
Selamat membaca!
Keesokan paginya sinar matahari mulai menyinari semesta dengan begitu cerahnya. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi dan Ansel terlihat baru saja kembali menuju kamarnya. Kamar di mana sang istri masih tertidur pulas di atas ranjang.
"Irene pasti kaget, kalau aku bawakan makanan ini untuknya," gumam Ansel yang sudah membawa dua porsi makanan pada sebuah troli.
Setibanya di balkon kamar dengan view yang menyuguhkan kolam renang di bawahnya, Ansel langsung menyiapkan makanan itu di sebuah meja kayu yang memang berada di sana. Meja kayu dengan dua kursi di sebelah kiri dan kanannya. Pria itu memang sengaja memilih balkon untuk menjadi tempatnya menikmati sarapan pagi bersama sang istri tercinta. Momen yang tercipta untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka.
"Sekarang aku tinggal membangunkan Irene." Ansel bergegas masuk kembali ke kamarnya, setelah ia selesai menyiapkan dan menata makanan yang dibawanya di atas meja.
Setelah berada didekat Irene, pandangan matanya langsung tertuju pada sosok istrinya yang masih terpejam dan terlihat nyaman tidur di atas ranjangnya sendirian. Ansel semalam memang sengaja memilih tidur di sofa karena ia tidak mau jika kenyamanan Irene akan terganggu dengan kehadirannya.
Kini pria itu berlutut di samping ranjang, hingga mensejajarkan kepalanya dengan wajah Irene yang saat ini sedang berada di tepi ranjang dan keduanya saling berhadapan. Ansel terus menatap paras cantik sang istri yang sudah sangat lama dirindukannya.
"Irene, bangun sayang," ucap Ansel dengan suaranya yang terdengar lembut, pria itu memang tak ingin mengejutkan istrinya dan lebih memilih untuk membangunkannya dengan perlahan. Di sini, Ansel benar-benar membuktikan semua perkataannya bahwa dirinya yang sekarang bukanlah pria yang sama dengan yang dulu. Pria yang pernah melukai hati Irene, bahkan telah menghancurkan kehidupannya.
Wanita itu masih bergeming dan nyaman dengan posisinya. Sampai akhirnya, belaian tangan Ansel pada pucuk rambutnya membuat Irene mulai terjaga. Wanita itu terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali dan mengarahkan pandangannya yang baru sedikit terbuka untuk menatap wajah Ansel yang saat ini begitu dekat dengan wajahnya.
"Ansel," ucap Irene walau masih terdengar parau.
"Ini sudah pagi, bangunlah karena kamu harus melayaniku!" Perkataan Ansel membuat wanita itu terhenyak, hingga kedua matanya seketika terbuka sangat lebar. Irene begitu kaget dengan sebuah kalimat perintah yang terucap dari mulut sang suami. Sebuah perintah yang sangat sering didengarnya sebelum ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Ansel.
"Kenapa Ansel? Apa maksud ucapanmu dengan kata melayanimu itu?" tanya Irene yang sudah mendapatkan kejutan di pagi hari dari suaminya. Kejutan yang membuat rasa traumanya kembali timbul memenuhi isi pikirannya.
"Ya, kamu harus melayaniku, ambilkan aku sarapan pagi! Terus kedua kakiku juga terasa sangat pegal karena seharian kemarin telah mencarimu, tolong pijitin ya!"
Perintah Ansel membuat Irene tercekat luar biasa kagetnya, sampai wanita itu kesulitan untuk menelan salivanya sendiri.
"Ya Tuhan, aku pikir Ansel benar-benar sudah berubah, tapi ternyata dia masih sama seperti yang dulu! Aku sangat menyesal karena telah menginap di sini. Apa kemarin itu kepala Ansel terbentur sesuatu ya? Sampai dia bisa berubah sebaik itu," gumam Irene yang telah masuk dalam sandiwara Ansel.
__ADS_1
"Ayo sekarang ikut aku ke balkon dan pijitin aku di sana!" Ansel sengaja mengeraskan sedikit suaranya untuk menambah kesan menakutkan, agar Irene lebih termakan sandiwara yang sedang dibuatnya.
Irene yang masih tak percaya dengan apa yang didengarnya, sesekali menepuk-nepuk kedua pipinya secara bergantian dan ia juga sampai mencubit keras permukaan kulit pada tangannya untuk memastikan bahwa apa yang terjadi saat ini bukanlah sebuah mimpi belaka.
"Au ...." Irene mengaduh kesakitan dengan cubitan yang dibuatnya sendiri.
"Ayo Irene! Kenapa kamu malah diam saja?" tanya Ansel yang kembali menoleh untuk melihat istrinya masih tak beranjak dari atas ranjang.
Perintah Ansel kali ini membuat Irene bergedik ngeri dan seketika bangkit untuk menyusul langkah Ansel yang telah menunggunya.
"Ih dasar, lain kali aku enggak boleh termakan ucapannya! Sepertinya dia memang sengaja mempermainkan perasaanku, jahat banget sih kamu Ansel. Kamu melambungkan aku dulu setinggi-tingginya dengan ucapan manismu, lalu kamu hempaskan aku begitu saja. Dasar PHP!" gerutu Irene di dalam hatinya begitu kesalnya karena ia merasa tertipu dengan perubahan suaminya semalam.
Langkah Irene tampak begitu kesal mengikuti Ansel yang sudah berada di depannya. Padahal jika Irene melihat raut wajah Ansel saat ini, ia pasti tahu bahwa suaminya sedang mengerjainya.
"Irene pasti saat ini sedang ketakutan karena aku kelihatan sama seperti dulu," gumam Ansel terkekeh puas karena rencananya yang dibuatnya ternyata berhasil mengelabui sang istri.
Setelah tiba di balkon, pandangan mata Irene masih tertutup tubuh Ansel yang berdiri menutupi sebuah meja yang di atasnya sudah terdapat dua porsi makanan untuk keduanya menikmati sarapan di pagi hari.
"Nah, kita sudah sampai sayang!" Ansel memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah Irene dan membelakangi meja kayu itu.
Melihat ekspresi wajah Ansel, membuat Irene mengerutkan kedua alisnya hingga tercetak jelas kerutan dalam di permukaan dahinya.
"Dih, ini Ansel kenapa sih? Tadi dia bicara dengan suaranya yang arogan. Bahkan ekspresinya sangat terlihat galak sekali, tapi kenapa sekarang dia malah tersenyum manis seolah dia memberikan aku kebahagiaan. Dasar pria aneh!" batin Irene yang masih belum dapat membaca kejutan yang memang Ansel siapkan untuknya.
"Sayang, sini mendekat ke arahku!" titah Ansel sambil merentangkan kedua tangannya, meminta wanita yang berada di hadapannya untuk melangkah ke arahnya.
Namun, Irene masih terlihat diam dan hanya termangu dengan segala pikiran yang membuatnya jadi kebingungan sendiri.
"Sebenarnya apa rencana Ansel?" batin Irene yang dipenuhi tanda tanya di dalam pikirannya.
Melihat Irene yang tak beranjak dari posisinya saat ini, Ansel pun menjadi tak sabar lagi untuk menunjukkan kejutan sederhananya yang memang telah ia siapkan sejak pagi tadi. Pria tampan itu akhirnya menyingkirkan tubuhnya yang sejak tadi menutupi pandangan mata Irene ke arah meja kayu yang berada di balik tubuhnya.
"Surprise! Ini dia kejutan kecil buat istriku tercinta. Kita sarapan di sini ya, sayang!" ucap Ansel dengan suara yang terdengar sangat bahagia, lalu ia menarik sebuah kursi dan mempersilahkan istri tercintanya untuk duduk di sana.
__ADS_1
Kedua mata Irene seketika membeliak karena saking terkejutnya dengan apa yang dilihatnya. Ia pun akhirnya menyadari, bahwa dirinya saat ini tengah dikerjai oleh Ansel, suaminya.
Tanpa membuang banyak waktu, Irene pun langsung melangkah ke arah Ansel dengan tergesa sambil menghentakkan kedua kakinya berulang kali untuk meluapkan kekesalannya yang saat ini bercampur dengan rasa bahagia di dalam hatinya.
"Ih, Ansel ... ternyata kamu sengaja melakukan sandiwara ini untuk mengerjai aku! Dasar kamu itu menyebalkan!" teriak Irene sambil mendaratkan sebuah cubitan pada bagian perut suaminya.
Namun, dengan cekatan pria itu mampu menghindari cubitan itu sambil tertawa puas setelah melihat ekspresi menggemaskan di wajah Irene saat ini.
Setelah cubitan pertamanya gagal, Irene masih tak menyerah dan terus berusaha mendaratkan beberapa cubitan secara bertubi-tubi dengan kedua tangannya hingga membuat Ansel berlari memutari meja kayu itu. Kejar-kejaran pun tak terelakkan lagi terjadi, sampai akhirnya Ansel pun berhenti untuk mengalah karena ia tidak ingin Irene sampai kelelahan akibat mengejar dirinya.
"Sayang, cukup! Berhenti berlari, ingatlah saat ini kamu sedang hamil." Irene pun berhenti di hadapan Ansel. Tanpa wanita itu duga, Ansel langsung merengkuh tubuhnya dan mendekapnya dengan begitu erat.
Pelukan itu membuat Irene jadi terpaku beberapa saat untuk merasakan hangatnya dekapan yang diberikan oleh Ansel.
"Sayang, maaf ya aku sudah membuatmu kesal di pagi ini, tapi niatku hanya ingin memberi kejutan ini untukmu. Sekarang kamu boleh cubit aku, kamu mau cubit di bagian mana?" tanya Ansel sambil mengusap lembut pucuk kepala istrinya, lalu ia mengurai pelukan itu dengan perlahan.
Irene pun menatap kedua mata Ansel dalam-dalam, hingga ia dapat melihat ketulusan dari kedua manik mata pria itu yang begitu membuatnya nyaman dan membuatnya jadi teringat akan sosok Suga. Seorang pria yang pernah membuatnya merasa begitu dimanjakan dengan semua perhatiannya.
"Ya Tuhan, jika memang itu adalah mata Suga, biarlah itu hidup terus di dalam diri suamiku. Saat ini, aku sangat bahagia kalau memang Ansel telah berubah dan tak lagi seperti dulu," batin Irene dengan kedua mata yang tampak berkaca-kaca.
Sambil mengusap bulir bening yang hampir menetes dari kedua sudut matanya, Irene pun mulai mengembangkan senyum termanis dari kedua sudut bibir merahnya. "Tidak, sayang. Aku tidak akan mencubitmu, setelah aku tahu bahwa kamu hanya mengerjaiku untuk memberikan kejutan yang bagiku sangat indah ini. Terima kasih banyak ya karena kamu sudah menyiapkan semua ini untukku. Aku mencintaimu dan aku ingin kita bersama-sama memulainya lagi dari awal!" ucap Irene penuh rasa haru yang saat ini tengah menyelimuti hatinya.
Hati Ansel merasa terenyuh mendengar setiap kata yang terucap dari mulut istrinya yang mampu menggetarkan hatinya.
"Aku juga mencintaimu, Irene. Sangat-sangat mencintaimu. Aku janji, kamu adalah wanita terakhir satu-satunya dalam hidupku dan aku tidak akan pernah lelah untuk menghilangkan sepenuhnya rasa trauma di dalam dirimu," jawab Ansel penuh keyakinan.
"Terima kasih Ansel, terima kasih karena kamu telah datang mencariku." Kali ini wanita itu tak dapat menahan air matanya hingga membuat bulir kesedihan itu menetes deras membasahi kedua pipinya.
"Sudah ya, sekarang kita sarapan dulu. Kamu harus banyak makan ya, biar anak kita dalam perutmu tumbuh kembang dengan baik dan sehat-sehat di dalam sana," pinta Ansel sambil mengusap air mata pada kedua pipi istrinya dengan penuh kelembutan.
Irene pun mengangguk patuh seraya mengembangkan senyuman manisnya. Ia pun duduk di kursi yang sudah Ansel sediakan untuknya dan mereka pun kini duduk saling berhadapan untuk mulai menikmati sarapan dengan suasana pagi yang menyejukkan di kota Birmingham.
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
Bersambung✍️