Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Gwacheon


__ADS_3

Selamat membaca!


Kini Ansel sedang menunggu dengan santai di depan ruang IGD. Ia tak menunjukkan rasa penyesalan sama sekali, padahal apa yang telah dilakukannya sampai membuat Irene harus mengalami kontraksi yang menyakitkan.


Tak berapa lama seorang dokter keluar dan langsung menghampiri Ansel yang masih duduk, seolah tak melihat kedatangannya.


"Tuan, apakah Anda yang bertanggung jawab terhadap pasien?" tanya dokter dengan kedua alisnya yang saling bertaut.


Akhirnya Ansel bangkit dan menatap wajah Dokter tersebut lalu memberikan jawaban singkat dengan nada malas.


"Iya saya suaminya."


Dokter itu sejenak diam, seolah berpikir.


"Begini Tuan, pasien hampir saja mengalami keguguran, tapi syukurnya bayi di dalam kandungan istri Tuan, masih bisa diselamatkan. Saya sarankan lebih diperhatikan lagi kondisi istri Anda, Tuan, apalagi saat ini kandungannya baru memasuki trisemester pertama dan periode sekarang ini sangatlah rentan terjadi keguguran."


Ansel mengerutkan keningnya dalam. Ia tak menjawab sepatah kata apapun atas apa yang telah disampaikan oleh sang dokter. Ansel kembali duduk sambil memalingkan wajahnya, hingga membuat dokter itu berlalu sambil menggelengkan kepalanya, seolah tak percaya dengan sikap Ansel sebagai seorang suami, yang sangat tidak peduli dengan kondisi istri dan anaknya saat ini.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Selama bekerja Darren sangat tidak fokus, karena pikirannya selalu tertuju pada sosok Dyra yang selalu bertahta dalam dirinya. Kini saat semua urusan pekerjaannya selesai, Darren bersiap untuk kembali pulang ke rumah. Di lobi kantor, Darren mempercepat langkah kakinya dan langsung masuk ke dalam mobil yang memang sudah terparkir di pelataran kantor.

__ADS_1


"Ayo cepat Owen, aku ingin segera sampai ke rumah."


"Baik Tuan, tapi sebelumnya ada perintah dari Nyonya, kita harus ke Gwacheon National Science Museum."


Darren mengerutkan keningnya dalam, penuh tanda tanya. "Memang ada apa istriku menyuruh kita ke sana?" tanya Darren yang kini sudah dibalut rasa penasarannya.


"Maaf Tuan, saya tidak diberitahu. Nyonya Dyra hanya mengatakan seperti itu."


"Baiklah, ayo segera kita ke sana!"


Darren mengusap dagunya dan berpikir dengan keras akan maksud tujuan Dyra, yang memintanya datang ke sebuah planaterium.


Hanya butuh waktu 30 menit, kini mobil yang dikendarai oleh Owen tiba di Gwacheon National Science Museum, sebuah museum sains terbesar di kota Gwacheon. Darren pun turun dan mulai mengingat sesuatu atas apa yang pernah dilewatinya dulu, sewaktu ia mencintai Dyra secara diam-diam.


Tepatnya dua Minggu sejak pertemuan pertama Darren dengan Dyra. Waktu itu kebetulan Darren sedang berada di tempat ini untuk menandatangani surat perjanjian investasi untuk museum sains ini.


Namun saat itu tanpa di sangka-sangka, Dyra juga berada di sana.


"Dyra, ternyata dia juga di sini," gumam Darren yang seketika kilau matanya tampak bercahaya, karena bahagia dapat bertemu dengan Dyra, wanita yang sejak pertemuan pertama sudah berhasil mencuri hatinya.


Saat itu di tengah keramaian, pandangan Darren tak teralihkan, masih terus menatap fokus ke arah Dyra yang sedang asyik bersama teman-temannya, memilih gantungan-gantungan yang tampak lucu dengan berbagai macam model.

__ADS_1


"Apakah aku tidak bisa membelinya satu?"


"Maaf Nona, jika kau ingin membelinya, maka harus dua-duanya, Nona."


Dyra pun mengurungkan niatnya, karena saat itu ia masih belum memiliki tambatan hati. Hatinya saat itu masih dalam proses mengobati rasa sakit atas hubungannya, yang baru saja kandas dengan seorang pria yang berprofesi sama dengannya, yaitu sebagai dosen.


Ketika Dyra dan teman-temannya berlalu. Darren yang memang sudah mengamati sejak lama, langsung mengambil gantungan yang diinginkan oleh Dyra.


Saat itu, Darren menyimpan satu buah gantungan dan satunya lagi ia bungkus dengan kado untuk diberikan kepada Dyra. Namun Darren yang tak berani memberikan secara langsung, menitipkannya kepada petugas gedung dengan sepucuk surat yang terselip di sana.


Tiba-tiba Owen menyadarkan lamunan Darren, setelah panggilannya mampu membuyarkan segala pikiran Darren kala itu, yang sedang tertuju sepenuhnya kepada Dyra.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambungโœ๏ธ


Berikan komentar kalian.


Terima kasih banyak.


Mampir juga ke karyaku yang lain ya :

__ADS_1



__ADS_2