
Selamat membaca!
Saat suasana di dalam kamar terasa hening, tiba-tiba Ansel mulai mengigau dengan memanggil ibunya berulang kali. Bahkan saat ini raut wajahnya tampak tegang dengan keringat yang mulai membasahi seluruh wajahnya.
"Amma, Amma ...." Suara Ansel yang semakin keras membuat Irene mulai terjaga dari tidurnya. Ia beberapa kali terlihat mengerjapkan kedua matanya untuk mengetahui apa yang sedang dialami oleh suaminya saat ini.
Irene pun bangkit dari posisi tidurnya dengan rasa penasaran karena Ansel tak henti-hentinya memanggil nama ibunya.
"Apa Ansel mimpi Amma Bella?" tanya Irene dalam hatinya yang masih berusaha membuka lebar kedua matanya yang terasa berat karena baru saja terbangun.
__ADS_1
Saat rasa penasaran semakin memenuhi pikirannya. Tiba-tiba Ansel bangkit dan terduduk sambil memanggil ibunya dengan napasnya yang terengah-engah.
Irene pun terkesiap dan langsung merapatkan tubuhnya ke arah Ansel yang saat ini masih sibuk mengatur napasnya. "Kamu kenapa sayang? Apa kamu mimpi buruk tentang Amma?" tanya Irene sambil mengusap rahang wajah suaminya, yang kala itu terlihat basah oleh cucuran keringat.
Ansel pun menatap wajah istrinya dengan raut penuh rasa cemas. Ia kini mulai mengingat semua yang telah dilihatnya di dalam mimpi, ketika Bella memanggil namanya dalam kondisi sakit di sel tahanan. "Aku melihat wajah Amma terlihat pucat dan terus memanggilku, Irene."
Perkataan Ansel membuat wanita itu langsung mendekap tubuh suaminya dengan erat dan mengusap pucuk kepala Ansel penuh kelembutan. Ia ikut merasakan kecemasan pria itu yang saat ini benar-benar terlihat kacau. "Kamu sabar ya sayang, bagaimana kalau besok pagi kita menemui Amma dulu? Soal keluarga aku, kamu tidak usah pikirkan, 'kan masih bisa lain hari. Gimana sayang? Lagipula bukankah kamu cerita sama aku, kalau kamu akan meminta bantuan kepada Tuan Benjamin." Perkataan Irene mengingatkan Ansel tentang hal yang sejak tadi terlupakan semenjak kedatangannya ke rumah kediaman ayahnya. Rumah yang sangat ia rindukan selama dirinya berada di Birmingham.
"Tidak sayang bukan itu alasannya. Kamu itu terlalu excited ketika kembali ke rumah ini, jadi kamu melupakan semua hal yang sedang kamu pikirkan. Itu mungkin karena kita berdua sedang larut dalam kebahagiaan, maka itu yang kita ingat hanya tentang aku dan kamu saja. Sudah ya, sekarang kamu tidak perlu memikirkan masalah itu dulu! Sebaiknya kamu bicarakan dengan Ayah dan ceritakan padanya tentang pesan yang kamu terima dari Amma." Irene mulai mengurai pelukannya dan menatap wajah suaminya yang masih terlihat sendu karena memikirkan kondisi ibunya di dalam sel tahanan.
__ADS_1
"Terima kasih ya sayang. Kalau begitu sekarang aku akan menemui Ayah dulu ya, apa kamu tidak masalah, jika aku tinggal sendirian?" tanya Ansel yang mulai kembali tenang, setelah tadinya ia begitu kacau dengan pikirannya yang tak karuan.
"Tidak apa-apa sayang, tapi apa aku boleh menemui Amma Dyra dan Cassandra selagi kamu menemui Ayah?"
"Tentu sayang, kamu pasti bosan ya di kamar terus. Lagipula kita juga 'kan sebentar lagi akan makan malam bersama Ayah dan Amma, sebaiknya kita keluar dari kamar untuk menemui mereka!" Ansel pun mulai menuntun sang istri untuk bangkit dari ranjang dan keduanya pun memutuskan untuk membasuh wajah mereka sebelum keluar dari kamar.
"Amma, maafkan aku yang sempat melupakanmu, tapi aku janji besok aku akan menemuimu dan aku pasti bisa membebaskanmu karena aku sangat yakin jika Amma tidak bersalah," batin Ansel sambil terus melangkah bersama Irene menuju bathroom.
... 🌺🌺🌺...
__ADS_1
Bersambung ✍️