Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
S2 : Kecupan Manis


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah berhasil menenangkan Irene dan membuat istrinya itu tertidur di atas ranjang. Kini Ansel terlihat sedang duduk di sofa yang terletak di seberangnya. Pandangan mata pria itu masih terus menatap wajah cantik Irene yang saat ini sedang tertidur pulas.


"Kamu pasti sangat lelah ya, setelah seharian bekerja." Ansel terus memandangi Irene sambil tetap memikirkan apa yang membuat wanita itu menjadi sangat bersedih.


"Sepertinya aku harus menghubungi Owen untuk memastikan masalah ini." Ansel pun mulai bergerak mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas sofa.


Setelah meraih benda pipih itu, ia langsung mengutak-atik layar pada ponsel miliknya untuk mencari kontak Owen dan mulai menghubunginya.


Tak berapa lama kemudian, sambungan telepon mulai terhubung dan Ansel pun memulai percakapannya.


"Halo, Owen."


"Iya Tuan Ansel. Bagaimana kabar Anda di sana? Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Owen yang tak menduga akan dihubungi oleh Ansel.


"Jadi begini Owen, aku ingin menanyakan tentang masalah pendonor mataku. Apa kamu tahu siapa orang yang sudah mendonorkannya? Dan apa benar orang itu adalah seorang pria yang bernama Suga?"


Perkataan Ansel sontak membuat Owen terkesiap begitu kaget karena ternyata tuannya itu telah mengetahui semuanya tanpa harus ia beritahukan. Owen memang sudah mengantongi sejumlah informasi tentang pendonor kornea mata untuk Ansel dan lagi pria itu memiliki kedekatan dengan kakak dari si pendonor itu yang bernama Felisa.

__ADS_1


"Betul Tuan, pria itu bernama Suga dan beliau sudah meninggal karena menjadi korban penganiayaan oleh orang-orang yang saat ini masih dalam proses pencarian polisi."


"Apa Suga dianiaya? Siapa yang melakukan semua itu dan apa alasan mereka sampai menganiaya Suga?"


"Maaf Tuan, tapi untuk hal itu saya sendiri tidak mengetahuinya. Namun, jika Anda ingin saya menyelidikinya, maka saya akan mencari tahunya?" tanya Owen menawarkan dirinya, agar rasa penasaran Ansel dapat terjawab.


"Terima kasih Owen, tapi itu tidak perlu. Saat ini aku hanya ingin memastikan jika pendonor mataku itu adalah Suga."


Apa yang dikatakan oleh Ansel, sungguh membuat Owen tersentak kaget. Ia pun dapat mengambil kesimpulan sejak Ansel menyebutkan nama Suga dalam percakapan teleponnya, bahwa saat ini tuannya itu telah berhasil menemukan Irene di Birmingham.


"Selamat ya Tuan, Anda telah berhasil menemukan Nona Irene di sana. Oh ya, kapan Anda mau pulang dan membawa Nona Irene kembali ke Korea? Biar saya sampaikan kepada Tuan Darren karena saat ini beliau sudah mengetahui bahwa Anda sedang mencari Nona Irene di Birmingham."


"Baiklah Tuan. Nanti akan saya sampaikan kepada Tuan Darren. Sekali lagi saya ucapkan selamat ya Tuan, saya dapat mendengar dengan jelas bahwa saat ini Anda tampak begitu bahagia karena telah berhasil menemukan Nona Irene."


"Oh ya, satu lagi aku ingin memberitahumu, ternyata apa yang kau katakan waktu di bandara itu memang benar. Amma ternyata masih hidup dan tadi dia baru saja meneleponku!"


Perkataan Owen membuat pria itu terkejut dan bertanya-tanya akan maksud tujuan dari Bella menghubungi Ansel. Padahal di Korea sana, Owen baru saja menyelamatkan Dyra dari seorang pembunuh bayaran yang hampir saja mencelakai istri dari tuannya itu.


"Apa sebaiknya aku beritahukan hal ini kepada Tuan Ansel ya?" batin Owen yang terlihat sangat bimbang.

__ADS_1


"Halo Owen, halo." Ansel terus mengulangi panggilannya hingga Owen pun tersadar dari kebimbangannya dan mulai menanggapi panggilan tuannya.


"Iya Tuan Ansel, maaf ya tadi ada sedikit gangguan. Oh ya, apa ada lagi yang bisa saya bantu?"


"Tidak Owen, itu saja cukup. Nanti kalau ada sesuatu yang ingin aku tanyakan lagi, pasti aku akan menghubungimu."


"Baik Tuan, jaga diri Anda di sana ya."


"Ya sudah kalau begitu, Owen. Aku titip Ayah dan Amma Dyra di sana ya. Tolong jaga mereka untukku!"


"Pasti Tuan. Saya akan menjaga keduanya dengan segenap jiwa raga saya."


"Andai Tuan Ansel mengetahui bahwa Nyonya Bella memerintahkan seorang pembunuh bayaran untuk mencelakai Nyonya Dyra, pasti dia akan sangat marah dan kecewa. Sebaiknya aku tidak usah merusak kebahagiaannya saat ini bersama Nona Irene," batin Owen memutuskan untuk tak memberitahukan peristiwa yang baru saja terjadi beberapa jam yang lalu.


Selesai menghubungi Owen, kini Ansel kembali mendekati Irene dan langsung duduk di tepi ranjang, di mana tubuh Irene berada di dekatnya. Ansel pun mulai membelai surai hitam istrinya dengan penuh kelembutan sambil terus memandangi paras cantik Irene yang selama ini sangat dirindukannya.


"Perlahan tapi pasti, aku yakin bisa menghapus rasa trauma di dalam pikiranmu. Aku mencintaimu, Irene." Ansel membungkukkan tubuhnya lalu memberi sebuah kecupan dalam pada kening wanita berparas cantik itu.


...🌺🌺🌺...

__ADS_1


Bersambung✍️


__ADS_2