
Selamat membaca!
"Lebih baik aku tidur, sepertinya mataku sudah sangat lelah." Ansel hendak menaiki ranjang untuk merebahkan tubuhnya di samping Irene.
Namun tiba-tiba ia mengambil sebuah selimut dan mulai membentangkannya untuk menyelimuti tubuh Irene.
"Semoga kamu cepat sembuh! Agar tidak lagi menyusahkanku," ucap Ansel menatap sinis, lalu mulai merebahkan tubuhnya berlawanan dengan posisi tubuh Irene tidur.
Ansel sejenak menatap dalam wajah Irene yang kini berada di samping tubuhnya.
"Apakah aku harus mulai bersikap baik terhadapnya?" tanya Ansel yang masih digerogoti rasa bimbangnya.
Ansel mengesah kasar, kemudian ia mulai memejamkan kedua matanya untuk tidur.
πππ
Setelah selesai menikmati keindahan hujan meteor, kini mereka sudah berada di dalam mobil untuk kembali pulang.
"Aku bahagia hari ini, Hubby. Terima kasih ya kamu sudah mau datang, padahal kamu pasti sangat lelah ya habis bekerja."
Darren mengedikkan bahu, sambil mengangkat kedua alisnya.
"Sebenarnya aku tidak mau, tapi karena Owen memaksa, apa boleh buat. Benar begitu kan Owen?"
Seketika raut wajah Dyra berubah masam, ia tampak sedih setelah mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Darren.
"Maaf Tuan, tapi kata Erin berbohong itu dosa. Jadi aku tidak mau berbohong."
Dyra membulatkan kedua matanya. Ia lalu menghadiahi sebuah cubitan yang mendarat mulus tepat di perut Darren.
"Ih kamu ini, dasar."
Darren mengaduh, sambil beringsut mundur untuk menghindari cubitan yang Dyra berikan lagi padanya. Namun usahanya gagal, karena Dyra berhasil mendaratkan 3 cubitan sekaligus pada perut Darren.
__ADS_1
"Ampun sayang, ampun. Aku minta maaf ya," pinta Darren yang menghalangi kedua tangan Dyra yang ingin kembali mencubitnya.
Dyra pun menghentikan niatnya dan memalingkan wajah dengan mencebik manja.
"Jangan ngambek dong sayang, aku cuma bercanda," ucap Darren merayu istrinya yang posisi duduknya sudah memunggungi tubuhnya.
Darren menangkup kedua sisi lengan Dyra dan membalikkan tubuh istrinya itu dengan perlahan. Kini wajah keduanya sudah saling berhadapan.
"Sudah jangan marah ya, aku cuma bercanda." Darren langsung mendaratkan sebuah kecupan singkat pada bibir istrinya itu, hingga membuat Dyra terkesiap tak menyangka.
"Ih kamu ini, aku kan lagi ngambek, kok malah kamu cium." Dyra mengerucutkan bibirnya, ia balik mengerjai suaminya dengan berpura-pura marah.
"Ya sudah kalau kamu marah, aku lebih baik lompat saja keluar dari mobil ini," ancam Darren yang sudah bersiap menggenggam handle pintu mobil untuk membukanya.
Seketika kedua tangan Dyra, merengkuh tubuh Darren dan langsung memeluknya dengan erat.
"Apa sih kamu? Jangan seperti itu. Aku cuma bercanda dan hanya ingin menggodamu saja. Jika kamu terluka, aku akan lebih hancur, bahkan saat ini aku tidak bisa membayangkan, bagaimana caranya aku bisa hidup dan bernapas tanpa kehadiranmu."
Perkataan romantis yang terlontar dari mulut Dyra, membuat hati Darren tersentuh begitu dalam. Ia langsung membalikkan tubuhnya dan membalas pelukan Dyra.
Momen mengharu biru itu seketika pecah saat suara tangisan Owen memenuhi seisi ruangan mobil.
"Kenapa kau menangis Owen?" tanya Darren menautkan kedua alisnya, sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Dyra.
Kini keduanya menatap dengan penuh rasa heran ke arah Owen, yang sedang mengendarai mobil, namun terlihat begitu sedih.
"Aku jadi merindukan Erin, Tuan," jawab Owen sembari mengusap air matanya.
Dyra merasa iba dengan kesedihan Owen, karena mau bagaimanapun kepergian Ansel dari rumah, masih merupakan tanggung jawabnya.
"Maafkan aku Tuan. Aku tidak bermaksud mengganggu waktu Anda bersama Nyonya. Ini sudah merupakan kewajiban kami untuk mengikuti apapun keputusan, Tuan, walau mungkin itu sangat berat, saat kami berpisah."
Darren baru mengerti dengan perasaan Owen yang selama ini, tak pernah sekalipun diungkapkannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya kepadaku?" tanya Darren dengan kedua alis yang saling bertaut.
Dyra mengusap dada suaminya itu, untuk meredakan rasa geramnya terhadap Owen.
"Sabar sayang, lagipula aku yang salah, karena akulah Ansel jadi harus pergi dari rumah dan akhirnya kamu memerintahkan Erin untuk ikut menemaninya."
Darren menarik kedua sudut bibirnya, hingga membentuk sebuah senyuman di wajahnya.
"Tidak sayang. Kamu tidak salah sedikit pun, tapi aku yang salah. Maafkan aku ya Owen. Besok jemputlah Erin dan sebagai penggantinya bawalah Anna untuk bekerja di rumah Ansel."
Raut wajah Owen seketika berubah cerah, bahkan kini sebuah senyuman mulai terbit dari wajahnya.
"Terima kasih Tuan. Maafkan saya jika saya lancang," ucap Owen dengan perasaan tidak enak.
"Tenang saja Owen, suamiku itu sangat baik. Lagipula kamu itu sudah kami anggap seperti keluarga sendiri. Jadi kamu tidak perlu sungkan, jika menginginkan sesuatu katakanlah!"
Perkataan yang terlontar dari mulut Dyra, membuat Darren semakin kagum dengan sosok wanita yang saat ini sangat dicintainya.
"Kamu adalah wanita terbaik yang pernah aku cintai, bahkan menurutku kamu jauh lebih baik dari Bella," batin Darren tersenyum penuh rasa kagum.
πΈπΈπΈ
Bersambung βοΈ
Visual Owen Choi :
Berikan komentar kalian ya?
Terima kasih banyak.
Mampir juga ke karyaku yang lain ya :
__ADS_1