
Selamat membaca!
Irene mulai terjaga dari tidurnya, walau masih memejamkan kedua mata. Napasnya saat ini seperti terhimpit sesuatu yang sangat menyesakkan dadanya.
"Kenapa seperti ada yang menindih tubuhku?" gumam Irene penuh pertanyaan.
Irene pun mulai mengerjapkan kedua mata berkali-kali untuk menajamkan sorot matanya. Saat manik matanya mulai menangkap sebuah objek, yang saat ini sedang terlelap di sampingnya. Irene terkesiap sangat kaget, namun dengan cepat ia menahan dirinya, agar tidak menimbulkan suara yang akan membangunkan si pemilik tangan yang saat ini sedang memeluknya dengan erat, seolah tubuh Irene sebagai pengganti sebuah guling.
"Walau hanya saat tertidur kamu memelukku, tapi aku sudah merasa nyaman, bahkan sepertinya anak dalam kandunganku, juga ikut merasa bahagia," batin Irene mengulas senyum di wajahnya sambil menatap lekat wajah Ansel.
Irene tiada henti-hentinya tersenyum, ia sangat bahagia, karena pada akhirnya bisa tidur dalam satu ranjang yang sama dengan suaminya.
"Berarti Ansel yang membawa aku ke ranjang. Padahal terakhir yang aku ingat, semalam aku sedang duduk di depan pintu kamar. Bahkan saat ini tubuhku sudah diselimuti, apa Ansel yang melakukannya? Jika benar, apa mungkin Ansel sudah menganggapku sebagai istri dan telah mengakui anak yang aku kandung ini," batin Irene dengan pikirannya sendiri.
πππ
Di dalam kamar, Dyra masih merasa canggung, ketika Darren terus memaksanya, agar mau menurutinya untuk mandi bersama.
__ADS_1
"Hmm... Hmm.. Aku malu, Hubby!" ucap Dyra malu-malu, dengan wajah yang semakin merona merah.
Darren tersenyum tipis, lalu ia mencubit puncak hidung mancung Dyra dengan kedua jemarinya.
"Tidak perlu malu, sayang. Kita kan sudah menjadi suami-istri, bahkan aku sudah hafal setiap jengkal tubuhmu yang indah ini, begitu juga dengan kamu yang pasti sudah tahu seluruh tubuhku," ucap Darren sembari menggerayangi setiap inci tubuh istrinya.
Dyra mencoba menahan wajah Darren yang semakin bergerilya mengecap seluruh bagian lekuk tubuh Dyra, hingga membuat birahi dalam dirinya mulai merayap naik.
"Hubby! Berhenti membuatku geli. Oke, aku akan mandi bersamamu!" teriak Dyra begitu kegelian, karena bibir dan lidah suaminya semakin iseng membasahi setiap area tubuhnya yang sensitif.
Darren terkekeh puas sambil menghentikan apa yang telah dilakukannya. Ia mulai berdiri sambil meraih kedua tangan Dyra, untuk membantu istrinya itu, agar bangkit dari posisi tidurnya dan melangkah bersamanya menuju bathroom.
Dyra terkesiap kaget dan langsung melayangkan protes pada suaminya itu, yang saat ini sedang tersenyum puas, melihat tingkah Dyra yang sedang menutupi bukit kembar dan lembah surganya dengan kedua tangannya.
"Hubby, kamu ini apa-apaan sih? Kenapa menarik selimutku, ayo kembalikan sini!" pinta Dyra memaksa, yang sudah tercetak kerutan dalam pada keningnya.
Darren yang sudah berdiri di hadapan Dyra, membungkukkan tubuhnya, hingga wajah keduanya menjadi sangat dekat.
__ADS_1
"Sudah aku bilang, tidak perlu ada yang ditutupi lagi dariku, sayang!" bisik Darren dengan suara lembut, lalu jemarinya menyelipkan helaian rambut Dyra yang terurai di balik telinga wanita itu, hingga ia dapat melihat wajah cantik istrinya yang begitu sempurna.
Dyra menunduk malu, ia memilih diam daripada menjawab dan malah berbuntut panjang.
Darren semakin gemas melihat wajah Dyra yang semakin merona merah, ia segera menggendong tubuh istrinya dengan tiba-tiba dan membawanya masuk ke dalam bathroom. Darren tak lagi mendengar teriakan istrinya yang meminta diturunkan, karena ia hanya akan menurunkan Dyra di dalam bathroom.
Setibanya di dalam bathroom, Darren menutup pintu rapat-rapat dan tak lupa menguncinya, agar author juga para pembaca semua tak dapat mengintip apa saja yang mereka berdua lakukan di dalam sana.
πΈπΈπΈ
Bersambung βοΈ
Berikan komentar kalian ya?
Terima kasih banyak.
Jangan lupa vote dan like setiap episodenya ya.
__ADS_1
Mampir juga ke karyaku yang satu ini ya :