Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
S2 : Menghilang


__ADS_3

Selamat membaca!



Selesai mendatangi acara pernikahan Nisa, kini Ansel dan Irene sudah berada di Birmingham Airport. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untuk keduanya karena bisa kembali ke negaranya untuk berkumpul dengan keluarga tercinta, terutama dengan Dyra dan juga Darren.


"Akhirnya aku bisa pulang kembali ke Korea dengan membawamu." Ansel terus melangkah bersama Irene dengan melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya.


Wanita itu pun langsung menatap wajah Ansel dengan mengulas senyum di paras cantiknya. "Aku juga sangat bahagia,.sayang! Walau sebelumnya aku tidak pernah membayangkan jika kamu bisa berubah menjadi suami yang begitu sempurna seperti saat ini."


Raut wajah Ansel menjadi semringah saat mendapatkan pujian dari sang istri. Namun, setelah itu raut wajahnya kembali menampilkan keseriusan dengan menatap dalam kedua manik mata Irene.


"Kamu itu terlalu berlebihan, sayang. Aku hanya mencoba untuk membuat istriku bahagia dan tidak pernah mengharapkan sebuah pujian. Lagi pula aku sadar, sejak menikah aku selalu melukai hatimu dengan segala ucapanku. Belum lagi segala sikapku yang tidak sepantasnya aku lakukan, semua itu menjadi penyesalan yang begitu dalam untukku. Sekali lagi aku minta maaf sama kamu ya. Aku janji tidak akan pernah menyakitimu lagi." Kedua mata Ansel tampak berkaca-kaca setelah mengungkapkan semua isi hatinya kepada sang istri yang langsung menangkup kedua sisi wajah pria itu.


"Lupakan masa lalu, sayang! Berjanjilah padaku! Setelah tiba di Korea, kamu tidak akan membahas dan mengingat semua ini lagi. Jadikan itu sebagai pelajaran agar kita tidak jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Aku sangat percaya, kamu bisa menjadi sosok Ayah yang baik untuk anak kita ini." Irene mengusap perutnya dengan mengulas senyum di paras cantiknya.


Saat ini, keduanya sudah berhadapan dan saling menatap dalam, di tengah keramaian bandara yang penuh dengan lalu lalang pengunjung hingga suara dering ponsel membuyarkan suasana romantis yang saat itu tercipta di antara keduanya.

__ADS_1


"Siapa ya yang menghubungiku?" tanya Ansel sembari mengambil ponselnya yang berdering dari saku celana.


Setelah benda pipih itu sudah berada dalam genggaman tangannya, kedua matanya mulai menatap layar ponsel dengan penuh selidik.


"Ayah." Ansel tersenyum lepas saat panggilan telepon itu berasal dari Darren.


Tanpa menunggu lama, pria itu pun langsung menjawab sambungan telepon yang saat ini masuk.


"Halo Ayah." Ansel memulai percakapannya, setelah satu bulan lamanya tak berkomunikasi dengan sang ayah.


"Ansel, kapan kamu pulang?" tanya Darren yang memang sangat merindukan putranya.


"Kamu harus sabar ya Ansel. Ayah yakin, Irene hanya butuh waktu saja. Pokoknya setelah kamu sampai rumah, nanti kita pikirkan semua ini sama-sama ya." Perkataan Darren membuat Ansel semakin bangga terhadap sosok ayahnya yang selalu membantunya di setiap kali dirinya dalam kesulitan.


Sementara itu Irene yang memang dekat dengan Ansel dan mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, seketika langsung mencubit bagian perut pria itu, hingga Ansel pun mengaduh kesakitan. Namun, sebelum suaranya yang mengaduh terdengar oleh Darren, ia pun dengan cepat menjauhkan ponselnya dan menutupnya dengan telapak tangan.


"Kamu kok jail banget sih Ansel, kenapa kamu harus bohong sama Ayah?" tanya Irene dengan mengerucut bibir merahnya.

__ADS_1


"Maaf ya sayang, aku itu cuma mau memberikan sedikit kejutan pada Ayah dan Amma saat kita sampai di Korea. Pokoknya kamu diam dulu ya!" titah Ansel yang langsung menjaga jaraknya dengan membelakangi tubuh istrinya.


"Halo Ayah, maaf ya tadi aku sedang bicara dengan petugas bandara dulu. Oh ya, Ayah aku akan tiba di Korea sekitar 19 jam lagi. Apa bisa Ayah menjemputku?" tanya pria itu yang sangat ingin kepulangannya disambut oleh Darren dan juga Dyra.


"Baiklah, Ayah pasti akan jemput kamu di bandara."


"Ya sudah kalau begitu, aku mau boarding dulu ya Ayah." Ansel pun mengakhiri sambungan teleponnya dan memasukkan benda pipih miliknya ke dalam saku celana. Setelah itu, ia memutar kembali tubuhnya untuk menghampiri Irene yang berada di belakangnya. Namun, saat pandangan matanya sudah tertuju melihat ke arah tempat Irene berada, Ansel tak menemukan keberadaan wanita itu di tempatnya semula.


"Irene ke mana ya?" tanya Ansel mulai mengedarkan pandangan matanya untuk melihat sekelilingnya.


Setelah tak berhasil menemukan sosok istrinya di sekitar tempatnya berada, Ansel pun mulai terlihat panik dengan raut wajahnya yang tegang. "Ya Tuhan, baru aku berpaling dari Irene karena menelepon Ayah, tapi Irene sudah tidak ada. Kemana ya Irene? Aku mohon Tuhan, jangan buat aku dan istriku terpisah lagi." Ansel mengusap wajahnya dengan kasar karena merasa frustasi dengan situasi yang saat ini kembali terjadi padanya. Situasi yang membuatnya teringat saat-saat dirinya mencari keberadaan Irene di kota Birmingham.


Tak kehilangan cara, kini Ansel mulai menanyakan kepada pengunjung yang lalu lalang sambil menunjukan foto istrinya dari ponsel yang telah digenggamnya.


"Aku yakin, Irene tidak pergi jauh, tapi ke mana ya?" tanyanya dalam hati yang saat ini sudah mulai resah karena begitu takutnya kehilangan Irene.


...🌺🌺🌺...

__ADS_1


Bersambung✍️


__ADS_2