
Selamat membaca!
Di dalam kamar, Darren terlihat sedang memeluk tubuh istrinya dengan erat, sembari mengusap lembut pucuk rambutnya.
"Sayang, terima kasih ya, karena kamu selalu menuruti semua keinginanku."
"Iya Hubby, sudah tugasku sebagai istri, jadi kamu tidak perlu berterima kasih."
"Aku memang tidak salah mencintaimu." Darren mengecup kening Dyra dengan penuh cinta.
Tak lama kemudian ponselnya berbunyi keras, hingga membuat keduanya seketika menoleh ke arah nakas tempat dimana ponsel itu berada.
"Siapa yang menghubungi malam-malam begini?" Darren mengerutkan keningnya dalam. Ia perlahan bangkit dari posisi tidurnya dan duduk di tepi ranjang. Darren langsung menyambar ponsel di atas nakas lalu mulai menatap layar ponsel itu.
"Ini dari rumah sakit."
Dyra yang mendengarnya langsung ikut bangkit dengan duduk di samping Darren. Sorot matanya begitu antusias, karena ia mulai menebak adanya kabar baik yang akan disampaikan oleh pihak rumah sakit.
"Iya halo, ada apa?" tanya Darren yang sudah dipenuhi rasa penasaran di dalam pikirannya.
Darren terdiam mendengar semua hal yang disampaikan oleh pihak rumah sakit.
__ADS_1
"Berarti suami dari wanita itu telah meninggal dunia. Aku turut berduka cita dengan semua itu, tapi kabar ini menjadi baik untukku karena akhirnya Ansel akan kembali dapat melihat lagi," batin Darren yang mulai menerbitkan sebuah senyum dari sudut bibirnya.
Setelah sambungan telepon terputus, ia langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat, untuk menghamburkan kebahagiaan atas apa yang telah didengarnya.
"Akhirnya Ansel akan kembali dapat melihat lagi," ucap Darren begitu bahagia.
"Iya Hubby, kita harus kabari Ansel dan Irene, mereka pasti akan sangat bahagia mendengar kabar ini."
"Pasti sayang, besok operasinya akan dilaksanakan pukul 10.00, tapi kita kan besok akan menjemput Ansel. Jadi sebaiknya kita memberitahukan pada mereka besok pagi saja, agar jadi kejutan untuk mereka."
Dyra pun sependapat dengan keputusan Darren. Ia kemudian kembali mengajak suaminya untuk merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang.
"Aku sudah sehat sayang, aku kasihan dengan adik juniormu itu, sudah 7 hari dia tidak aku belai dengan kasih sayang. Sekarang sudah waktunya aku memuaskannya."
Darren pun menuruti permintaan istrinya yang saat ini menatapnya dengan sorot mata tajam, seolah Darren adalah mangsa untuknya yang siap ia terkam.
"Biar aku yang bermain di atasmu ya Hubby?" tanya Dyra yang sudah memposisikan dirinya duduk di atas paha Darren.
Dyra mulai membuka piyama yang Darren kenakan. Hingga membuat dada bidang Darren yang ditumbuhi dengan bulu-bulu tipis terlihat sangat jelas. Setelah itu Dyra pun melepas piyama yang ia kenakan, hingga membuat bukit kembarnya terlihat sangat sintal dan seksi di mata Darren yang sudah berpuasa selama 7 hari ini.
"Terima kasih karena selama 7 hari ini, kamu selalu merawatku, bahkan kamu sampai tidak bekerja demi menjagaku. Walaupun ada Erin tapi kamu malah ingin merawatku sendiri. Aku sungguh sangat bahagia memiliki suami sepertimu, Hubby," ucap Dyra yang sudah berhasil melepas seluruh pakaiannya dengan Darren, hingga membuat tubuh keduanya kini benar-benar tanpa sehelai pakaian pun.
__ADS_1
Dyra mulai mengangkat pangkal pahanya untuk memberikan ruang pada adik junior milik Darren, masuk ke bibir bawah yang selama 7 hari ini tak pernah didatanginya.
"Sayang, kalau kamu masih belum sehat, aku tidak masalah bila menunggu sampai dua atau tiga hari lagi. Aku tidak ingin memaksakan kondisimu, kalau kamu ternyata belum sembuh total," ucap Darren berusaha menghalangi apa yang akan Dyra lakukan, ia sebenarnya sangat rindu dengan olahraga malam yang hampir setiap malam mereka lakukan sejak menikah, malah sehari kadang mereka lakukan itu tak cuma satu kali, tapi berkali-kali.
"Aku sudah sehat Hubby. Percayalah padaku," ucap Dyra dengan senyum manis di wajahnya.
Wanita itu kini mulai menggerakkan secara perlahan ke arah atas lalu ke bawah berulang kali, hingga membuat ritme gerakan yang dilakukannya semakin cepat. Dyra kini mulai mengerang dan mendesah, wajah yang sudah memerah menjadi cermin bahwa saat ini Dyra hampir menuju ke puncak kenikmatannya.
Darren yang semakin menikmati permainan Dyra, terus menatap wajah istrinya itu dengan penuh kebahagiaan. Ia benar-benar bersyukur karena takdir akhirnya membawa mereka sampai di satu titik, dimana keduanya bisa bersama menjadi sepasang suami-istri dalam ikatan cinta.
"Terima kasih Tuhan, anugerah-MU ini akan selalu aku jaga sampai akhir hayatku," batin Darren yang mulai berkeringat karena tiba-tiba udara di dalam kamar terasa semakin panas dan penuh dengan suara desahan dari Dyra.
Bersambung✍️
Berikan komentar kalian ya?
Terima kasih banyak.
Mampir ya ke karya baruku :
__ADS_1