlutut dan merengkuh tubuh Irene di atas pangkuannya. Ia terkesiap saat embusan napas Irene terasa sangat lemah, bahkan saat denyut nadi pada pergelangan tangan Irene ia raba, semakin membuat rasa cemas memenuhi isi kepalanya saat ini.
Tanpa banyak berpikir lagi, Ansel mulai menggendong tubuh Irene yang saat ini sudah terkulai lemah, untuk direbahkan di atas ranjangnya.
__ADS_1
Setelah merebahkan tubuh Irene, Ansel dengan cepat langsung menyambar sebuah ponsel yang tergelatak di atas nakas dan mulai menghubungi dokter pribadi untuk datang ke rumahnya.
"Halo, Dokter, tolong datang ke rumah saya, secepatnya!"
"Baik, Tuan. Memangnya siapa yang sakit?"
Ansel terdiam sejenak, sampai akhirnya ia akhirnya tak memiliki pilihan lain untuk mengatakannya.
"Istri saya, Dok. Dia sedang mengandung."
Ansel sudah mengakhiri sambungan teleponnya dan kembali menatap wajah Irene yang saat ini sedang tak sadarkan diri, dengan tatapan mata yang diliputi oleh rasa cemasnya.
"Kenapa aku jadi mencemaskan Irene ya? Bukannya aku sangat membencinya," batin Ansel mulai bingung dengan perasaannya.
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
Berikan komentar kalian ya?
Jangan lupa untuk vote.
Selamat beraktifitas ya.
Ramaikan novel aku yang ini ya, sarat makna kehidupan dan banyak ilmu agama di sana :
__ADS_1