
Selamat membaca!
Owen sudah berada di rumah kediaman Ansel. Hari ini ia akan menemani pria itu untuk mencari keberadaan istrinya yang telah pergi dari rumah. Namun, sampai hari ke tujuh ini mereka belum mendapat petunjuk sedikit pun tentang kemana Irene pergi.
"Hari ini kita harus mencari kemana lagi Owen?" tanya Ansel dengan raut wajahnya yang semakin tak bersemangat, dari hari ke hari.
"Hari ini kita akan datang ke bandara dan stasiun untuk memeriksa setiap CCTV yang ada di sana. CCTV pada tanggal kepergian Nona Irene, semoga saja pencarian ini menemukan titik terang," ucap Owen yang sudah membukakan pintu mobil untuk Ansel masuk. Saat ini kondisi Ansel sudah jauh lebih baik, selain sudah kembali dapat melihat, kini kedua kakinya juga tampak normal dan tak lagi terlihat pincang. Namun, ada sesuatu yang akhir-akhir ini sering menimpanya, terlebih saat ia menutup kedua matanya. Ia seperti melihat wajah Irene, entah itu saat berada di kampus, cafe, tempat bioskop, taman bunga, bahkan tempat-tempat dimana sering terjadi keramaian seperti festival, karnaval atau sebuah konser musik.
Bahkan yang lebih membingungkan lagi adalah semua hal itu belum pernah Ansel lihat sebelumnya, jadi bagaimana mungkin bayangan itu selalu hadir di saat ia menutup kedua matanya.
Saat ini Ansel sudah duduk di kursi belakang kemudinya dan tak butuh waktu lama, mobil pun melaju meninggalkan pelataran rumah kediaman Ansel.
Sebenarnya Ansel ingin sekali menceritakan keanehan yang telah dilaluinya, semenjak dirinya sudah kembali dapat melihat, tapi ia menyadari bahwa saat ini dirinya sudah banyak menyusahkan Owen, maka itu Ansel mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk memendamnya sendiri.
"Semoga hari ini kita dapat menemukan Irene ya Owen, sebelum Ayah mengetahui rahasia yang sudah kita tutupi selama ini," ucap Ansel penuh harap.
"Semoga saja Tuan, tapi saya punya firasat hari ini kita akan mendapatkan petunjuk tentang keberadaan Nona Irene," Owen menajamkan sorot matanya, entah kenapa dirinya begitu yakin, tapi itulah insting dari seorang Owen yang bagi Ansel maupun Darren yang telah lama mengenalnya, memang memiliki insting yang kuat dan tak jarang apa yang ia katakan selalu terbukti kebenarannya.
__ADS_1
Mobil pun melaju dengan kecepatan yang sedang, membelah lalu lintas kota Seoul yang saat itu tampak renggang dari biasanya.
πππ
Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Darren yang sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, ia mulai melangkah ditemani oleh Dyra yang mengekor di belakang tubuhnya. Kali ini Darren ditemani dengan sopir setianya yang sudah kembali bekerja.
Darren sejenak menghentikan langkah kakinya di depan halaman rumah, ia kini sudah berada di hadapan Dyra yang dengan setia menemani langkah suaminya yang hendak berangkat ke kantor.
"Sayang, aku pergi ke kantor dulu ya. Nanti selesai meeting dengan Ryan aku akan pulang secepatnya. Sebenarnya aku malas kemana-mana hari ini, aku ingin menghabiskan waktu dengan menciumi perutmu untuk menyapa calon bayi kita, tapi Ryan sudah jauh-jauh datang dari Birmingham untuk proyek kerjasama ini, maka itu aku tidak enak bila harus membatalkannya."
Darren terkekeh lucu, ketika ucapan Dyra seolah menggelitik rongga telinganya. Namun, ia tak bisa menutupi hatinya yang kini membuncah bahagia, atas apa yang telah didengarnya.
"Apa itu artinya kamu takut kehilangan aku, sayang?" tanya Darren sambil mengangkat kedua alisnya dan senyum manis di wajah tampannya.
Dyra mengalungkan kedua tangannya, hal yang memang sering dilakukannya kepada suaminya itu. "Sekarang bukan hanya aku yang takut kehilanganmu, tapi juga calon bayi kita, Hubby," ucap Dyra yang hanya berjarak satu centimeter dengan wajah Darren.
"Kita akan selalu bersama ya sayang. Kamu tak perlu mencemaskan itu, karena tidak akan ada yang dapat memisahkan kita kecuali takdir dari sang Pencipta."
__ADS_1
Keduanya saling melempar senyuman, hingga sebuah ciuman mesra berlabuh di bibir merah Dyra. Setelah beberapa detik saling memagut tanpa menghiraukan Willy sang sopir, yang saat ini sedang mematung diam menyaksikan keromantisan yang sedang terjadi di antara kedua majikannya itu, kini dua insan yang saat ini sedang berbahagia itu saling menatap dalam penuh arti.
"Aku mencintaimu sayang."
"Aku pun sama, Hubby. Aku sangat mencintaimu."
πΈπΈπΈ
Bersambung βοΈ
π’ Cerita Ryan ada dalam novelku yang berjudul Sekretarisku Canduku ya.
βΆοΈ Berikan komentar kalian ya.
Terima kasih atas dukungan kalian.
__ADS_1