Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Sia-sia


__ADS_3

Selamat membaca!


Sebuah bar yang cukup elite, kini sudah berada dalam manik mata Irene, yang saat ini hanya terdiam di depan pintu bar. Irene mengesah kasar dan mulai masuk ke dalam bar. Ia langsung mengedarkan pandangannya melihat sekeliling dan mendapati sosok pria yang adalah asisten dari Mike pemilik bar ini, sedang berada di meja bar. Irene pun mendekatinya.


"Mr. Jack boleh saya bertemu dengan bos Mike?" tanya Irene dengan napas tersengal, karena efek berjalan kaki, sangat menguras tenaganya.


Jack menghentikan sejenak aktivitasnya, yang sedang mencatat sesuatu pada sebuah buku. Saat itu kondisi bar memang masih tutup, namun beberapa pekerja sudah terlihat mulai merapikan dan membersihkan bar. Pria itu pun menilik seorang wanita yang saat ini ada di hadapannya. Wanita yang terlihat kelelahan, namun paras cantiknya tetap tak asing, walau mungkin lebih pucat dari biasanya.


"Saya tanyakan dulu pada Mike, kamu tunggu di sini dulu!" jawab lelaki bertubuh kekar itu yang sangat minim ekspresi.


"Ok, terima kasih Mr. Jack."


Irene menunggu beberapa menit, sampai bosnya keluar dari ruang kerja untuk menemuinya.



Tak butuh waktu lama, Mike pun keluar bersama asistennya dari ruang kerja, keduanya melangkah menghampiri Irene, namun dengan raut wajah yang sudah tak bersahabat.


"Ada apa lagi, Irene? Kamu masih berani datang ke sini dan menemui saya?" tanya Mike dengan suara yang terdengar arogan.


"Bos, mulai hari ini saya ingin kembali bekerja ya. Kebetulan kondisi saya sudah lebih baik," jawab Irene sembari memilin jemarinya.


Mike mengerutkan keningnya dalam dengan kedua alis yang saling bertaut. Saat ini sorot matanya sudah semakin tajam, menatap ke arah Irene.

__ADS_1


"Enak saja, kamu keluar dan masuk ke bar ini semau hatimu! Memangnya kamu pikir tempat ini milik nenek moyangmu!"


Irene terhenyak dan langsung tertunduk lesu, semangatnya patah seketika mendengar ucapan bosnya. Namun ia tetap bersikekeh setelah pikirannya kembali mengingat tujuan awalnya, kenapa ia harus bekerja, adalah untuk dapat membayar kuliah dan demi anak di dalam kandungannya.


"Bos tolong berikan saya satu kesempatan lagi! Setelah ini saya akan berusaha masuk kerja semaksimal mungkin dan akan lebih rajin lagi," ucap Irene memasang tampang memelas.


Mike tak menghiraukan Irene, ia malah semakin tersulut amarahnya, seolah tak merasa iba sedikit pun, dengan wanita yang saat ini sudah memohon padanya.


"Selama ini saya sudah cukup sabar menghadapi tingkahmu yang selalu bolos kerja dengan alasan sakit, ada jadwal di kampus dan lain-lain! Tidak ada kesempatan lagi untukmu, Irene, karena sudah sejak lama kamu saya pecat dan bukan lagi karyawan di bar ini lagi!"


Raut wajah Irene semakin sendu, setelah perkataan kejam dari Mike terdengar begitu lantang, seperti menyayat perasaannya. Segala harapannya seketika sirna, ia semakin bingung dengan langkah ke depannya, karena memang jaman sekarang mencari pekerjaan itu sangatlah sulit. Dulu saja Irene terpaksa bekerja di bar ini, karena begitu sulitnya mendapatkan pekerjaan. Sampai akhirnya ia nekat untuk melamar pekerjaan di bar ini, walau mendapat pertentangan dari kedua orangtuanya. Namun saat itu keadaan sangatlah mendesak, karena ia harus membiayai kuliahnya yang sudah menunggak.


"Bos tolong jangan pecat saya seperti ini, saya sangat membutuhkan pekerjaan untuk membayar kuliah saya." Irene terus memohon sembari mengatupkan kedua tangannya di hadapan Mike.


Irene tak dapat memaksa dan memohon lagi, ketika Mike sudah mengatakan seperti itu. Hatinya sangat sakit, ketika orang yang menyuruhnya untuk ikut bersama Ansel pada malam itu malah memecatnya. Padahal saat itu, seandainya Irene tidak ikut dengan Ansel, mungkin hidupnya masih berjalan sedia kala, ia tak harus mendapat perlakuan kejam dari Ansel dan sampai akhirnya hamil.


"Baiklah kalau begitu, saya tidak akan mendatangi tempat ini lagi untuk bekerja, tapi saya minta uang gaji saya bulan kemarin."


Kedua mata elang Mike menatap tajam wajah Irene, lalu ia berdecih kesal. "Gajimu sudah saya potong untuk membayar denda kontrakmu, karena sama saja itu artinya kamu telah memutus kontrak yang sudah disepakati!"


Wajah Irene meringis begitu kecewa, namun kali ini ia tak bisa terima begitu saja, ketika hak yang seharusnya ia dapat, malah ditahan oleh Mike.


"Tidak bisa begitu dong, bos! Saya berhenti bekerja bukan saya mengundurkan diri dari bar ini, tapi karena saya dipecat! Itu artinya bukan saya yang memutus kontrak itu, melainkan bos, bahkan saat ini sudah mempekerjakan orang lain untuk menggantikan saya!"

__ADS_1


Irene coba menuntut haknya yang seharusnya ia dapatkan, atas hasil jerih payahnya bulan lalu, yang memang belum sempat diambilnya.


Mike menatap sinis dengan seringai licik di wajahnya. "Tidak perlu berdebat denganku, Irene. Saya malas meladeni orang miskin sepertimu! Pergi dengan kedua kakimu atau anak buahku yang akan menyeretmu keluar dari tempat ini?" ancam Mike dengan rahang yang mengeras.


Perkataan dari Mike, membuat Irene tak punya pilihan, selain menerima semua kenyataan ini walaupun pahit. Irene segera melangkah meninggalkan bar dengan seribu rasa kecewa, karena apa yang diharapkannya, gagal untuk ia dapatkan. Padahal selama sebulan kemarin Irene sudah bekerja dengan giat dan tanpa absen sekalipun, namun akhirnya ia tak menerima bayaran sedikit pun dari hasil keringatnya itu.


"Maafkan Mama ya Nak, kita harus kembali pulang dengan tangan hampa," batin Irene menahan perih dalam hatinya atas perlakuan Mike terhadapnya.


🌸🌸🌸


Berikan komentar kalian ya?


Terima kasih banyak.


Bersiap untuk boom up.


Semangat weekend semua.


Jika berkenan bisa follow IG : ekapradita_87


Like dan vote jangan lupa sahabat semua.


Mampir juga ke karyaku yang ini ya :

__ADS_1



__ADS_2