Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Amarah


__ADS_3

Selamat membaca!


Ketika pagi datang menyapa, cahaya mentari mulai menerpa wajah Ansel dari tirai jendela yang telah dibuka oleh suster. Pria itu pun seketika terbangun dari tidurnya.


Ansel terhenyak beberapa saat, ketika mendapati pandangan matanya masih terlihat gelap, walau ia sudah membuka mata. Kedua tangan Ansel meremas dengan kesal, selimut yang menutupi tubuhnya. Ia masih belum terbiasa dengan kebutaan yang saat ini sedang ia alami.


"Argh! Aku benci kegelapan ini. Aku ingin bisa melihat lagi," teriak Ansel melampiaskan segala amarah yang sudah merayap naik, memenuhi pikirannya.


Tiba-tiba saja kerongkongan Ansel terasa sangat kering dan gatal, hingga ia batuk. Ia mulai menggerakkan tangannya dengan meraba sisi ranjang, hingga bergeser secara perlahan menuju ke arah nakas. Ansel terus mencari keberadaan air, untuknya minum dan melepas rasa hausnya.


"Aduh, dimana sih manusia bodoh itu meletakkan air minum itu, harusnya kan di atas nakas, tapi ini tidak ada," gerutu Ansel dengan geram.


Sudah sekian lama Ansel meraba dan terus mencari, namun ia masih belum menemukan keberadaan gelas yang berisi air untuknya minum. Saat ini tenggorokannya sudah semakin terasa gatal, hingga membuat amarahnya kian meluap dari sebelumnya.


"Irene... Irene... Kau di mana sih? Cepat ambilkan aku minum!" titah Ansel dengan nada suara yang meninggi dan terdengar lantang.


Hingga detik ini, wanita berparas cantik dengan tubuh yang ramping itu, masih lelap tertidur di atas sofa. Suara teriakan Ansel yang begitu keras, sama sekali tak membuatnya terbangun dari tidur. Namun, bila ditelusuri apa yang telah dilalui oleh Irene dari kemarin, memang bisa dipastikan jika wanita itu benar-benar sangat lelah.

__ADS_1


"Sialan kau, Irene. Sekarang pasti kau sedang mengerjaiku, mentang-mentang aku tidak bisa melihat?" tuduh Ansel tanpa alasan yang jelas.


Ansel mencoba turun dari ranjang, ia tak mempedulikan kondisinya, yang sebetulnya masih belum dapat melangkah sendiri, tanpa bantuan kursi roda. Pria itu pun tetap memaksakan diri, tubuhnya mulai beringsut dan kini sudah duduk di tepi ranjang.


"Apa aku bisa? Sedangkan kemarin untuk ke bathroom saja aku harus menggunakan kursi roda," gumam Ansel penuh keraguan.


Setelah terdiam cukup lama. Ansel mulai menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang. Namun baru saja, Ansel menapaki dasar lantai, tiba-tiba ia hilang keseimbangan, hingga tubuhnya terjatuh ke dasar lantai.


"Auch..." umpat Ansel karena merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat terjatuh.


Sepertinya batin Irene tersentak mendengar suara Ansel yang sedang kesakitan. Wanita itu seketika langsung bangkit, tanpa bermanja-manja dulu dengan lelap yang masih membalut kedua matanya. Irene pun duduk di atas sofa dan manik matanya langsung tertuju pada sosok laki-laki yang saat ini sedang terkapar di dasar lantai. Irene terhenyak begitu kaget dengan kedua mata yang telah membulat sempurna.


Namun, saat Irene menyentuh lengan Ansel untuk membantunya bangkit, tiba-tiba saja Ansel mendorong tubuh wanita itu dengan sekuat tenaga, hingga tubuh Irene terjatuh, bahkan sampai membentur sebuah nakas yang memang ada di belakangnya.


"Jangan-jangan benar kau hanya bersandiwara, dasar sialan! Kau ini sengaja tak menjawab panggilanku dan pasti sekarang kau bahagia melihatku terjatuh seperti ini!"


"Ya ampun, Ansel. Kenapa sih kamu selalu menuduhku yang tidak-tidak. Aku baru saja bangun, bukan sengaja mendiamkanmu."

__ADS_1


Ansel menampiknya dengan kedua alis yang saling bertaut. "Kenapa kau bangun lama sekali? Kau pasti memang sengaja kan, karena ingin balas dendam!"


Irene yang masih berada di dasar lantai, kini tak habis pikir dengan segala tuduhan yang Ansel lontarkan padanya. Raut wajahnya pun mengeras, ia tampak tak terima diperlakukan seperti ini oleh Ansel. Kejam dan semakin tak berperasaan.


Irene memipihkan sorot matanya, dengan tatapan tajam memandang ke arah Ansel. "Ansel berhenti menuduhku! Aku mengaku salah karena tak seharusnya aku baru bangun, padahal kamu sedang membutuhkanku. Namun aku memang baru bangun dan bukan kesengajaanku, karena semua ini murni karena aku kelelahan, maka itu aku tetap tidur, walau kamu berulang kali memanggilku."


Ansel berpikir sejenak. Tiba-tiba terlintas semua sikap Irene di dalam pikiran, yang membuat Ansel merenung beberapa saat.


"Kalau aku ingat-ingat memang Irene pasti tidak akan melakukan itu. Selama ini dia tidak pernah berbuat jahat padaku, jadi tidak ada salahnya aku mempercayainya," batin Ansel memutuskan.


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️


Berikan komentar kalian ya?


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Mampir juga ke karyaku yang satu ini ya :



__ADS_2