Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Bertahan


__ADS_3

Selamat membaca!


Di dalam mobil, Ansel sedang menghubungi ketiga sahabatnya yang sudah tiba di bandara terlebih dahulu, dengan menggunakan wireless yang dikenakan di telinganya. Ansel sengaja tak menggunakan jasa sopir pribadi dan memilih untuk mengendarai sendiri, karena ia tak ingin kepergiannya kali ini diketahui oleh Darren ayahnya.


"Halo brother semua! Gue lagi di jalan nih menuju bandara, sorry telat sedikit tadi ada pengganggu yang coba protes dengan kepergian gue," ucap Ansel pada sambungan teleponnya.


"Emang siapa yang berani ngelarang, seorang Ansel untuk melakukan apapun yang diinginkannya, selain ayah lu?"


"Justru itu, sekarang gue bisa tenang, karena Irene udah gue ancam, jadi dia pasti akan tutup mulut dan nggak akan bocorin kepergian gue ini, karena kalau sampai Ayah gue tahu, pasti gue nggak akan diizinin nih untuk pergi sama kalian."


"Nah, justru itu, jangan sampailah. Nanti liburan kita nggak akan seru tanpa ada lu."


Kedua sahabatnya yang lain terlihat berbisik mendengar Marvel mengatakan hal tersebut kepada Ansel.


"Iyalah, kalau nggak ada Ansel, siapa yang biayain liburan kita di sana," bisik Davis di telinga Reiner yang saat ini hanya cengengesan.


"Nah itu betul banget bro, anak sultan mah bebas kita manfaatin," sambar Marvel sambil menjauhkan teleponnya sejenak, agar Ansel tak dapat mendengar perkataannya.


"Ya udah buruan, gue tunggu di bandara!" sambung Marvel.

__ADS_1


"Oke deh, gue sebentar lagi sampai. Paling setengah jam lagi gue udah di bandara." Ansel mengakhiri sambungan teleponnya, ia lalu melepaskan wireless dan meletakkannya di atas dashboard.


Namun tiba-tiba saja, saat pandangannya lengah tak melihat traffic light di depannya, yang sudah menunjukkan warna merah, sebuah truk dari arah sebelah kanan, melaju dengan kecepatan tinggi dan langsung menabrak mobil yang Ansel kendarai. Mobil mewah itu pun terseret beberapa meter sebelum akhirnya terhenti.


Ansel seketika tak sadarkan diri dengan darah yang mulai bercucuran dari kepalanya, akibat benturan keras yang membuat mobil mewahnya menjadi rusak parah.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Sementara itu Irene kini terlihat sedang berada di kamarnya. Ia sedang bersiap untuk pergi ke bar tempatnya bekerja, tempat yang menjadi saksi pertemuan pertamanya dengan Ansel. Raut wajah Irene tampak sendu tak bercahaya, tubuhnya begitu lemah sampai ia tak sengaja menjatuhkan sebuah gelas yang sedang digenggamnya. Irene memang tampak pucat, karena ia baru saja memuntahkan sarapan pagi yang telah di makannya tadi.


"Rasanya aku tak bertenaga sekali untuk keluar rumah, tapi saat ini aku membutuhkan uang untuk membayar kuliahku. Aku harus kuat dan kembali bekerja, lagipula aku juga belum mengambil uang gajiku yang bulan kemarin." Irene mengesah kasar, ia tak berhenti untuk terus menyemangati dirinya sendiri di depan cermin.


"Agak sesak sih pakai celana ini," keluh Irene sambil melonggarkan celana jeans yang saat ini sudah dikenakannya.


Irene mengusap perutnya dengan perlahan, saat ini raut wajahnya benar-benar merasa bersalah. Namun ia tak punya pilihan lagi, selain melakukan semua ini.


"Maafin Mama ya sayang, karena Mama harus pakai celana jeans dulu hari ini, karena Mama harus kembali bekerja, tapi kamu tenang saja, nanti malam Mama akan pakai dress, biar kamu tidak merasa kesempitan di dalam sana." Irene terus mengusap perutnya, dengan wajah yang menunduk, agar dapat melihat perutnya yang sudah tak seramping dua bulan lalu.


Irene masih nyaman berkomunikasi dengan buah hatinya. Walau Ansel sebagai ayah dari anak yang dikandungnya, masih belum menganggapnya. Namun bagi Irene kehamilan pertamanya ini sangatlah berarti dan begitu berharga untuk dirinya, karena dalam 7 bulan ke depan, ia benar-benar akan merasakan, bagaimana rasanya menjadi seorang ibu.

__ADS_1


"Oh ya, sayang, mulai hari ini kita harus jadi tim kerja yang baik ya. Mama mohon banget, selama Mama bekerja, kamu tidak boleh rewel di dalam sana, agar Mama tidak mual dan muntah-muntah lagi. Kita harus rahasiakan ini dari bos Mama, agar Mama tetap bisa bekerja, bukan hanya untuk membayar kuliah Mama, tapi juga untuk biaya check up ke dokter kandungan. Mau bagaimanapun Mama juga ingin selalu memantau perkembanganmu."


Setelah puas berbincang dengan calon bayi yang berada di dalam perut, kini Irene menaikkan celana yang sudah dikenakan, agar menutupi sebagian perutnya. Setelah itu wanita berparas cantik itu, meraih tas yang sudah ia letakkan di atas ranjang, untuk dilingkarkan pada tubuhnya.


Namun di saat Irene hendak keluar dari dalam kamar, tiba-tiba sosok Ansel terlintas di dalam pikirannya, membuat raut wajahnya seketika berubah menjadi sendu.


"Ya Tuhan, aku mohon buatlah suamiku cepat menyadari tentang pentingnya arti kehadiran kami, sebelum aku tak mampu lagi bertahan, menahan rasa sakit atas semua sikapnya," batin Irene penuh harap.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambungโœ๏ธ


Berikan komentar kalian ya.


Terima kasih banyak.


Maaf ya hari ini baru up soalnya real life dua hari ini sibuk banget.


Happy weekend semua

__ADS_1


Jangan lupa sempatkan diri kalian untuk vote dan like ya.


__ADS_2