Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Penggemar Rahasia


__ADS_3

Author boleh meminta sesuatu ya sebelum kita lanjut. Jangan lupa vote ya, agar novel ini bisa masuk jajaran ranking vote. Terima kasih semua sahabat EP. Jika berkenan gabung ke GC aku ya.


Selamat membaca!



Pagi hari yang berbeda di rumah kediaman Ansel. Saat itu suasana berbanding terbalik 180 derajat dengan apa yang ada di rumah kediaman Darren.


Suasana pagi yang jauh dari kata romantis untuk pasangan pengantin baru. Kala itu Ansel sedang duduk di balkon kamar dengan secangkir kopi di atas meja yang telah dibuatkan oleh Erin. Sementara itu Irene sedang berada di walk in closet, untuk merapikan pakaian Ansel, sesuai dengan perintahnya.


Setelah selesai dengan semuanya, kini Irene terlihat canggung untuk menghampiri Ansel. Ia takut mengganggu waktu Ansel bersantai yang nantinya akan berujung dengan kemarahannya.


"Hari ini aku harus izin untuk pergi ke rumah orangtuaku. Setidaknya aku ingin minta maaf, agar mereka tidak larut dengan kemarahannya," gumam Irene sedang bimbang dalam hatinya.


Gelagat Irene yang penuh keraguan, masih berada dalam pandangan mata Ansel. Lelaki itu pun langsung memanggilnya dengan nada suara yang membuat Irene terhenyak kaget.


"Ada apa? Kenapa kau seperti ragu ingin menemuiku?" tanya Ansel menautkan kedua alis dengan tatapan mata penuh selidik.


Irene yang gugup mulai melangkah maju untuk menghampiri Ansel, dengan peluh yang sudah membasahi keningnya.


Setibanya di hadapan Ansel. Irene mulai mengutarakan niatnya, walau masih penuh keraguan. Ia takut, jika apa yang ingin disampaikannya, membuat Ansel marah atau yang lebih buruknya lagi, lelaki itu akan memperlakukan dengan kasar.


"Apa yang ingin kau katakan? Katakan jangan kau buang waktuku yang berharga, hanya dengan melihatmu diam seperti ini!" titah Ansel terdengar tegas, dengan rahang yang mulai mengeras.

__ADS_1


"Begini Ansel, aku ingin pergi menemui orangtuaku. Apakah kau keberatan, jika aku pergi?"


Ansel terkekeh geli mendengar pertanyaan Irene. "Silahkan pergi, tapi aku tidak bisa menemanimu!" Ansel mengambil secangkir kopi dan mulai menyeruputnya dengan perlahan.


"Tapi Ansel justru itu, aku ingin kamu menemaniku dan bicara pada orangtuaku, agar mereka tidak lagi marah padaku. Mereka mengira aku nakal sampai aku hamil, maka itu mereka sangat marah padaku. Padahal mereka sudah melarang aku untuk bekerja di bar itu. Aku mohon Ansel!"


Ansel dengan santai meletakkan kembali cangkir itu ke atas meja. Ia menatap dalam wajah Irene dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Aku bisa saja mengabulkannya, tapi sebagai imbalannya, kau tidak boleh mengadu pada Ayahku apapun yang aku lakukan ke depannya! Apa kau setuju?"


Irene berpikir sejenak, sebelum memutuskan. Namun ia tak memiliki pilihan lain saat ini, selain menuruti apapun perintah Ansel. Bukankah memang saat ini Irene tidak berada dalam posisi yang dapat membantah atau menolak. Irene sangat sadar, ia seperti bidak catur yang hanya bisa menuruti semua permainan Ansel.


"Baik aku akan ikuti apapun yang kamu inginkan, asalkan kamu mau menemaniku dan menjelaskan tentang pernikahan kita kepada orangtuaku."


"Baguslah, jadi aku bisa kembali pergi dengan sahabat-sahabatku. Libur kuliahku masih seminggu lagi, tidak mungkin juga aku harus di rumah terus dan melihat wanita yang memuakkan ini," batin Ansel dengan seringai licik pada wajahnya.


"Pasti setelah ini, dia akan semena-mena kepadaku, tapi mau bagaimana lagi, yang terpenting saat ini aku harus membuat kedua orangtuaku percaya, bahwa aku tidaklah seburuk yang mereka pikirkan," gumam Irene langsung menuju bathroom.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Dyra saat ini sedang berada di dalam kamar, lebih tepatnya di ruang kerja Darren yang memang berada di samping ruang tidurnya. Dyra terlihat merapikan susunan pajangan yang tampak berantakan di sana. Walau saat ini ia sudah mendapat asisten baru sebagai pengganti Erin untuk membantunya di rumah, namun jika menyangkut tentang suaminya Dyra lebih nyaman melakukannya sendiri.


__ADS_1


Saat Dyra membuka laci-laci pada meja kerja Darren, alisnya saling bertaut saat menemukan objek yang tidak asing baginya. Sebuah gantungan berbentuk beruang berwana gold, sama persis seperti miliknya.



Dyra teringat bahwa ia pernah mendapatkan kiriman barang dari seseorang yang tak diketahuinya dua tahun yang lalu, sebuah paket berisi gantungan seperti milik Darren.


"Jangan-jangan gantungan yang aku terima waktu itu kiriman dari suamiku? Gantungan ini dengan punya Hubby sama persis dan berarti penggemar rahasiaku dan malaikat penolongku itu adalah satu orang yang sama."


Dyra mengembuskan napasnya lega, karena pada akhirnya semua pertanyaan yang belum terjawab, kini sudah jelas terkuak dan alangkah bahagianya ternyata suaminya adalah malaikat penolong, yang selama ini selalu ada dalam barisan doanya.


Dyra berpikir sejenak dengan memutar otaknya sangat keras, sampai akhirnya terbesit sebuah ide di dalam pikirannya, untuk memberikan sebuah kejutan pada suaminya.


"Dulu kamu sering sekali memberikan kejutan untukku. Malam ini akulah yang akan membuatmu terkejut," ucap Dyra tersenyum penuh rencana.


Dyra menggenggam erat gantungan cantik itu dan membawanya keluar dari ruang kerja Darren.


🌸🌸🌸


Berikan komentar kalian ya.


Terima kasih banyak.


Jangan lupa ya, ayo vote, vote, vote agar karya ini bisa masuk ranking vote.

__ADS_1


Ramaikan dan boom like karyaku yang ini, sudah tamat lho.



__ADS_2