
Selamat membaca!
Irene masih diam seribu bahasa dan hanya menatap dalam sorot mata suaminya hingga membuat memorinya bersama Suga seketika mulai hadir di dalam pikirannya.
Di sebuah restoran mewah dengan dekorasi yang terlihat elegan saat itu Irene sedang berada di salah satu meja yang ada di sana. Kedatangannya tidaklah sendiri, tapi bersama dengan Suga, pria yang selama dua tahun ini menjadi kekasih hatinya.
Kala itu Irene mengenakan dress berwarna merah yang membuatnya tampak sangat cantik dan feminim, sedangkan Suga terlihat tampan dengan stelan jas yang ia kenakan.
"Gimana menurut kamu restoran ini? Apakah indah?" tanya Suga kepada Irene yang berharap jika kekasihnya menyukai apa yang telah disiapkan olehnya.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Suga, Irene sempat mengedarkan pandangan matanya untuk lebih menilai restoran yang saat ini menjadi tempat dinner-nya bersama Suga. Dinner romantis yang memang direncanakan dengan sangat sempurna pria itu, sebagai perayaan anniversary kedua tahun hubungan mereka.
"Ini sudah sangat indah, sayang. Terima kasih karena ini adalah momen pertama kalinya kamu mengajak aku ke sini. Saat ini aku sangat bahagia," jawab Irene dengan senyuman yang mulai mengembang dari kedua sudut bibir merahnya.
"Sama-sama sayang, tapi aku memang sengaja menyiapkan semua ini karena ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," ucap Suga sambil meraih tangan Irene dan menggenggamnya dengan erat.
Tak lama kemudian, dua orang pemain biola yang sudah Suga persiapkan sebelumnya, mulai datang menghampiri meja mereka.
"Selamat malam, Nona. Selamat malam, Tuan," ucap salah satu pemain biola yang sudah bersiap memainkan alunan nada yang indah, lewat biola yang saat ini ada dalam genggamannya.
Suara biola pun mulai terdengar indah di telinga Irene. Membuat suasana kala itu menjadi terasa semakin romantis. Tak ada pengunjung lain, hanya mereka berdua yang berada di sana karena memang restoran itu sengaja disewa oleh Suga agar privasinya bersama Irene dapat terus terjaga sepanjang malam.
"Memangnya apa yang ingin kamu katakan, sampai kamu harus menyiapkan dinner yang begitu romantis saat ini?" tanya Irene yang mulai menikmati dawai dari suara biola yang dimainkan oleh kedua orang itu.
__ADS_1
"Iya sayang, aku ingin meresmikan hubungan kita, agar melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi."
Perkataan Suga membuat hati Irene saat ini semakin berbunga-bunga. Bahkan wajahnya terlihat semringah dengan senyum manis yang terbentuk dari lengkungan kedua sudut bibirnya.
Suga langsung mengeluarkan sebuah kotak yang sama dengan kotak yang diberikan Ansel kepadanya. Bahkan yang membuat Irene tercengang lagi adalah kalung perhiasan itu sama persisnya dengan kalung yang sudah ia kembalikan kepada Suga saat dirinya berpisah karena kehamilannya.
Ketika memori itu terus berputar-putar di dalam pikirannya. Tiba-tiba Ansel mendaratkan sebuah ciuman tepat mengenai bibir merah Irene. Ciuman yang membuat lamunan wanita itu buyar seketika hingga ia pun beringsut mundur satu langkah menjauhi Ansel.
"Maafkan aku Ansel. Aku belum siap melakukan semua itu."
Raut bahagia yang sedari tadi menghiasi wajah Ansel, seketika sirna karena penolakan Irene membuatnya sangat kecewa. Pria itu pun tersenyum tipis, walau terkesan dipaksakannya.
"Iya tidak apa-apa Irene. Aku paham, tapi apa boleh aku pakaikan kalung ini?" tanya Ansel sambil menunjukan sebuah kotak yang sudah kembali ditutup olehnya.
Irene pun tersenyum disertai dengan anggukan kepala sebagai tanda, bahwa dirinya mengizinkan suaminya untuk memakaikan kalung perhiasan yang dihadiahi kepadanya. Namun, walau begitu Irene masih memendam sebuah pertanyaan di dalam pikirannya. Pertanyaan tentang, bagaimana mungkin kalung perhiasaan itu bisa sama dengan yang pernah diberikan oleh Suga.
"Terima kasih ya, tapi apa boleh aku tanyakan sesuatu padamu?" tanya Irene yang sebenarnya ragu karena takut pertanyaannya malah akan merusak momen yang sedang terjadi saat ini.
"Tanya apa Irene? Tanyakan saja! Aku pasti akan menjawabnya."
"Tapi aku takut ...." Raut wajah Irene tampak tegang karena ia merasa cemas, bila pertanyaannya nanti akan membuat Ansel marah kepadanya.
"Tidak usah takut. Tanyakanlah, sayang!" Ansel memperhalus ucapannya agar Irene tak lagi takut padanya.
Irene pun menghela napasnya dengan kasar dan mulai memegangi kalung yang saat ini sudah dikenakannya. "Kenapa kalung ini sama persis dengan kalung yang pernah diberikan oleh seseorang padaku dulu? Apa kamu mengenal pria yang bernama Suga?"
__ADS_1
"Suga siapa? Maksudmu kalung itu?" tanya Ansel teringat bayangan yang hadir di dalam pikirannya, sesaat sebelum ia memutuskan untuk memilih kalung perhiasan itu.
"Iya Ansel. Kalung ini benar-benar sama persis dengan yang aku terima dulu dari Suga?"
"Aku hanya memilihnya karena kalung itu ada di dalam pikiranku. Aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi sejak aku bisa melihat kembali, bayangan tentang kamu sering hadir di dalam pikiranku, Irene."
Perkataan Ansel membuat jantung Irene seakan berhenti berdetak, sekujur tubuhnya langsung melemah hingga ia perlu menyandarkan dirinya sebelum terjatuh ke lantai. Namun, dengan sigap Ansel memegangi tubuh Irene dan menuntunnya menuju sofa.
"Irene, kamu kenapa?" tanya pria itu yang tampak cemas karena melihat istrinya begitu syok mendengar penjelasannya.
Setelah berhasil menuntun Irene hingga duduk di sofa, pria itu kembali menatap dalam wajah sang istri dengan penuh selidik. Raut Irene kala itu terlihat masih sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakannya.
"Ansel, apakah kamu tahu, siapa pendonor matamu?" tanya Irene yang masih kesulitan mengatur napasnya karena tak menyangka dengan cerita yang baru saja didengarnya.
Ansel tampak berpikir sejenak sebelum menjawabnya. Namun, ia sendiri pun tak mengetahui siapa pendonor itu karena baik Darren ataupun Owen, tidak memberitahukan padanya akan jati diri sang pendonor kornea untuk matanya.
"Aku tidak tahu Irene, tapi jika kamu ingin aku menanyakan hal ini pada Owen, aku akan tanyakan saat ini juga."
Ansel yang mulai merasa aneh dengan sikap Irene, balik mengajukan pertanyaan hingga membuat pria itu tak menyangka karena seolah cerita yang dikatakan oleh Irene adalah sebuah pembenaran untuk semua pertanyaannya, atas segala hal yang sering bermuncul di dalam pikirannya.
"Jangan-jangan pendonor itu memang Suga, Irene. Makanya, aku selalu melihat beberapa bayangan tentang kamu di dalam pikiranku. Entah itu saat kamu di bioskop, di taman atau bayangan kalung itu."
"Berarti Suga sudah meninggal ...." Air mata Irene langsung menetes tiada henti hingga membasahi kedua pipinya. Kesedihan yang membuat Ansel semakin dibuat kebingungan. Namun tanpa banyak bertanya, pria itu pun langsung merengkuh tubuh Irene untuk memeluknya dan menjadi sandaran saat tangisannya terdengar begitu memilukan.
"Ya Tuhan, kenapa Suga bisa meninggal? Apa ini semua karena kehamilanku?" batin Irene begitu sedih dengan kenyataan yang mungkin saja benar adanya, walau memang belum sepenuhnya terbukti.
__ADS_1
...🌺🌺🌺...
Bersambung✍️