Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Flashback : Pertolongan Evran


__ADS_3

Selamat membaca!


Saat itu suasana malam begitu sepi, hanya sedikit lalu lalang kendaraan yang melintas. Namun, Irene tetap melangkah menuju jalan utama.


"Aku harus kemana? Apa jika aku pulang ke rumah, keluargaku bisa memaafkanku?" gumam Irene tampak bingung dengan langkah kakinya.


Setelah menyusuri jalan perumahannya, tibalah Irene di jalan utama. Jalan raya yang mulai terlihat ramai dari jalan perumahannya. Raut wajahnya kelihatan sangat lelah saat itu, karena memang jarak antara rumahnya dengan jalan utama, lumayan jauh bila ditempuh dengan berjalan kaki.


Kini wanita berparas sendu itu menghentikan langkahnya dan duduk di sebuah halte yang tak ada siapapun di sana.


"Apa jam segini masih ada bus ya?" Irene melihat waktu pada pergelangan tangannya yang kala itu sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Irene tetap menunggu, walau ia sendiri tidak tahu apa ada bus yang ditunggunya. Bus yang akan membawanya pergi jauh dari Ansel.


Setengah jam menunggu, bus yang Irene tunggu tak kunjung datang, hingga membuatnya semakin cemas, karena memang waktu kini sudah semakin malam dan suasana pun tampak sangat sepi.


Namun, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan halte dengan kaca mobil yang sudah terbuka.


"Nona, malam-malam begini mau kemana?" ucap Evran masih berada di dalam mobilnya.


Irene yang tadinya ketakutan pun, kini mulai kembali tenang, karena sosok lelaki yang ia lihat adalah orang yang dikenalnya.


"Saya sedang menunggu bus," jawab Irene dengan nada suara yang terdengar lemah. Selain lelah memang dari siang Irene belum makan sesuatu apapun.

__ADS_1


Evran akhirnya turun dari dalam mobil dan menghampiri Irene. "Tidak ada bus yang akan lewat jam segini. Sebaiknya saya antar Nona pulang saja ya, pasti Tuan Ansel mencari Anda."


Irene mengesah kasar. Raut wajahnya menampilkan rasa tidak suka ketika mendengar nama Ansel disebut oleh Evran.


"Maaf Dokter, saya tidak mau pulang."


Evran mulai teringat saat dirinya datang ke rumah untuk memeriksa kondisi Irene. Kala itu Erin menceritakan tentang perlakuan Ansel yang tidak selayaknya terhadap istrinya sendiri, bahkan ia pun menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya, saat Ansel tak menghiraukan keadaan Irene yang kala itu sedang tak sadarkan diri.


"Mungkin Irene dalam keadaan emosi, makanya dia memutuskan untuk pergi. Padahal kata Darren kondisi Ansel saat ini sedang mengalami kebutaan. Mungkin ada baiknya aku membawanya ke apartemenku, daripada Irene pergi jauh dan nantinya akan sangat sulit ditemukan," gumam Evran memutuskan, ia merasa sangat empati dengan masalah yang sedang menimpa Irene dan Ansel.


"Ya sudah, ayo ikut dengan saya ke apartemen, daripada Nona menunggu bus sampai bermalam di halte ini."


Irene sebenarnya ingin menerima tawaran dari Evran, namun ia pun menolaknya dengan halus. "Tidak perlu Dok, biar saya tunggu saja sampai subuh, sampai bus itu datang."


Penolakan dari Irene, tak membuat Evran kehabisan akal untuk membujuk Irene, agar mau ikut bersamanya.


Irene seketika menoleh ke kiri dan kanan juga ke belakang tubuhnya yang penuh dengan pepohonan yang rindang dan suasana tampak begitu gelap. Di saat Irene sedang lengah, Evran mengambil ponsel pada saku jasnya kemudian mulai menyalakan ring tone pada ponselnya, kebetulan pria itu memang menyukai film-film horor, sehingga ia menyimpan banyak ring tone dari film-film tersebut di dalam ponselnya.


"Apa sebaiknya aku terima saja tawarannya?" batin Irene bergelut dengan keputusannya.


Tiba-tiba terdengar suara wanita meminta pertolongan, hingga membuat Irene terperanjat dari posisi duduknya dan tanpa sengaja bersembunyi pada lengan sang dokter.


"Suara apa itu Dok, saya takut?" tanya Irene yang sedang menyembunyikan wajahnya pada lengan Evran.

__ADS_1


Genggaman tangan Irene pada lengan Evran, membuat lelaki itu menjadi tak enak hati. Ia jadi merasa bersalah karena telah menakut-nakuti Irene.


"Sudah Nona, sudah ya, tidak perlu takut, suara itu sudah hilang."


Irene dengan cepat melepas genggaman tangannya pada lengan Evran, dengan raut wajah yang sudah memerah menahan rasa malunya.


"Maafkan saya Dokter. Saya tidak bermaksud untuk menyentuh Dokter," ucap Irene penuh rasa canggung.


"Tidak masalah, jangan cemaskan hal itu ya," ucap Evran dengan santai menjawabnya.


"Jadi bagaimana apa Nona mau ikut bersama saya? Jika tidak ya sudah saya akan pergi sekarang," tanya Evran yang mulai menunjukan gestur ingin melangkah kembali ke dalam mobilnya.


"Iya saya mau Dokter, daripada di sini." Irene masih melirik ke kiri dan kanan dengan rasa takut yang jelas terlihat di raut wajahnya.


"Ya sudah, ayo!" titah Evran sambil membawa koper yang berada di samping tubuh Irene.


Keduanya pun mulai melangkah masuk ke dalam mobil.


"Aku tidak punya pilihan lain, selain menerima tawarannya. Semoga ini keputusan yang tepat agar aku bisa pergi jauh dari Ansel," batin Irene yang kini sudah duduk di belakang kursi kemudi.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️

__ADS_1


Berikan komentar kalian ya.


Next episode masih flashback Irene ya...


__ADS_2