
Selamat membaca!
Setelah tiba di dalam kamar, Darren langsung menurunkan tubuh Dyra di atas ranjang. Kala itu jam dinding pada kamar sudah menunjukkan pukul 13.00, tepatnya waktu makan siang sudah tiba untuk keduanya bersantap.
"Kamu tidak perlu ke bawah, biar Erin yang akan membawakan makanan siang untukmu. Saya mau kembali ke kamar untuk ganti pakaian," ucap Darren mulai berbalik lalu melangkah menuju keluar kamar.
Namun baru satu langkah, tangan Dyra sudah meraih tangannya, hingga membuat langkah Darren terhenti. Darren terhenyak dengan apa yang dilakukan oleh Dyra. Ia pun dengan cepat menoleh dan menatap dalam wajah Dyra dengan raut penuh tanda tanya, akan maksud Dyra yang sesungguhnya.
"Kenapa Dyra?" tanya Darren dengan kedua alis yang saling bertaut.
"Bolehkah Ayah menyuapiku lagi seperti kemarin," pinta Dyra dengan mengulas sebuah senyuman di wajahnya.
Darren tersenyum manis. Ia langsung mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya.
Kini Darren sudah melangkahkan kaki menuju kamarnya. Kamar megah dengan ranjang besar dan interior yang mewah. Selama 4 tahun ini, Darren sudah terbiasa menghabiskan waktunya dengan menyendiri di kamar, bila tidak ada pekerjaan yang dikerjakannya, terlebih setiap usahanya sudah memiliki orang kepercayaan masing-masing yang mengurusnya dan semua laporan itu berpusat langsung kepada Owen yang lalu melaporkannya kepada Darren.
Bisa dibayangkan betapa indahnya hidup seperti itu, memiliki harta yang melimpah juga rumah mewah dengan fasilitas yang super lengkap, ditambah pesawat jet pribadi, kapal pesiar dan satu helikopter, membuat Darren benar-benar menjadi pria yang diidamkan oleh banyak wanita. Namun hanya satu wanita yang mampu membuatnya jatuh cinta yaitu Dyra Anastasya, wanita yang mampu meyakinkannya bahwa ternyata hatinya masih dapat mencintai seseorang, setelah lama mati semenjak kepergian istrinya.
Darren bergegas berganti pakaian untuk kembali ke kamar Dyra. Hatinya saat ini dipenuhi rasa bahagia, atas permintaan wanita itu, yang membuat Darren berharap, jika Dyra dapat membaca segala isi hati yang tak bisa ia ungkapkan.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku mencintainya, karena aku takut dia hanya menganggap aku sebagai orangtuanya saja. Aku tidak mau hubunganku dengan Dyra menjadi rusak, karena sebuah perasaan yang tak terbalaskan. Sebaiknya aku pendam semua perasaan ini, biarlah Tuhan sebagai saksinya, jika aku memang sangat mencintainya," gumam Darren sambil melangkah menuju kamar Dyra.
Darren sudah memerintahkan kepada Erin untuk membawakan makanan ke kamar Dyra, sebelum ia kembali ke kamarnya.
Kini Darren sudah tiba di depan kamar Dyra. Ia mulai mengetuk pintu kamar dengan perlahan, hingga tak lama suara sahutan terdengar manis menyeruak masuk ke dalam telinganya. Suara dari wanita yang selalu membuatnya tenang, saat alunan nada bahagia terdengar olehnya. Namun bila suara kesedihan yang terdengar, Darren bisa ikut tersiksa merasakan kesedihan Dyra.
Pintu pun terbuka. Dyra terlihat berdiri di depan pintu, dengan menggenggam handle untuk membukanya. Dyra mengulas senyum manis di wajahnya dan mempersilahkan Darren untuk masuk ke dalam kamarnya.
Darren mengikuti langkah Dyra yang terlebih dulu berjalan. Mereka kini menuju sebuah balkon kamar, tempat dimana Dyra ingin Darren menyuapinya di sana. Tempat yang langsung menghadap ke arah taman belakang rumah. Taman yang dulu menjadi tempat favorit Dyra, untuk menghabiskan waktu berdua dengan Ansel.
Dyra dan Darren sudah berada di balkon kamar. Mereka kini duduk bersebelahan. Suasana saat itu tidak seperti biasanya, terasa teduh dengan semilir angin yang menyejukkan, menjadi pelengkap momen yang ada saat itu.
Darren menoleh ke arah Dyra, bahkan ia tak melanjutkan gerakannya yang sedang mengaduk makanan untuk mulai menyuapi Dyra.
"Tanya apa? Tanyakan saja?" Darren menaikkan kedua alisnya dengan raut wajah penuh tanda tanya.
Dyra tampak terdiam, wajahnya seperti sedang menimang-nimang sesuatu yang membuatnya ragu.
__ADS_1
"Apa pantas aku bertanya seperti itu kepada laki-laki yang sudah aku anggap seperti orangtuaku sendiri? Bagaimana bila semua yang dilakukannya selama ini, hanya sebatas perhatian untuk seorang anak? Lebih baik aku tidak usah tanyakan, lagipula jika Ayah memang mencintaiku, pasti dia akan mengatakannya padaku," batin Dyra mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut pada Darren.
Darren kembali mendesak Dyra untuk mengatakan apa yang ingin ditanyakannya, namun dengan cepat Dyra mengalihkan pertanyaannya ke arah yang lainnya, agar Darren tak menaruh curiga padanya.
"Apakah Ayah keberatan jika aku meminta Ayah untuk menyuapiku makan?"
Darren menghela napasnya dengan kasar. "Aku pikir Dyra ingin bertanya, apakah aku mencintainya apa tidak? Ternyata dia hanya ingin bertanya seperti itu?" Darren memendam rasa kecewanya dalam-dalam.
Kini Darren kembali melanjutkan aktivitasnya. Ia mulai menyuapi Dyra yang saat ini sudah membuka mulutnya untuk menerima suapan pertama yang disodorkan oleh Darren.
"Aku mulai merasa nyaman berada didekatnya, apakah perasaan ini salah? Padahal dia sudah aku anggap seperti orangtuaku sendiri dan mungkin Ayah pun hanya menganggapku seperti anaknya sendiri," batin Dyra bergelut dengan kebimbangannya, karena ia tahu pernikahannya dengan Darren hanyalah pernikahan sementara yang nantinya akan berakhir jika Ansel kembali.
Namun sampai saat ini, ketika Ansel sudah tidak mungkin lagi kembali bersama Dyra, Darren masih belum mengatakan langkah selanjutnya tentang pernikahannya dengan Dyra Anastasya.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Berikan komentar kalian ya?
__ADS_1
Terima kasih atas semua dukungan kalian dan mau bersabar menunggu aku up di tengah real life yang aku jalani.
Jangan lupa berikan like di setiap episode dan bila berkenan vote juga ya..