
Selamat membaca!
Darren mulai tersenyum, ketika melihat Erin dapat tertawa bersama Dori. Namun, masih ada beberapa pertanyaan yang ada dibenaknya terkait keputusan Owen dalam mengakhiri hubungannya dengan Erin.
"Sepertinya ada alasan kuat, kenapa Owen mengakhiri hubungannya dengan Erin? Karena aku sangat paham, bagaimana Owen sangat mencintai Erin," gumam Darren sambil melangkah mendekati Evran, yang dimintanya untuk menunggu sejenak.
Evran pun tersenyum. Ia masih belum mengatakan apa yang ingin disampaikannya kepada Darren.
"Sepertinya ini waktu yang tepat, karena tidak ada Nona Dyra," gumam Evran memutuskan, setelah ia menunda karena tidak ingin menambah beban pikiran Dyra.
Darren berdehem, hingga menyadarkan lamunan Evran.
"Apa yang aku pikirkan, Dok?" tanya Darren menautkan kedua alisnya.
"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan," ucap Evran sambil mengambil sesuatu dari jas dokternya.
Darren menautkan kedua alisnya dengan rasa penasaran yang kini hadir memenuhi isi pikirannya.
Evran pun menyodorkan sebuah kredit card kehadapan Darren. "Ini Tuan Darren, titipan dari Nona Irene."
__ADS_1
Darren terhenyak dengan apa yang saat ini dilihatnya. "Maksudnya apa? Kartu ini aku berikan kepada Irene waktu di rumah sakit, kenapa ada padamu?" tanya Darren yang sudah dipenuhi beragam tanda tanya di kepalanya.
"Maaf Tuan, jika saya baru memberikan kartu itu pada Anda sekarang ini, karena Irene berpesan, agar saya memberikan pada Anda seminggu setelah dia pergi ke Birmingham."
Raut wajah Darren tampak diliputi rasa penasaran dengan beberapa pertanyaan dalam benaknya.
"Bagaimana kau bisa bertemu dengan Irene? Coba ceritakan padaku!" tanya Darren dengan kedua alis yang saling bertaut.
Evran pun mulai mengingat pertemuannya dengan Irene di malam itu.
"Baik saya akan ceritakan, tapi sepertinya jika sambil berdiri seperti ini, pasti akan terasa sangat melelahkan."
Darren pun seketika terkekeh dengan apa yang dikatakan oleh Evran. "Kau betul Evran, ayo mari kita masuk dulu!" titah Darren sembari melangkah masuk kembali ke dalam rumah diikuti oleh Evran yang mengekor di belakangnya.
Tak beberapa lama, Tomi kembali ditemani oleh seorang pelayan wanita yang bernama Jeny. Jeny pun mulai menata makanan yang diminta oleh Darren juga dua gelas kopi cappucino di atas meja.
"Silahkan Tuan, apa ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Tomi dengan setengah membungkuk.
"Tidak Tomi, terima kasih. Oh ya, Jeny tolong temani Nyonya Dyra dulu, katakan padanya saya masih berbincang-bincang dengan Dokter Evran."
__ADS_1
"Baik Tuan Darren," ucap Jeny dengan senyum yang ramah.
Jeny dan Tomi pun berlalu dari ruang tamu, meninggalkan Darren bersama Evran yang sudah memulai percakapannya kembali.
"Baiklah Tuan Darren, jadi ceritanya begini, waktu malam itu...."
Malam itu selesai menulis surat untuk Ansel, Irene memutuskan untuk pergi dari rumah kediaman Ansel. Ia memutuskan sesuatu yang sebenarnya sangatlah berat untuknya.
"Maafkan aku Ansel, mungkin dengan kepergianku, kamu akan bahagia karena aku hanyalah pembawa sial untukmu." Irene terus melangkah sambil mendorong kopernya meninggalkan pelataran rumah.
"Nona, apa tidak sebaiknya, Nona pikirkan dulu dengan matang? Kasihan Tuan Ansel masih buta seperti ini, Nona. Tolonglah Nona!" ucap Anna terus menahan langkah Irene yang hendak keluar dari gerbang rumah.
"Maafkan aku Anna, aku sudah coba bertahan, tapi semakin lama yang aku dapat hanyalah rasa sakit yang begitu menyakitkan, aku tidak dihargai di sini. Bahkan suamiku saja menganggapku sebagai pembawa sial untuk hidupnya, aku bukanlah istrinya, aku hanya pembantu untuk melayani segala kebutuhannya saja, yang bisa dibentak, dihina, tapi apa? Aku hanya bisa diam, menangis dan merasakan sakit yang sangat dalam, semua aku pendam seorang diri tanpa ada satu pun yang tahu, betapa sakitnya bila berada di posisiku. Aku pergi Anna, jaga Ansel baik-baik." Irene melanjutkan langkah kakinya meninggalkan gerbang rumah dengan membawa rasa sakitnya yang teramat dalam, wanita itu menangis sesenggukan sambil menekan dadanya, agar rasa sesak itu setidaknya sedikit berkurang di dalam dadanya.
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
Berikan komentar kalian ya.
__ADS_1
Terima kasih banyak.
Lanjut next episode flashback Irene bertemu dengan Dokter Evran.