
Apa itu vote? Vote adalah suatu penghargaan atas karya yang telah kalian baca ini untuk penulisnya. Jadi jika kalian suka dengan novel ini, yuk vote sebanyak-banyaknya..
Selamat membaca!
Sudah satu jam berlalu, waktu yang cukup lama bagi Ansel menghabiskan waktu sendirian di dalam kamar. Hatinya berdecak kesal, karena tak sabar menunggu kedatangan Irene membawakan makanan untuknya.
Tak lama suara pintu terbuka, membuat Ansel mulai menyadari ada seseorang yang datang masuk ke kamarnya.
"Irene, apakah itu kamu?" tanya Ansel mengeraskan suaranya.
"Iya Ansel, maaf aku terlalu lama," jawab Irene sambil menutup pintu kamar itu kembali, dengan napas yang tersengal-sengal.
"Kenapa kamu bisa selama ini, Irene?" tanya Ansel kesal.
"Maafkan aku Ansel, tadi aku harus naik turun angkutan umum demi mencari tempat agar aku bisa menjual ponselku dulu, baru aku bisa membelikan makanan untukmu." Irene menjabarkan pengalamannya dengan singkat, berharap Ansel mau mengerti keterlambatannya.
"Kenapa kamu harus pakai acara jual ponsel segala? Pantas saja lama." Ansel semakin kesal seolah tak menerima segala alasan yang telah diutarakan oleh Irene.
Irene terlihat geram, namun ia tetap coba bersabar dalam menghadapi sikap Ansel yang semakin lama, benar-benar semakin egois.
"Kalau aku tidak menjual ponselku, darimana aku bisa mendapatkan uang untuk membeli makanan ini!" Irene dengan lantang coba membela dirinya, hingga membuat Ansel tersentak tak percaya.
Irene menarik napasnya dalam, lalu coba mengaturnya agar lebih tenang dan tak lagi terengah-engah. Sementara itu Ansel hanya terdiam, mencerna perkataan yang terlontar dari mulut wanita itu. Walau ia tak melihat mimik wajah Irene yang saat ini ada dihadapannya. Namun dari suaranya, Ansel dengan jelas mengetahui bahwa wanita itu telah melalui perjalanan yang berat, hingga membuat napasnya terdengar kelelahan.
Irene meletakkan satu kantong yang berisikan dua paket makanan di atas nakas, satu untuk Ansel dan satu lagi untuknya. Makanan yang dijual di restoran harganya cukup mahal, hingga menghabiskan setengah uang hasil penjualan ponselnya.
"Cepatlah suapi aku! Kamu ini selalu saja membuatku kesal, bisa-bisa aku mati kelaparan karena menunggumu!" umpat Ansel tanpa memikirkan rasa lelah yang Irene rasakan.
Irene hanya bisa pasrah dengan perkataan yang Ansel lontarkan padanya. Ia memilih untuk segera duduk di tepi ranjang dan bersiap untuk menyuapi suaminya makan. "Ayo duduk dan buka mulutmu!"
Ansel pun menuruti apa yang telah Irene katakan padanya, ia kini sudah duduk dengan tegap, lalu mulai membuka mulut untuk bersiap menerima makanan yang telah Irene sodorkan ke arah mulutnya.
__ADS_1
Suapan pertama sudah masuk ke dalam mulut Ansel, rasa nikmat seketika membuat raut wajah Ansel yang tadinya masam menjadi lebih cerah berbinar dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
"Hem, makanannya enak juga. Aku suka menu ini." Ansel melahap rakus makanan yang berada dalam mulutnya.
Irene yang melihat expresi wajah Ansel langsung tersenyum puas, terlebih setelah mendengar ucapan Ansel yang ternyata menyukai makanan yang telah ia beli.
"Bilang makasih dong sama aku," pintanya dengan suara manja.
"Tidak mau! Ini kan memang sudah menjadi tugasmu untuk melayaniku, sesuai dengan permintaanmu pada Dyra yang ingin merawatku," kilah Ansel menolak.
"Ya sudah nggak apa-apa, kalau kamu tidak mau bilang terima kasih, yang penting kan kamu menyukainya. Setidaknya jerih payahku tidak sia-sia." Irene menarik kedua sudut bibirnya, hingga membentuk sebuah senyuman kecil di wajahnya.
Irene pun terdiam, untuk fokus dengan gerakan tangannya dan terus menyuapi Ansel sampai habis.
Saat suapan terakhir, Irene menoleh ketika suara ketukan pintu mulai terdengar di telinganya. Tak lama pintu kamar yang memang tidak terkunci itu pun terbuka.
Irene menatap sosok Darren dan Owen yang tampak berdiri di ambang pintu. "Hai Ayah, silakan masuk!" ucap Irene sambil mengembangkan senyum manisnya, menyambut kedatangan Darren.
Irene menautkan kedua alisnya, sambil mengedarkan pandangan mata untuk mencari keberadaan Dyra yang tak terlihat datang bersama Darren. "Ayah, apa Amma tidak ikut bersamamu?" tanya Irene penasaran.
"Oh seperti itu. Oh ya, apa Ayah lapar biar aku belikan makanan untuk kalian?" tanya Irene menawarkan kepada mertuanya.
"Tidak perlu, Irene. Saya dan Owen hanya sebentar karena harus segera pergi ke kantor. Saya hanya ingin memastikan keadaanmu dan Ansel baik-baik saja."
Ansel tidak suka mendengar keakraban sang ayah dengan wanita yang masih dibencinya, hingga ia segera memotong pembicaraan Darren bersama Irene.
"Ayah, aku bosan berlama-lama di rumah sakit. Kapan aku boleh pulang?" tanya Ansel sembari merengek manja.
Darren pun melangkah maju untuk sampai didekat Ansel. "Nanti akan Ayah bicarakan pada dokter ya. Sekarang nikmati dulu hari-harimu di rumah sakit. Tenang saja, di sini ada istrimu yang akan menjaga dan merawatmu dengan sepenuh hati, walau kamu terlampau batas telah menyakitinya!"
"Ingat Ansel! Anggap kecelakaan yang kemarin menimpamu adalah teguran dari Tuhan, karena kamu telah menyakiti istri sebaik Irene dan ini sebagai hukuman untuk kamu karena telah memperkosa Irene hanya demi sebuah mobil. Sekarang lihatlah! Mobil hasil taruhanmu hancur, sampai kamu menjadi buta."
__ADS_1
Ansel tersedak salivanya sendiri, seketika ia menjadi gugup dengan rasa takut yang sudah memenuhi isi kepalanya.
"Akhirnya Ayah tahu juga soal kebohonganku, walau sebenarnya aku sudah menduga bahwa suatu hari nanti Ayah akan mengetahui semua rahasiaku. Ini pasti karena Ayah menugaskan Owen untuk menyelidiki semuanya," gumam Ansel semakin takut bila Darren akan menarik semua fasilitas mewahnya, yang sudah ia nikmati selama ini.
"Tapi karena kondisimu seperti ini, Ayah jadi tidak memberikanmu hukuman, maka itu bersikap baiklah terhadap istrimu!" sambung Darren sambil mengecam kelakuan Ansel terhadap Irene, dengan nada suara yang penuh penekanan.
Irene yang mendengar semua perkataan yang terlontar dari mulut Darren, menjadi sangat lega, hingga membuat manik matanya seketika langsung berkabut dipenuhi oleh bulir kesedihan.
"Akhirnya Ayah sudah tahu semuanya, aku sangat bersyukur. Terima kasih Tuhan," batin Irene penuh haru.
πππ
Mobil yang Dyra kendarai sudah memasuki pelataran kampus. Setelah memarkirkan mobilnya, ia pun keluar dan mulai melangkah memasuki lobi.
Namun tiba-tiba seorang pria datang menghampiri dari arah samping, yang membuat Dyra menghentikan langkah kakinya.
"Halo Nona cantik, apa kabarmu hari ini?" tanya seorang pria sambil menyodorkan buket bunga kehadapan Dyra.
Dyra pun menoleh ke arah pria itu yang ternyata adalah Bian Oryza seorang dosen yang telah mengkhianati cinta Dyra, hingga hubungan keduanya harus berakhir 3 tahun yang lalu. Butuh waktu satu tahun untuk Dyra dapat membuka hatinya, hingga ia dapat menjalani hubungan yang baru dengan Ansel. Walaupun kedua hubungan itu sama-sama berakhir dengan sebuah pengkhianatan.
"Maaf, tapi aku tidak mau menerima bunga ini!" ketus Dyra mengabaikan bunga yang diberikan oleh mantan kekasihnya itu.
Dyra pun memilih untuk terus melanjutkan langkahnya yang terhenti dan berlalu meninggalkan Bian yang terlihat kecewa dengan penolakan Dyra.
"Padahal sudah 3 tahun, kenapa kamu masih belum bisa memaafkanku?" tanya Bian dalam hatinya dengan raut wajah yang masam.
πΈπΈπΈ
Bersambung βοΈ
Berikan komentar kalian ya.
__ADS_1
Terima kasih banyak atas dukungan kalian, maaf akhir-akhir ini pekerjaan sangat padat, jadi up cuma bisa satu episode ditambah kemarin itu habis sakit.
Doakan author ya untuk bisa crazy up lagi.